Mohon tunggu...
Ali Arief
Ali Arief Mohon Tunggu... Seniman

Saya berasal dari Kota Medan...berkarya dan berkreativitas dibutuhkan kemauan dan keyakinan untuk tetap konsisten di jalur kejujuran dan kebenaran...tetap belajar memperbaiki diri...

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Tujuh Cendikia di Masa Pandemi (Baktimu di Hari Guru)

22 November 2020   21:08 Diperbarui: 24 November 2020   18:29 21 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tujuh Cendikia di Masa Pandemi (Baktimu di Hari Guru)
(Gambar: Pinterest/pin)

Linda, Vie, Raihanul, Rika, Rahmati, Afriani, dan Arief, mereka bertujuh merupakan sosok pejuang yang pantang menyerah. Di masa pandemi pun tetap berusaha melakukan hal terbaik untuk mencerdaskan generasi bangsa, meskipun mengancam kondisi kesehatan bahkan nyawa pun dikorbankan. Ketujuh orang yang berprofesi sebagai tenaga pendidik tersebut berasal dari berbagai daerah yang berbeda-beda. 

Linda yang berasal dari kota Banda Aceh, mampu mengayomi anak didiknya dengan sikap keibuannya dan suara yang khas seakan menghipnotis peserta didik untuk terus semangat menuntut ilmu pengetahuan. 

Vie Salma bertugas di daerah yang masih sangat kental dengan adat budaya, serta menyimpan keindahan panorama alam yang eksotis, merupakan sosok guru yang memiliki bakat di bidang seni peran sehingga dengan kemampuan yang dimilikinya, dapat memupuk rasa percaya diri peserta didiknya untuk selalu tampil berani di hadapan siapa pun. Raihanul, selain sosoknya yang selalu tersenyum ramah dan akrab dengan anak didiknya, ia juga dikenal sebagai guru yang disiplin. 

Ia berasal dari daerah Aceh Barat Daya (Abdya) yaitu daerah yang memiliki begitu banyak keanekaragaman sumber daya alam laut, pertanian, dan hasil perkebunan yang sangat melimpah. Selain itu, Aceh Barat Daya yang sering dikenal dengan daerah Blangpidie, merupakan daerah yang kental dengan tarian rapai geleng hingga terkenal ke kancah dunia internasional.

Lain halnya dengan Rahmati yang berasal dari daerah Aceh Besar, yang merupakan daerah kabupaten tidak jauh dari ibukota provinsi Aceh, yaitu Banda Aceh. 

Sosok Rahmati dikenal sebagai seorang guru yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya. Kinerja dan pengabdiannya dalam dunia pendidikan tidak diragukan lagi. Dari mulai terbit fajar hingga menjelang sore hari dirinya masih berkutat pada lembaga tempatnya bertugas. 

Rika, sosok guru berasal dari daerah Kabupaten Aceh Tamiang yang merupakan daerah perkebunan kelapa sawit dan penghasil arang dengan ciri khas suku melayu, dan merupakan daerah yang dekat dengan daerah perbatasan provinsi Sumatera Utara. 

Dengan kepiawaian di bidang kuliner, sosok Rika dapat menjadi inspirasi bagi anak didiknya untuk tetap berjuang meraih cita-cita, dengan diimbangi kemandirian berwirausaha. 

Ada juga sosok Afriani yang berasal dari daerah Nagan Raya, daerah perbatasan Aceh Barat dengan potensi sumber daya alam pertanian, peternakan, dan perkebunan kelapa sawit yang sangat melimpah, sehingga apabila seluruh potensi sumber daya alam yang dimiliki daerah tersebut dapat dikelola dengan baik, maka kelak kehidupan masyarakatnya menjadi sejahtera. Tentunya motivasi serta kerja keras yang diberikan Afriani kepada anak didiknya, dapat dijadikan sebagai modal bagi generasi masa depan untuk bersungguh-sungguh dalam mencapai cita-citanya.

Satu dari ketujuh orang guru yang bukan putera daerah asal Aceh adalah Arief. Ia berasal dari kota Medan, provinsi Sumatera Utara. Ia bertugas di kota Lhokseumawe, daerah yang berdampingan dengan kabupaten Aceh Utara. Kota Lhokseumawe memiliki potensi sumber daya alam migas, seperti: PT Arun Gas, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Asean, dan Exxon Mobil yang menjadikan kawasan daerah tersebut dikenal dengan daerah 'petro dolar'-nya Aceh di tahun 80-an. 

Selain potensi migasnya yang sudah dikenal dunia, kota Lhokseumawe juga memiliki kisah yang tercatat dalam museum sejarah lokal di antaranya, cerita Putroe Neng, perjuangan ulama Teuku Cik Ditunong, Goa Jepang, dan beberapa objek wista yang tentunya menjadi daya tarik wisatawan domestik dan mancanegara. Melihat potensi yang sangat besar di kota Lhokseumawe, Arief berusaha semaksimal mungkin untuk mendidik generasi masa depan, meskipun kini perusahaan industri raksasa itu sebagian tidak aktif lagi. Memang bagi Arief, untuk bersosialisasi dan berdedikasi sebagai tenaga guru merupakan panggilan jiwa. Ia pun tidak merasa khawatir untuk terus memotivasi anak didiknya, agar dapat bersaing dengan pelajar-pelajar di sekolah yang lebih lengkap fasilitas sarana dan prasarananya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x