Mohon tunggu...
Alifiano Rezka Adi
Alifiano Rezka Adi Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Mahasiswa Arsitektur FT UGM Yogyakarta, yang slogannya better space better living, ayoo hidupkan ruang disekitar kita biar dunia ini lebih berwarna :DD

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Infrastruktur dan Transportasi sebagai Pendukung Konsep Kampung Vertikal

13 Juni 2015   08:35 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:04 791
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pembangunan rumah susun ke depan menjadi sebuah prioritas yang sudah banyak dibangun pada beberapa tahun terakhir ini. Berbagai tipe rusun berdasarkan luas, jumlah unit, tampilan, dan peruntukan dibangun untuk mengakomodasi kebutuhan ataupun
golongan masyarakat yang sangat heterogen. Secara lebih luas, pembangunan rumah susun secara masif ke depan diyakini dapat memperbaiki banyak aspek sekaligus pada saat yang bersamaan.

Masyarakat luas tentu berpikiran bahwa pembangunan rusun akan paling berdampak pada kehidupan sosial masyarakat ataupun penghuni rusun itu sendiri. Sebagian besar masyarakat Indonesia sejak dahulu sudah terbiasa dan mapan tinggal pada landed house atau bangunan tempat tinggal tingkat rendah (1 atau 2 lantai). Bila tiba-tiba mereka semua berpindah ke rumah susun, tentu saja akan sangat mempengaruhi kondisi psikologis, kehidupan sosial dan pola pikirnya, dari horizontalisasi ke vertikalisasi.

Namun sebenarnya yang jauh lebih penting adalah isu lingkungan yang nyata-nyata berdegradasi dari masa ke masa. Efek global warming yang ada sekarang ini tidak bisa dibantah merupakan akibat kualitas lingkungan yang terus memburuk. Global warming
identik dengan panas, dan menurut penelitian bangunan dan hunian menyumbang panas dalam jumlah yang sangat besar dan tentu mempengaruhi panas secara global. Jika dilihat sudut pandang ilmu lingkungan, hunian vertikal, dalam bentuk rusun, kondominium, ataupun apartemen menjadi solusi jangka panjang yang rasional untuk mengurangi kepadatan hunian yang ada saat ini. Dengan begitu sebagian besar permukiman padat yang ada sekarang direlokasi sehingga dapat menciptakan lebih banyak ruang terbuka hijau yang ekologis.

Namun kedepan, pengembangan rumah susun perlu memperhatikan faktor lain selain kebutuhan hunian saja. Rusun yang secara arsitektural berbeda dengan landed house perlu mempertimbangkan aspek infrastruktur yang cocok untuk jenis hunian vertikal ini. Salah satu infrastruktur yang cukup penting dari rusun adalah ruang terbuka. Selama ini ruang terbuka sering dipahami sebagai lahan terbuka kosong yang dapat tanami pepohonan ataupun taman. Bangunan dengan KDB 60% misalnya akan mampu menyediakan ruang terbuka sebesar 40% dari luas lahan yang ada. Namun tidak sebatas itu saja, ruang terbuka yang dimaksud adalah ruang terbuka yang bersifat komunal, dapat menjadi media warga berkumpul, bersosialisasi, ataupun berekreasi. Keberadaan ruang terbuka ini harus terintegrasi dengan rancangan rumah susun sehingga warga nyaman dalam mengakses dan mengoperasionalkan ruang terbuka tersebut.

Beberapa konsep baru bahkan mengintegrasikan ruang terbuka dalam bangunan rusun itu sendiri. Jika biasanya ruang terbuka rusun hanya tersedia di lantai dasar saja, maka yang satu ini terdapat di beberapa lantai dekat dengan unit kamar penghuni rusun, tentu ruang terbuka dengan dimensi yang sudah disesuaikan. Rancangan seperti ini memang jauh lebih kompleks dari rusun pada umumnya, namun secara konsep lebih matang dan mampu lebih menjawab isu sosial. Ruang-ruang terbuka tersebut lebih ‘tanpa batas’ dengan tempat warga tinggal dalam rusun. Ruang-ruang terbuka pada titik tertentu misalnya dapat menjadi tempat warga dalam 1 RT berkumpul, ataupun melakukan kegiatan atau event tematik antar komunitas dalam sebuah rumah susun. Tidak hanya ruang terbuka, infrastruktur lain seperti pertokoan, sarana edukasi, perpustakaan, tempat peribadatan juga
dibangun dalam satu bangunan yang sama sehingga mampu mengakomodasi kebutuhan sehari-hari warga dengan mudah dan terjangkau (mixed-use development). Inilah yang kemudian mendasari konsep kampung vertikal, bukan hunian vertikal, dimana
kehidupan sosial warga tetap terjaga meskipun dalam ruang dan sistem yang berdiri secara vertikal.

Selain infrastruktur terkait ruang terbuka, masalah transportasi tidak kalah penting untuk dipertimbangkan dalam pengembangan rusun nantinya. Transportasi perkaitan dengan masalah tempat parkir, lalulintas sekitar kompleks rusun, ataupun akses transportasi publik ke kompleks rusun. Masalah transportasi menjadi tidak sesederhana yang dibayangkan. Jika kita membayangkan beberapa tahun ke depan ketika rusun sudah ada dimana-mana dan kepadatan bangunan sudah longgar, belum tentu juga jumlah kendaraan akan berkurang. Rusun dengan ruang terbuka dan parkir yang luas bisa saja mendorong penghuni berganti dari motor ke mobil, atau yang sebelumnya tidak punya kendaraan lalu membeli motor. Apakah rusun menjadi penyebabnya? Bisa iya bisa tidak, namun yang jelas transportasi yang bermobilisasi di sekitar rusun perlu dipertimbangkan dengan akses yang terintegrasi dengan rusun itu sendiri.

Pengembangan transportasi publik terintegrasi dengan rusun juga menjadi pertimbangan dalam pengembangan selanjutnya. Kita perlu berasumsi dan mengupayakan bahwa ke depan, mobilisasi warga keluar dan kedalam kompleks memanfaatkan jasa transportasi
publik, tidak lagi terlalu mengandalkan transportasi pribadi. Dengan begitu kepadatan dan polusi sekitar kompleks rusun juga akan terkendali. Di beberapa negara, pengembangan kawasan residensial dan fasilitas sekitarnya diintegrasikan dengan sistem transit yang dikenal dengan istilah transit oriented development (TOD). Sistem transit ini memungkinkan masyarakat dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan lebih murah dan mudah. Ini karena sistem TOD selalu terkoneksi ke setiap tempat-tempat tujuan utama dalam sebuah kota. Konsep ini sudah banyak dikembangkan untuk tercapainya lingkungan kota yang humanis dan ramah lingkungan. Apakah di daerah kita bisa dan layak dibangun seperti itu? Tidak ada salahnya berasumsi, yang penting kita patut berpikir maju dan optimis untuk perbaikan lingkungan kita juga.

Pengembangan rumah susun atau kampung vertikal menjadi salah satu upaya memperbaiki masalah lingkungan ataupun sosial yang ada sekarang. Namun aspek-aspek lain perlu juga dipertimbangkan seperti infrastruktur dan transportasi. Perlu adanya kesepahaman antar praktisi, bidang dan institusi karena kompleksitas dalam pengembangan kawasan tersebut tidak bisa hanya ditangai satu ahli tertentu saja. Pasti sudah ada ribuan teori dan konsep cerdas tentang smart city, compact city, sustainable urban form, vertical village yang semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu menciptakan ruang yang lebih baik dan nyaman untuk manusia. Tentu sebagian besar akan mengubah apa yang ada sekarang. Baik masyarakat ataupun pengambil kebijakan harus lebih pintar dalam menyikapinya, harus dapat beradaptasi dengan konsep perbaikan yang ada, dan mengedepankan pembangunan yang berkelanjutan.

 

Salam GO GREEN ! ! !

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun