Mohon tunggu...
Alfiansyah_senja
Alfiansyah_senja Mohon Tunggu... Penulis artikel, foto, dan traveling

Lahir dan besar di kota Balikpapan. "Setiap Malam adalah Sepi" adalah novel perdana yang berhasil dicetak lewat proyek indiependent. Novel ini bercerita tentang kehidupan urban seorang pekerja yang bekerja di malam hari di Kota Balikpapan.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Atas Nama "Bumi Manusia", Saya Menggugat Hanung dan Iqbaal

22 September 2019   12:06 Diperbarui: 22 September 2019   13:15 1494 1 1 Mohon Tunggu...

Oleh : Alfiansyah  


Bumi Manusia bukan hanya persoalan cinta-cintaan remaja, tenggelam dalam lautan asrama di era kolonialisme. Namun, kerja seorang Minke di film "Bumi Manusia"-nya (2019) Hanung Bramantyo ini kebanyakan yang ditampilkan nge-bucin-nya terus. Tak heran, jika film ini lepas dari esensi yang disajikan dari isi novel Mbah Pramoedya Ananta Toer.

***

Semua laki-laki pasti mendambakan perempuan cantik, kaya, badannya harum, gemulai, dan berkuasa---tapi ada juga yang ingin bisa menerima apa adanya (halo, zaman sekarang masih ada yang mau menerima apa adanya. Kerja keras dulu, kale!)

Baiklah, alkisah, Robert Suurhof, teman sekelasnya Minke mengajaknya ke
Boerderij Buitenzorg, perusahaan pertanian seluas 180 hektare.
Singkat cerita, di sinilah awal kisah cinta itu bermula : cinta-cinta ala remaja, cinta pada pandangan pertama.

Ketika Robert Suurhorf omong-omong sombong dengan Robert Mellena anak pemilik rumah, Minke yang selalu mendapatkan perkataan rasial dan perlakuan yang tidak mengenakkan oleh Robert Mellena, hanya duduk sendiri.

Dari pintu utama rumah, sang bidadari itu hadir. Memakai gaun putih, berkulit putih, halus, rambut pirang bergelombang, berwajah Eropa, namun bermata Pribumi. Ia datang membawa setangkai mawar merah. Ia menyapa Minke dengan halus dan penuh sopan. Baik hati dan tidak sombong. Namanya Annelies Mellema. Minke salah tingkah dan ia pun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dari awal ini, banyak adegan mereka berdua saling bertatap mata. Saling menerka. Tapi aktingnya Iqbal ini sangat tak pas.
Sangat kaku. Mata dan gestur tubuhnya tak sesuai. Apalagi ketika ia senyum-senyum kucing dengan muka sok gagahnya---begitu juga ketika malu-malu kucingnya itu (mungkin juga ini nilai plus bagi Iqbal, sebagai pemikat kaum hawa). "Gilak, Kak Iqbal ganteng banget gitu loh!"

Annelies mengajak Minke berkeliling ke perkebunan yang dikelola oleh mamanya. Mereka beristirahat di tepi danau, saling bertukar cerita. Omong-omong bla, bla, bla, dan ada dialog semacam ini, dengan posisi mereka berdua saling berhadapan, jari-jari Minke sebelah kiri mengelus dagu Annelies.

"Tak menyangka berhadapan dengan Dewi secantik ini."

"Kau bilang aku cantik?" balas Annelies.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x