Mohon tunggu...
Aldriyety Merdiarsy
Aldriyety Merdiarsy Mohon Tunggu... Menulis, Puitis tapi tidak Pulpitis

Muda Berkarya

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Puan dan Babak Baru Partisipasi Politik Praktis oleh Perempuan

3 November 2019   23:04 Diperbarui: 3 November 2019   23:27 182 0 0 Mohon Tunggu...

Pemilihan umum serentak 2019 sudah dilewati. Perhitungan suara sampai pengumuman hasil pemilu juga sudah selesai dijalani. Pada 1 Oktober lalu secara resmi para wakil rakyat berganti. 

Diantaranya ada wajah lama dan wajah baru yang ikut menghiasi badan legislasi. Sosok Puan Maharani menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. 

Pasalnya baru kali ini akhirnya Indonesia memiliki seorang ketua DPR perempuan. Berhasil mengantongi suara rakyat terbanyak yakni 404.034 suara di dapil Jawa Tengah V serta berasal dari partai pemenang pemilu yang membuatnya dirasa layak menduduki kursi nomor satu di DPR RI. Semenjak itu Puan Maharani kembali membuka babak baru posisi perempuan dalam partisipasi politik praktis di Indonesia terutama di jajaran legislatif.

Sebelumnya, partisipasi perempuan di kontetasi politik terutama Lembaga DPR menjadi suatu isu tersendiri karena dirasa belum maksimal. Sejumlah ahli berpendapat hal ini menggambarkan adanya diskriminasi bagi perempuan dalam berpolitik praktis. 

Sampai tahun 2004, representasi jumlah anggota DPR dari kaum perempuan hanya berkutat di angka 6-13% saja. Sehingga perlu adanya suatu perlakuan khusus yang kemudian diharapkan mampu meningkatkan angka partisipasi perempuan dalam jajaran anggota dewan. Berangkat dari masalah tersebut diskusi dan perdebatan berlangsung hingga akhirnya dikeluarkan UU Nomor 12 Tahun 2003. 

Undang-undang tersebut mengatur tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah serta memuat rumusan 30% (tiga puluh persen) bagi perempuan untuk duduk di kepengurusan partai politik dan lembaga DPR RI, provinsi maupun tingkat kabupaten dan kota.

Akhirnya pada pemilu tahun 2009, jumlah keterwakilan perempuan di DPR mampu mencapai angka 17,86% atau setara dengan 101 orang. Meskipun pada pemilu berikutnya mengalami penurunan yakni jumlah anggota DPR RI yang perempuan sejumlah 97 orang. 

Kemudian angka ini kembali meningkat pada Pemilu tahun 2019 dimana anggota DPR perempuan menduduki sebanyak 118 kursi atau setara dengan 21% (dua puluh satu persen)  dari total 575 kursi yang ada di DPR. Hal ini juga menunjukan adanya tren peningkatan partisipasi perempuan sebagai anggota DPR.

Keterwakilan perempuan di dalam badan legislatif dirasa memiliki makna yang penting bagi keberlangsungan demokrasi di Indonesia. Hal ini juga termasuk bagaimana para perempuan diharapkan bisa ikut menempati jajaran strategis di DPR. 

Oleh karena itu hal ini menjadi sesuatu yang terus didorong untuk diwujudkan terutama oleh sejumlah kalangan dan dari masyarakat yang berfokus pada pemberdayaan peran perempuan di era modern. 

Salah satu usahanya adalah banding yang kemudian membuahkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 82/PUU-XII/2014, yang mengutamakan keterwakilan perempuan di dalam pimpinan alat kelengkapan dewan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN