Mohon tunggu...
Alfiansyah Syah
Alfiansyah Syah Mohon Tunggu... Warga Negara Indonesia -

Penikmat Senja

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ketika Film Wiji Thukul Dilarang di Kampus Balikpapan

18 Mei 2018   19:20 Diperbarui: 19 Mei 2018   20:43 970
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Keempat, mahasiswa aktivis yang kehadirannya selalu ada dan berada, tak lekang terkikis arus perubahan zaman, dan sangat dibutuhkan demi memperjuangkan hak-hak warga negara. Pro terhadap rakyat. Vokal dan berani menumbangkan penguasa yang tiran.

Ide mereka liar. Inovatif dan tak ingin ada banyak intervensi dari atasan atau orang yang mengkambinghitamkan mereka. Semangat merek, berpegang teguh pada semangat kolektif. Ide mereka adalah menegakkan idealisme, sebagai arah pemikiran progresif.

Bacaan dan diskusi mereka tak lepas dari buah pikir Tan Malaka, Soekarno dan pemikir-pemikir dunia yang berpedoman pada sisi humanisme dan revolusioner.

Soal style, mohon maaf, mereka jarang tampil parlente. Bahkan jarang mandi, kuat begadang, kuat kongko, ngopi, rokoan, dan setelan pun hanya 2/3 (baju bagus dua dan celana levis yang layak hanya tiga).

Kelima, mahasiswa dan lain-lain. Yaitu mahasiswa yang tak tahu arah dan tujuan mereka, kenapa menjadi mahasiswa.

Wiji Thukul dan Mahasiswa

Semangat Wiji Thukul pasti akan mengalir pada mereka yang masih berani melawan keadilan.
Mahasiswa tidak tinggal diam. Setelah kejadian tersebut, malam itu juga mereka membuat pernyataan sikap.  Mereka aksi menuntut hak-hak mahasiswa yang akan dilaksanakan Selasa (15/5) siang tadi. Ada tiga tuntutan mereka. Pertama, meminta kejelasan pemakaian listrik di kampus. Kedua, meminta institusi kampus memfasilitasi kegiatan mahasiswa. Ketiga, menuntut  staff kelistrikan di kampus diganti.

Saya belum dapat kabar terkait bagaimana keputusan final atau win win solution-nya bagaimana. Apakah ada kabar baik atau bagaimana. Namun, yang pasti, semangat mahasiswa jangan sampai redup.

Bagaimana kalau acara itu dibuat oleh kampus, yang mengundang presiden, menteri, gubernur, walikota, atau orang-orang penting lainnya. Seluruh staff akan sibuk dan manut dengan acara yang bersifat seremonial, seperti pembukaan ini, seminar profit atau non profit. Contohnya seminar kebangsaan yang didalamnya akan hadir pemateri dari pusat yang gelarnya banyak, atau sekelas anggota DPR dan tokoh-tokoh yang dikultuskan lainnya.

Mereka pasti akan bekerja secara ekstra dan bahkan di-setting agar setiap kekurangan di kampus dapat ditutupi sebaik mungkin. Seperti, penyambutan tamu mulai dari kedatangan hingga kepulangan, sewa penari, sewa baju adat, bayar katering, cetak banner, dan penyewaan lain-lainnya. 

Alhasil, uang kampus yang dipakai untuk kegiatan itu akan terbuang sia-sia. Para staff pasti bekerja sesuai perintah atasan dan bahkan lebih-lebih tak disuruh pun bisa inisiatif sendiri (baca : cari muka).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun