Mohon tunggu...
Ziddan Alghifari
Ziddan Alghifari Mohon Tunggu... Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta '20

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Usia 25, Tonggak Awal Sebuah Perjuangan Kehidupan

16 Mei 2021   11:12 Diperbarui: 16 Mei 2021   11:17 103 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Usia 25, Tonggak Awal Sebuah Perjuangan Kehidupan
Ilustrasi orang cemas (sumber: palapanews)

Halo sobat, Kompasiana! Menjadi dewasa tidaklah mudah bagi semua orang. Penuh dengan ujian, cobaan, dan lika-liku kehidupan yang mau tidak mau, siap tidak siap harus dihadapi. Usia 25 menjadi tonggak awal pendewasaan dan sudah harus memiliki standar-standar hidup yang sudah harus dicapai.

Usia 25 dianggap sebagai usia yang matang seseorang. Usia ini dianggap sebagai usia ideal -- di mata masyarakat -- untuk menikah. Orang-orang di sekeliling seakan-akan menjadi hakim pada orang-orang yang sudah memiliki usia 25 untuk dapat segera menikah, memiliki rumah, momongan, dan standar-standar hidup yang ditentukan oleh mereka.

Lingkungan yang memiliki standar tertentu inilah yang menjadikan orang-orang yang menginjak usia 25 mengalami quarter life crisis. Artinya, merasa ling-lung, bingung, dan cemas dengan kehidupan: bingung dengan masa depan, bingung dengan keadaan, bingung dengan pekerjaan, bingung dengan proyeksi kehidupan, dan kebingungan lainnya.

Quarter life crisis menyebabkan orang-orang menjadi cemas akan keadaan dirinya sendiri. Orang-orang seperti ini sering kali membandingkan pencapaian-pencapaian orang-orang -- di usia yang sama -- yang sudah mapan. Resah dengan keadaan masa depan, akan menjadi sukses atau tidak, gundah dengan jodoh, dan tanggungan-tanggungan yang makin membengkak.

Padahal, jika kita menelusuri timeline kehidupan dan mencermatinya, kondisi quarter life crisis tidak semestinya hanya dilanda bagi orang-orang yang menginjak usia 25. Akan tetapi, SEMUA USIA bisa mengalaminya. Kondisi tiap-tiap orang tentunya berbeda. Inilah yang menyebabkan quarter life crisis tidak hanya melanda orang-orang yang berusia 25, tetepi bisa melanda semua usia.

Kebingungan akan masa depan, kecemasan akan jodoh, keresahan akan keadaan bisa melanda semua usia. Bahkan, anak SMA sekalipun. Krisis ini bisa terjadi kapan saja pada saat kita menghadapi situasi yang sulit di kehidupan. Anak-anak SMA yang akan menghadapi ujian PTN pun juga bisa disebut sedang mengalami krisis.

Mengalami krisis, kebingungan, dan resah dalam kehidupan memanglah hal yang wajar. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Akan tetapi, cara menyikapi krisisnya lah yang berbeda-beda. Ada yang berhasil dan lolos kemudian menjadi sukses serta ada yang gagal dan menjadi makin terpuruk terus-menerus.

Saat mengalami krisis, kita harus bisa berpikir jernih, logis, dan rasional. Berpikir tentang apa masalah yang sedang dihapapi, mengapa bisa terjadi, bagaimana cara menyikapinya, dan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menyelesaikannya. Kita harus bisa memetakan hal tersebut, sebab dengan kita dapat memtetakan hal-hal di atas kita memiliki langkah-langkah yang terstruktur untuk menyelesaikan masalah. Bukan malah merutuki kehidupan karena sedang dilanda masalah.

Kita pun harus yakin dengan pilihan kita sendiri. Sering kali lingkungan kita -- masyarakat sekitar -- hanya merasa "peduli" dan "seakan-akan" memberikan saran, padahal mereka sebenarnya hanya kepo dengan yang sedang kita alami. Yakinlah dengan pilihan yang kita tempuh, yakin dengan pilihan yang kita ambil, dan pecaya dengan diri kita sendiri. Jika pada akhirnya kita membutuhkan pertolongan orang lain, selektiflah dalam memilih bantuan, cari orang yang memang tulus membantu, bijak, dan bisa dipercaya.

Masalah selalu melanda manusia, tidak akan ada manusia yang bisa luput dari masalah. Pada setiap masalah yang kita hadapi, kita harus menyikapinya menjadi sebuah ajang pembelajaran untuk menghadapi masalah-masalah berikutnya. Dijadikan pengalaman untuk menyelesaiakan masalah pada masa yang akan datang.

Manusia didesain sedemikian rupa untuk tahan banting terhadap segala hal. Kita dibentuk untuk pantang menyerah dengan segala keadaan. Ketika krisis melanda, kecemasan membabi buta, keresehan menggerayangi kehidupan, kita harus bisa tetap bangkit, tetap berdiri, gigih meneyelesaikan satu per satu permasalah demi tetap hidup, menjadi pemenang, dan melihat orang-orang yang kita kasihi masih ada di sekeliling kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN