Mohon tunggu...
Alfiansyah_senja
Alfiansyah_senja Mohon Tunggu... Penulis artikel, foto, dan traveling

Lahir dan besar di kota Balikpapan. "Setiap Malam adalah Sepi" adalah novel perdana yang berhasil dicetak lewat proyek indiependent. Novel ini bercerita tentang kehidupan urban seorang pekerja yang bekerja di malam hari di Kota Balikpapan.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Atas Nama "Bumi Manusia", Saya Menggugat Hanung dan Iqbaal

22 September 2019   12:06 Diperbarui: 22 September 2019   13:15 1487 1 1 Mohon Tunggu...

Oleh : Alfiansyah  


Bumi Manusia bukan hanya persoalan cinta-cintaan remaja, tenggelam dalam lautan asrama di era kolonialisme. Namun, kerja seorang Minke di film "Bumi Manusia"-nya (2019) Hanung Bramantyo ini kebanyakan yang ditampilkan nge-bucin-nya terus. Tak heran, jika film ini lepas dari esensi yang disajikan dari isi novel Mbah Pramoedya Ananta Toer.

***

Semua laki-laki pasti mendambakan perempuan cantik, kaya, badannya harum, gemulai, dan berkuasa---tapi ada juga yang ingin bisa menerima apa adanya (halo, zaman sekarang masih ada yang mau menerima apa adanya. Kerja keras dulu, kale!)

Baiklah, alkisah, Robert Suurhof, teman sekelasnya Minke mengajaknya ke
Boerderij Buitenzorg, perusahaan pertanian seluas 180 hektare.
Singkat cerita, di sinilah awal kisah cinta itu bermula : cinta-cinta ala remaja, cinta pada pandangan pertama.

Ketika Robert Suurhorf omong-omong sombong dengan Robert Mellena anak pemilik rumah, Minke yang selalu mendapatkan perkataan rasial dan perlakuan yang tidak mengenakkan oleh Robert Mellena, hanya duduk sendiri.

Dari pintu utama rumah, sang bidadari itu hadir. Memakai gaun putih, berkulit putih, halus, rambut pirang bergelombang, berwajah Eropa, namun bermata Pribumi. Ia datang membawa setangkai mawar merah. Ia menyapa Minke dengan halus dan penuh sopan. Baik hati dan tidak sombong. Namanya Annelies Mellema. Minke salah tingkah dan ia pun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dari awal ini, banyak adegan mereka berdua saling bertatap mata. Saling menerka. Tapi aktingnya Iqbal ini sangat tak pas.
Sangat kaku. Mata dan gestur tubuhnya tak sesuai. Apalagi ketika ia senyum-senyum kucing dengan muka sok gagahnya---begitu juga ketika malu-malu kucingnya itu (mungkin juga ini nilai plus bagi Iqbal, sebagai pemikat kaum hawa). "Gilak, Kak Iqbal ganteng banget gitu loh!"

Annelies mengajak Minke berkeliling ke perkebunan yang dikelola oleh mamanya. Mereka beristirahat di tepi danau, saling bertukar cerita. Omong-omong bla, bla, bla, dan ada dialog semacam ini, dengan posisi mereka berdua saling berhadapan, jari-jari Minke sebelah kiri mengelus dagu Annelies.

"Tak menyangka berhadapan dengan Dewi secantik ini."

"Kau bilang aku cantik?" balas Annelies.

"Tanpa tanding."

Jari-jarinya masih mengelus dagunya Annelies yang halus, dengan penuh perasaan. Mereka berdua masih bertatap mata. Tiba-tiba, bibir Minke langsung nyosor ke pipinya Annelies. Annelies kaget dan diam. Satu kecupan sudah mampu membuat anaknya Nyai Ontosoroh ini lari, sambil menjerit, "Mama! Mama! Mamaaaa!"

Pertemuan pertama, Minke mencium Annelies sebanyak dua kali. Tanpa seizin Mama (Nyai Ontosoroh) dan kedua, atas izin Mama. Jika saja Hanung Bramantyo berpikir sama seperti Fredy S., mungkin jalan ceritanya akan tambah bombastis.

Apakah "Bumi Manusia" hanya menceritakan remeh-temeh percintaan remaja saja?

Baiklah, memberikan nilai, bagus, atau tidak bagus pada sebuah film yang telah selesai ditonton, adalah otoritas bagi setiap individu. Penilaian terhadap film itu sifatnya relatif. Semua punya kesimpulan masing-masing.

Mantan pentolan boy band Coboy Junior itu sudah lama menjadi idola kaum hawa. Terutama, berkat aktingnya di film Dilan 1990 (2018).
Sejak (24/5/2018), ia dibaptis memerankan Minke alias Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Bagi kalangan para penganut ideologi pramis, para akademisi sastra (mengaku dirinya sastra serius), kaum pergerakan kiri (bisa kekiri-kirian), dan pencinta karya-karya Pram, mencak-mencak mempersoalkan hal itu.Kenapa harus Iqbal!  Imajinasi mereka langsung berbanding terbalik dengan isi novel Mbah Pram. Dari awal, Iqbal sudah mendapat kecaman bahwa ia belum bisa memerankan isi novel sastra klasik tersebut. Namun, semua sanggahan dan komentar miring itu tidak menyulitkan niat sang sutradara Hanung Bramantyo untuk mengganti peran Minke ke Iqbal.

Saya akui, sebagai sutradara senior, Hanung mampu membaca kuantitas pasar industri perfilman Indonesia, di mana, dewasa ini para penonton milenial tak pernah luput dari dunia percintaan ala-ala romantisme ke-Dilan-an--dialog tak berat, isi cerita mudah dipahami dan pemerannya harus gagah atau cantik. Maka dari itu, walaupun terlalu prematur, Iqbal Ramadhan tetap memerankan tugas penting menjadi seorang Minke, agar para milenial hanya tahu Kak Iqbal "Dilan" ini main film lagi, dan pasti di film itu akan kelihatan gagah, keren, dan cool. "Kak Iqbal! Kakak! Kaak!"

Pada kesempatan yang sama di tahun lalu, tepatnya (28/5/2019), di Yogyakarta, CNNIndonesia.com berbincang dengan Hanung soal film Bumi Manusia yang akan mulai syuting pada Juli 2018. Dari sini, kita sudah diberikan sedikit gambaran singkat mengenai "Bumi Manusia" yang ada di kepalanya Hanung. Katanya : :
"Saya ingin membawa Bumi Manusia kepada novelnya, sesuai novelnya. Tapi kadang sering sekali saya menjumpai orang ketika diminta tanggapan soal novel Bumi Manusia selalu menganggapnya, "ini novel yang sangat berat, novel sastra yang sangat tinggi," kemudian memfilmkannya bakal sulit. Makanya, mari kembali membaca Bumi Manusia dalam konteks sekarang. Bumi Manusia yang ditulis pak Pram ini sangat melampaui zamannya.
Jadi kalau dilihat, seandainya yang nulis bukan pak Pram dan judulnya bukan Bumi Manusia, (inti cerita) Minke dengan Annelies itu hubungan cinta.
Ada anak muda yang lagi galau dengan dunianya, dunia dengan perubahan yang sangat cepat ini.
Tiba-tiba ditantang teman sekolahnya untuk 'hayuk berani enggak ke rumah itu, ke daerah itu, ada cewek cantik, kita taruhan yuk bakalan suka sama siapa.'

Dari sini, Hanung sudah salah tafsir memberikan kesimpulan sangat sederhana atas "Bumi Manusia" : hubungan cinta antara lawan jenis.

Hanung, perlu Anda ketahui, dalam dunia kesusasteraan, Mbah Pram menempati posisi penting. Tak hanya di Indonesia, namun di belahan dunia, novelnya selalu disebut-sebut pada forum, universitas dan para intelektual yang mengenal Indonesia, era kolonialisme, imperialisme dan javasentrisme.

Lebih jelasnya, kritikus sastra, Saut Situmorang yang beberapa hari ini selalu berkoar-koar di media sosial pribadinya, menulis status kritik bernada satir soal film Bumi Manusia.

Komentarnya terus terang mewakili isi hati saya. Begini isi dari koar-koar Bang Saut itu, yang jujur, tidak munafik, tak basa-basi dan sedikit curhat mengenai dulu, ketika ia masih kuliah di luar negeri.

Bla blab la bla (agar tak panjang namun tak mengubah maksudnya) apakah "Bumi Manusia" Pram memang cumak soal cinta remaja kayak yang terus dikatakan Hanung Bramantyo dalam wawancaranya sebelum pembuatan film? Kalok memang benar, lantas kenapa novel Pram tersebut dianggap sebuah masterpiece dalam sejarah Sastra Indonesia dan bahkan sampek dilarang oleh rezim Orde Baru? Apa rezim Orde Baru anti cinta remaja?! Kok novel-novel pop macam "Cintaku Di Kamus Baru" dan seri Ali Topan tidak dilarang? Kok Pram bahkan sampek dinominasi berkali-kali untuk Hadiah Nobel Sastra kerna Tetralogi Pulau Buru-nya?! Di pertengahan tahun 1990an waktu aku ambil mata kuliah "Politics and Literature" untuk gelar Masterku di Universitas Auckland, Selandia Baru, novel "Bumi Manusia" merupakan salah satu textbook yang harus dibaca disamping "Uncle Tom's Cabin", "The Satanic Verses". Dan "Sketches from a Hunter's Album".

Postingan ini ia unggah pada tanggal 18 Agustus 2019.

Sah-sah saja membuat film sebagai bentuk mengembalikan modal dan tentunya mencari keuntungan sebesar-besarnya. Namun, yang sangat disayangkan dari film yang diambil dari novel Mbah Pram, sang sutradara mengenyampingkan makna tersirat dari sebuah karya sastra klasik---walaupun di setiap dialog di film juga banyak diselipkan kata-kata bijaksana yang kadang dijadikan quet notes orang yang mencoba sok bijaksana di media sosial----yang menjadi bacaan wajib para akademisi mahasiswa sastra, intelektual dan kritikus sastra.

Bumi Manusia tak hanya cinta-cintaan, Hanung. Ingat itu! Lebih tepatnya, Mbah Pram menulis "Tetralogi Buruh" agar pemuda Indonesia tak bodoh sejak dalam pikiran. Tak menjilat, melawan kaum imperialis dengan cara cerdas : menulis. Dapat berlaku adil, seadil-adilnya. Tidak feodalis. Mempunyai idealisme yang kuat. Menjadi Indonesia, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab. Jadi, jangan seenaknya memberikan kesimpulan bahwa "Bumi Manusia" itu kisah cinta dua insan manusia, seperti Romeo and Juliet, atau ala-ala si Dilan.

Dan juga, terlepas dari masalah politik,  jika Hanung berpikir novel Bumi Manusia itu isinya cinta-cintaan, lantas, kenapa di tahun 1980-an ketika Orde Baru berkuasa, peredarannya dilarang dan ketika membacanya pun mesti sembunyi?

Jadi, atas nama "Bumi Manusia", saya menggugat Hanung dan Iqbal agar bisa merenungkan apa yang telah mereka lakukan.

Tapi. . . .Ah, sudahlah, mungkin ini hanya curhatan seorang jomblo yang jengkel atau iri dengan muka klimisnya Iqbal Ramadhan.

 "Aku memikirkan kamu setiap hari,Mas," kata Annelies, ketika sakit karena  kerinduannya memuncak  pada Minke.

Huffft!

Balikpapan, 19 Agustus 2019.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x