Mohon tunggu...
Alif Syuhada
Alif Syuhada Mohon Tunggu... Penulis - Blogger

https://alifsyuhada.com/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Penguatan Budaya Agraris sebagai Strategi Regenerasi Tani Indonesia

22 Mei 2019   07:44 Diperbarui: 22 Mei 2019   07:47 321
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagi anak desa yang mengenyam pendidikan kuliah, hampir dipastikan mereka selepas menjadi sarjana tidak akan mau bertani. Mereka akan memilih menjadi pegawai birokrasi di berbagai instansi negeri atau swasta. Mereka pun kembali ke kota untuk bekerja hingga hidup berkeluarga. Desa pun akhirnya sunyi, sepi, dan hanya berisi kuburan kelak bagi mereka yang pergi merantau.

Beberapa diskusi digelar untuk membahas krisis regenerasi tani. Salah satunya adalah diskusi bertema "Modernisasi dan Krisis Regenerasi Petani di Pedesaan" yang digelar oleh Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI (Headline Harian Umum Solopos Edisi 22 September 2016). Para narasumber mengungkapkan presepsi umum pemuda tentang profesi tani tidak menarik. Petani identik dengan bodoh, kotor, miskin, dan tidak modern.

Bagi pemuda, pertanian adalah pekerjaan yang membutuhkan tenaga berlebihan. Mereka lebih meminati sektor jasa dan industri bekerja nyaman di kantor. Bahkan sarjana pertanian pun lebih suka menjadi pegawai bank, ASN, maupun perusahaan swasta.

Presepsi negatif terhadap pertanian itu terus beranak pinak dan menyebar hingga menggerus jumlah petani kita. Kehancuran citra petani pun semakin tak tertolong dengan model pendidikan dan budaya industri yang membentuk citra manusia kota. 

Lantas apakah kita hanya membiarkan hal ini bergulir? hingga investor menguasai semua lahan-lahan pertanian kita yang sepi dan memboyong semua penduduk Indonesia ke kota?

Petani Hilang Sejak dalam Fikiran

Tergerusnya generasi tani berkaitan erat dengan terhapusnya imaji manusia tani dalam fikiran dan jiwa pemuda. Hal ini adalah efek dari dominasi budaya dan pendidikan yang berwatak industri. 

Jiwa anak layaknya selembar kertas putih itu hanya dicetak gambar manusia kota oleh buku pelajaran atau tayangan di televisi. Sebab itu, membangun imaji tentang tani pada jiwa pemuda menjadi langkah penting untuk membangun regenerasi tani.

Penyusutan generasi tani telah direspon oleh pemerintah. Kementrian pertanian (Kementan) telah menanggapi permasalahan nasional itu dengan mengadakan program regenerasi petani milenial. 

Upaya itu seperti dalam acara Launching Santri Tani Milenial di Desa Kamulyaan, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya pada Jumat 26 Januari 2019 (www.pertanian.go.id).

www.pertanian.go.id
www.pertanian.go.id

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun