Mohon tunggu...
alfeus Jebabun
alfeus Jebabun Mohon Tunggu... Pengacara

Alfeus Jebabun, lahir di Manggarai, Flores. S1 Hukum diperoleh dari Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan menyelesaikan studi Magister Hukum dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta. Alfeus memiliki keahlian dalam bidang Hukum Administrasi Negara. Saat ini Alfeus bekerja sebagai Peneliti Hukum di Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP), dan juga sebagai Advokat. Alamat website: www.leip.or.id

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Apes (Bagian 1)

17 September 2020   12:40 Diperbarui: 17 September 2020   12:42 31 1 0 Mohon Tunggu...

Ini cerita tentang seorang petani yang apes karena tanahnya diserobot lintah darat dan harus mendekam di penjara. Dia harus menanggung derita pada usia senjanya karena mempertahankan haknya. Nasibnya apes, seperti namanya sendiri: Apes. Ada benarnya juga kata orang tua zaman dulu: nama adalah doa. Tega sekali orang tuanya memberi dia nama Apes, jadinya dia harus mengalami pertiwa apes dalam hidupnya, pada masa tuanya pula.

Apes sedang duduk meringkuk di atas tikar plastik di balik jeruji besi ketika saya membesuknya. Matanya sembab. Dia masih mengenakan celana pendek yang dipakainya saat ditangkap. Baju kaus lusuhnya telah diganti dengan baju tahanan berwarna orange. Sel tempat dia ditahan berukuran sangat kecil. Tidak ada dipan apalagi kasur. Kamar mandi dengan ruang tidur menjadi satu, hanya dibatasi tembok setinggi setengah meter. Apes tinggal dengan seorang tahanan lainnya dalam sel berukuran dua kali tiga meter itu.

Apes telah menjadi penghuni sel tahanan kepolisian sejak tiga hari yang lalu. Menurut berita yang saya baca, dia diciduk secara paksa dari lahan yang sedang digarapnya. Berdasarkan berita koran terbesar di negeri ini, Apes ditangkap karena menggarap tanah orang lain tanpa izin. Sejak ditangkap, tidak ada kabar Apes didamping pengacara. Menurut anaknya, mereka tidak berani pakai pengacara karena tidak ada uang. Apes dan keluarganya terlihat pasrah pada keadaan.

Tubuh Apes tersentak ketika melihat saya berdiri di depan pintu besi kamarnya. Saya memperkenalkan diri sebagai pengacara yang akan membantu menyelesaikan bebannya secara probono. Mata Apes berbinar. Dia menggengam erat tangan saya.

"Nak, mungkinkah kamu jawaban doa saya? Saya tidak bersalah, nak. Saya tidak tau kenapa bapak-bapak polisi itu menangkap saya. Saya tidak penah mencuri. Saya tidak pernah membunuh," kata Apes sambil mengusap matanya.

Saya tidak tega melihat Apes menangis. Saya merangkulnya, seolah saya sedang memeluk kakek saya sendiri.

"Tenang, Pak. Kita segera keluar dari sini."

"Semoga ya, nak. Istri saya pasti belum makan. Tiga hari yang lalu, dia sakit dan tidak ada yang membantunya masak. Saya mau pulang. Saya tidak mau istri saya meninggal tanpa ada saya di sisinya."

Saya terenyuh seperti disambar geledek. Saya tidak tahu kalau Opa Apes tinggal berdua saja dengan istrinya. Saya telpon anaknya yang sudah saya temui sebelumnya. Sandi, anak opa Apes, membenarkan cerita kakek itu, tetapi Sandi sudah menjemput Minah ibunya untuk tinggal bersama dia sejak Opa Apes ditangkap.

Dengan sedikit marah, saya bangkit berlari menuju ruang penyidik.

"Kalian kok tega menahan kakek yang tidak berdaya itu. Kalian membiarkan dia sengsara pada masa tuanya. Kalian kok jahat membiarkan istrinya yang sudah renta, sakit-sakit pula, menderita tidak ada yang merawat."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
17 September 2020