Sary Hadimuda
Sary Hadimuda Ibu rumah tangga

Sedang belajar membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Buku Etnografi Suku Moi, Adakah Dari Suku Yang Lain?

8 Januari 2013   14:30 Diperbarui: 24 Juni 2015   18:22 1368 0 2
Buku Etnografi Suku Moi, Adakah Dari Suku Yang Lain?
1357655080310017779

Kemarin malam saya menemukan buku yang saya cari-cari karena ada tugas dari dosen, yaitu buku Etnografi Suku Moi Kabupaten Sorong, Papua Barat. Buku yang saya beli 03 April tahun kemarin. Namun semenjak membeli buku ini, saya selalu bertanya-tanya. Apakah buku ini menarik dibaca oleh orang luar? Apakah orang yang di barat Indonesia sana mau membeli buku ini? Sementara suku Moi hanya merupakan satu dari 303 suku yang ada di Papua.

Buku ini ditulis oleh dua penulis, yaitu Stepanus Malak dan Wa Ode Likewati. Bapak Stepanus Malak saat ini adalah Bupati Sorong yang mendapatkan penghargaan Bupati terbaik tahun 2010. Sementara Ibu Wa Ode Likewati adalah pegawai negeri sipil di Kabupaten Sorong yang sekaligus merangkap sebagai dosen.

Kedua penulis menjelaskan secara rinci bagaimana kehidupan suku Moi beserta alam semesta di daerah Kepala Burung. Kehidupan yang dimaksud mulai dari sejarah suku Moi, bahasa,sistem mata pencaharian, adat istiadat, dan lain sebagainya.

1357655184279327658
1357655184279327658

Sebagai orang yang lahir dan besar di kota Sorong, tentu buku ini sangat menarik. Oh Ternyata suku Moi tidak hanya merupakan suku asli dari Sorong melainkan Raja Ampat juga. Oh Ternyata Marga suku Moi juga banyak sekali. Oh Ternyata membuat sagu caranya seperti ini. Dan masih banyak Oh-Oh lainnya.

[caption id="attachment_226792" align="aligncenter" width="300" caption="Mahar (mas kawin) suku Moi bukan emas dan berlian melainkan kain dan piring"]

1357655267386622187
1357655267386622187
[/caption]

Rasanya saya tidak perlu menjelaskan isi buku ini. Kembali lagi ke pertanyaan diatas. Apakah orang yang di barat Indonesia tertarik membaca atau bahkan membeli buku ini? Kalau orang yang haus akan wawasan, berapapun harganya, pasti akan tertarik dan membeli. Namun bagaimana dengan yang punya prinsip lain? Hadeh, mending beli novel!

Pertanyaan kedua, berapa banyakkah buku etnografi tentang suku seperti ini yang ada di Indonesia? Adakah buku Etnografi Suku Batak, Etnografi Suku Dayak, Etnografi Suku Toraja, atau Etnografi Suku Ambon? Atau jangan-jangan saya yang ketinggalan? Argh…

Saya selalu bertanya-tanya, mengapa suku Batak marganya banyak yang Si, Si,? Sihombing, Sihite, Sitompul, Simamora, Siahaan, Sitorus, Sibarani, Siagian, Sinaga? Atau mengapa marga orang ambon ada yang mirip-mirip Belanda? seperti teman saya Stephanie Van Harling. Van Harling itu darimana? (Belanda woi!!!) Iya, jelas Belanda seperti kapten Timnas Belanda, Robin Van Persie, tapi bagaimana prosesnya? Terus kalau orang ambon bilang terimakasih “Danke” Wah, sama kaya Jerman ya?

“Jah, GAPTEK..TEK… TEK.. buka mbah gugel semua ada., ga perlu cari bukunya lagi!”

Bukan masalah internet! Apa semua data yang di internet bisa diverivikasi?

Saya pribadi sangat berharap pemerintah memberikan buku-buku seperti ini gratis ke sekolah-sekolah maupun di Perguruan Tinggi. Sehingga menambah koleksi di perpustakaan. Saya kira tidak rugi walaupun ada seribu buku etnografi dari suku yang berbeda. Alhasil kita saling mengenal dan memahami kehidupan atau kebudayaan dari masing-masing suku. Jangan sampai kecele. Jangan sampai orang asing justru lebih tahu tentang Indonesia dibanding kita sendiri. Seperti tempat wisata, mbak Trinity (penulis The Naked Traveler) pernah kecele karena menemui orang asing yang lebih tahu tempat-tempat wisata di Indonesia. Ha? Tuh kan….

Sorong, 08 Januari 2013 (11.30pm)