Mohon tunggu...
Ali Hasan Siswanto
Ali Hasan Siswanto Mohon Tunggu... -

Pengamat politik dan penikmat Moralogi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Selubung Harapan Tertinggi Manusia

7 Maret 2017   20:59 Diperbarui: 7 Maret 2017   21:02 264 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Setiap manusia memiliki harapan yang ingin dicapai. Dengan adanya harapan, manusia mampu menjalani setiap proses. Namun setiap jalan proses menuju harapan tidak selamanya mulus, tetapi banyak kerikil tajam yang harus dilalui, dan tidak jarang sampai berdarah darah. Jalan menuju harapan terbentang dua arah jalan yang bisa ditempuh yaitu jalan kebenaran dan jalan kemunkaran. Terserah pada setiap individu manusia mau memilih jalan yang mana, namun yang perlu diingat jalan kebenaran akan mengantarkan pada kemuliaan tidak hanya disisi manusja tetapi disisi Allah juga akan mulia. Begitu juga sebaliknya jalan kemunkaran akan mengantarkab manusia menjadi hina di hadapan manusia, begitu juga di hadapan Allah. Apapun jalan yang ditempuh oleh manusia akan bertemu dengan dua masa yaitu masa lapang dan masa sempit. 

Harapan merupakan arti dari kata "raja'" dalam bahasa arab. Raja adalah ma yahshulu fi al-istiqbal (segala sesuatu yang akan dicapai di masa yang akan datang). Tentunya hatapan yang ingin dicapai adalah sesuatu yang dapat membuatnya bahagia, damai dan tenang dalam meniti setiap jengkal kehidupannya. Pada taraf inilah manusia menentukan setiap jalan yang akan dilalui dan tentunya yang dirasa benar dan dapat melancarkan menuju harapan.

Harapan yang dimiliki setiap manusia berbeda-beda. Namun dapat kita lihat melalui maqam "raja'". Maqam raja' selalu diartikan denhan man kana yarju, siapapun yang berharap, dan tentunya manusia yang memiliki harapan. Maqam raja yang pertama dan paling bawah adalah maqam " tijaratan lan tabur'. Maqam yang mengisyaratkan bahwa manusia yang melakukan sesuatu diukur seperti transaksi perdagangan. Layaknya orang berdagang, manusia dj maqam ini selalu mencari keuntungan dari setiap perbuatan yang dimiliki. Seperti orang yang tekun beribadah minta keharusan sukses dan kaya dalam kehidupannya, baik sama orang menuntut orang lain berbuat baik. Tidak hanya transaksi duniawi tetapi juga traksaksi ukhrawi dilakukannya. Orang sering ibadah kepada Allah dan baik kepada sesama manusja harus dimasukkan ke dalam surga, begitu juga sebaliknya orang yang berbuat jelek selalu dituntut ke jurang api neraka. Hal inilah yang menyebabkan manusia selalu mengatur Allah berdasarkan standart perbuatannya. Maqam ini adalah maqam paling rendah, karena hanya memikirkan dirinya sendiri tidak pernah total dalam penghambaannya.

Maqam raja kedua adalah "Yarju Rahmatan Rabbih". Manusia yang mengharap rahmat Allah baik di dunia maupun di akhirat nanti. Setiap proses yang dilakukan manusia biasanya identik dengan kebaikan dan kebenaran baik kepada Allah maupun kepada manusia. Namun kebaikan yang dilakukannya hanya semata-mata mengharapkan Allah untuk mengasihi dan menyayangi dirinya. Pada taraf ini, manusia dalam maqam ini hanua mendapatkan rahmat Allah di dunia dan akhirat. Banyak orang yang sukses karena kasih sayang Allah di dunia maupun diakhirat tetapi maqam ini hanya sekedar memperoleh rahmat tidak sampai bertemu dengan Allah. Padahal bertemu dengan Allah adalah harapan terbesar manusia, jangankan bertemu Allah, bertemu dengan tajallinya saja tidak bisa. Karena yang mereka harap hanyalah rahmat Allah. 

Maqam yang ketiga adalah " Yarju Liqa'a Rabbih". Berharap untuk bertemu Tuhannya. Orang yang berharap bertemu dengan Tuhannya selalu Mujahadah dalam melakukan kebaikan. Seperti tersurat dalam alqur'an "fa al-ya'mal 'amalan sholihan wa la yusrik bi 'ibadati rabbihi ahada" manusia di maqam ini selalu bersungguh sungguh dalam melakukan perbuatan yang baik seperti yang telah diatur dalam ketentuan yang ada dalam al-qur'an, begitu juga dengan menjauhkan diri dari kesyirikan, karena sekecil apapun bentuk kesyirikan akan menutup jalan menuju Tuhannya. Namun maqam ini masih sebatas usaha yang belum tentu sampa menuju keda Tuhannya. Pada taraf inilah, manusia hanya melakukan kebaikan dengan sebaik-baiknya da tidak menyekutukan Tuhannya. Manusi di jalan ini memiliki kepasrahan yang sangat baik, karena hanya melakukan kebaikan yang belum pasti bertemu dengan Tuhannya. 

Maqam raja keempat adalah "Yarju Allah". Mengharap bertemu Allah melalui berbagai proses, baik proses tajalliyat, tasahhud dan tahallul. Disini manusia masih berada dalam taraf musahadah. Pada maqam ini manusia memiliki kesadaran bahwa untuk masuk dalam dunia musahadah harus membersihkan dirinya dari seluruh persoalan-persoalan duniawi. Pada taraf inilah, mampu menyaksikan Allah tetapi tidak langsung bertemu dengan Allah, mengenal Allah tetapi Allah belum tentu mengenal dirinya. 

Maqam raja yang tertinggi adalah" Liqa Allah", bertemu dengan Allah. Manusia dalam maqam ini adalah manusia (mendekati) paripurna, manusia yang menganla Allah yang paling penting Allah juga mengenalnya sehingga manusia bertemu dengan Allah tidak melalui tajalliyat, tasahhud dan tahallul tetapi bertemu dengan dhat Allah secara langsung. Harapan ini merupakab harapan tertinggi manusia untuk dicapainya. Pada taraf inilah manusia menggapai kebahagiaan, kedamaiaan dan ketenangan sejati. 

Manusia adalah makhluk Allah yang hidup di bumi, namun manusia berusaha mencapai harapan tertinggi dalam kehidupannya yaitu bertemu dengan dhat Allah. Setelah manusia mencapai pada harapan tertinggi itu, pertanyaan yang muncul adalah apa yang dicari manusia sebagai bekal untuk "turun" kembali menjadi manusia yang berpijak di bumi?. Manusia setelah mencapai pada tingkat tertinggi akan mencari kebijaksanaan sebagai bekal menapaki kehidupan di bumi. Sesuatu yang dicari dan bekal manusia adalah "Mathlab al-Arifun Mina Allah", mencari kearifan dan kebijaksanaan dari Allah. Dengan kearifan dan kebijaksaan Allah, manusia akan menjadi lebih baik dan membawa kebaikan bagi seluruh alam semesta. 

Kearifan dan kebijaksanaan Allah akan mengantarkan manusia menapaki jalan taraqqi yaitu naik menuju Allah untuk menuju kebenaran ibadah "Shidqu Fi al-Ubudiyah". Shidqu Fi al-Ibadah adalah " Wahdah Fi al-Kasrah" yaitu satu-satunya dalam banyak. Beribadah dengan benar kepada Allah, seperti tercermin dalam " Iyyaka Na'budu". Hanya kepadamu kami menyembah. Hal ini merupakan kalimat yang mengkhususkan hanya kepada Allah sebagai sesembahan. Pada taraf ini, manusia berada di dalam satu-satunya dalam banyak.

Setelah mencapai pada ketinggian maka manusia akan menapaki jalan menurun dengan tanazzul menuju kerumunan manusia yang hidup di muka bumi ini. Disini manusia berada pada posisi "al-Qiyam Bi al-Huquqi al-Rububiyah", posisi " Wahdah Fi al-Kasrah". Pada taraf ini manusia bersama Allah turun ke alam bumi untuk mencipta kehidupan Rahmatan Lil 'Alamin. 

Berpijak dari pemahaman diatas, manusia harus tetap menjaga suasana mujahadah, muhadarah, muraqabah dan musahadah dalam kehidupan kesehatiannya.

 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan