Mohon tunggu...
Alex Japalatu
Alex Japalatu Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis

Suka kopi, musik, film dan jalan-jalan. Senang menulis tentang kebiasaan sehari-hari warga di berbagai pelosok Indonesia yang didatangi.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Bahasa Ibu sebagai Pengantar Kelas Awal di Sumba Timur

31 Juli 2022   08:16 Diperbarui: 1 Agustus 2022   04:25 685
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi pengajar (KOMPAS.com)

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kemendikbudristek, Anindito Aditomo menyatakan penggunaan bahasa ibu dalam pembelajaran terutama di sekolah-sekolah yang mayoritas siswanya menggunakan bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari seharusnya diterapkan sejak lama.

"Kalau tidak (menggunakan bahasa ibu dalam pembelajaran), siswa dipaksa belajar dua hal sekaligus. Pertama belajar mengenal huruf latin dan membaca. Kedua, mempelajari bahasa yang asing (bahasa Indonesia). Kesulitannya jadi ganda tetapi hal ini bisa dengan mudah dipecahkan dengan menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar," kata Anindito.

=000=

Tembok sebagai media pembelajaran (Dokpri)
Tembok sebagai media pembelajaran (Dokpri)

Gelar sarjana pendidikan baru disandang Ana setelah mengikuti kuliah pada Universitas Terbuka. Ia diwisuda pada 2016. Ana mulai mengajar di SD Wunga sejak tahun 2004.

"Saya tamat dari SMA Kristen Payeti di Waingapu tahun 2000. Empat tahun tinggal di rumah bertani dan pelihara babi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu itu hanya dua orang guru yang mengajar di sini. Lalu saya dan tiga teman dipanggil untuk bantu mengajar. Kami hanya diberi 'uang sabun' oleh kepala sekolah, Rp 20-50 ribu setiap bulan," kata Ana.

"Uang sabun" bukan honor yang diterima karena kerja profesional. Ia lebih sebagai belas kasihan kepala sekolah karena Ana sudah meluangkan waktu mengajar di sekolah yang dipimpinnya.

"Waktu itu saya mau mengajar karena saya lihat hanya ada dua guru di sini. Saya kasihan juga lihat anak-anak. Mereka sudah datang jauh-jauh. Sementara saya hanya kerja bertani. Saya pikir, meskipun hanya lulus SMA pasti saya bisa juga mengajar asal mau belajar," kata Ana tentang keputusannya menjadi guru. Ana sama sekali tak memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar mengajar.

Tetapi kondisi Ana ketika kami jumpai pada akhir Januari lalu sudah lumayan. Setidaknya sejak tahun 2018 ia tak perlu lagi berjalan kaki ke sekolah yang berjarak 3 km dari rumahnya. Ia telah memiliki kendaraan, sebuah motor bekas yang dibeli dari Waingapu seharga Rp 5,4 juta.

"Beli motor dari jual babi. Saya rasa capek juga jalan kaki setiap hari selama 14 tahun dari rumah ke sekolah, pulang-pergi," kata Ana. Kini honornya juga---setelah bekerja selama 16 tahun---mencapai Rp 1,9 juta.

Kini hidupnya terbagi antara sekolah dan rumah. Di sekolah ia mengajar generasi muda bangsa ini untuk masa depan mereka, tanpa mempersoalkan seberapa besar gaji yang ia terima. Di rumah ia bertani dan beternak untuk menopang hidup keluarganya sebagai orang tua tunggal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun