Mohon tunggu...
Aldentua S Ringo
Aldentua S Ringo Mohon Tunggu... Pengacara - Pembelajar Kehidupan

Penggiat baca tulis dan sosial. Penulis buku Pencerahan Tanpa Kegerahan

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Sang Emak Pengantri Minyak Goreng.

2 April 2022   08:59 Diperbarui: 2 April 2022   09:05 278
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Ada fenomena pemandangan baru yang ditampilkan media kita. Emak-emak pengantri minyak goreng. Hampir tiap hari media TV dan media sosial serta media cetak seakan berlomba membuat laporan foto para emak sedang antri untuk membeli minyak goreng.

Tak kalah serunya juga di DPR. Dua kali DPR melalui Komisi VI mengundang Menteri Perdagangan, yang diundang tak kunjung datang. DPR mengancam akan memanggil paksa menteri. Wow. Untunglah panggilan ketiga Menterinya datang dan jadilah rapat kerjanya. Terungkap masalah bahwa Menteri Perdagangan tak bisa mengendalikan distribusi minyak goreng, karena masalah yang dihadapi adalah sifat manusia yang rakus untuk menimbun dan mencari keuntungan.

Tidak berhenti disitu saja, Ketua Umum PDIP Megawaty juga berkomentar. Menyalahkan ibu-ibu yang mau mengantri demi minyak goreng. Berbagai respon dan komentar kepada Megawaty yang dianggap tidak peka dan tidak memahami masalah bagi para ibu.

Menjawab tudingan dan respon yang demikian, PDIP membuat pameran masak memasak tanpa minyak goreng. Minyak goreng telah menjadi isu yang hangat dan seluruh jagat Indonesia raya bergemuruh dengan berita tentang minyak goreng.

Lalu muncullah pertanyaan kritis. Apakah benar bahwa perdagangan dan distribusi ini tidak bisa diatur dan dikendalikan pemerintah? Kenapa Indonesia sebagai penghasil CPO alias minyak sawit terbesar di dunia tidak bisa membuat produksi minyak goreng melimpah dan lebih? Apakah kita ini bagaikan perumpamaan seperti tikus mati diatas beras?

Jawaban Menteri Perdagangan di depan Rapat kerja DPR menunjukkan indikasi lemahnya pengawasan distribusi dan bahkan ada dugaan bahwa terjadi kartel dalam perdagangan minyak goreng. Enam produsen utama minyak goreng sepertinya ada dugaan melakukan kartel yang sangat menguntungkan mereka. Lalu kenapa para emak masih sibuk mengantri untuk membeli minyak goreng?

Ada beberapa gejala yang membuat para emak ini mau dan sibuk mengantri untuk membeli minyak goreng.

Pertama, ketergantungan. Para emak di Indonesia seakan sudah tergantung dengan minyak goreng. Anak yang selalu dimanjakan dengan gorengan seakan kehilangan rasa kalau hidup tanpa minyak goreng dan gorengan. Goreng pisang mau direbus? Bisa saja goreng pisang menjadi pisang rebus. Namun karena sudah sangat tergantung dengan kebiasaan goreng menggoreng, hidup tawar tanpa minta goreng. Dengan demikian minyak goreng harus dikejar.

Kedua, panik. Para emak seakan panik jika di rumahnya tidak ada minyak goreng. Kepanikan ini segera disebarkan dengan mengajak teman-temannya untuk mengantri. Ditambah berita media yang gencar, maka kepanikan itu menyebar bagaikan virus dan merasuk dalam hati para emak.

Ketiga, ketamakan. Ketamakan para penimbun minyak goreng telah menginspirasi para emak juga untuk melakukan persiapan dengan membeli minyak goreng sebagai cadangan dan simpanan,  seandainya minyak goreng hilang dari pasar. Ditambah lagi menjelang bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri, maka menyatulah semua faktor tersebut. Sudah ada rumah yang memiliki cadangan minyak goreng untuk satu dua bulan. Seakan pabrik minyak goreng sudah tutup.

Bagaimanakah para emak dan masyarakat kita menghadapi masalah minyak goreng ini?

Pertama, kita harus menekan pemerintah untuk bersungguh-sungguh membuat regulasi dan menjalankan pengawasan yang ketat atas distribusi minyak goreng dan bahan pokok lainnya, apalagi menjelang hari raya. Pemerintah tidak boleh kalah. Negara harus hadir. Pengusaha produsen minyak goreng dan distributor harus tunduk terhadap pemerintah dan negara.

Kedua, para emak dan masyarakat kita harus mau berkreasi dan hidup dengan atau tanpa minyak goreng. Masakan yang direbus, dibakar atau panggang merupakan makanan tradisi kita yang banyak ragamnya. Kenapa tidak itu dikembangkan? Ayam panggang belum tentu kalah dengan ayam goreng, begitukah? Ikan mas yang dimasak seperti Ikan Arsik bagi orang Batak tak kalah dengan ikan mas goreng. Coba saja. Setiap daerah pasti memiliki makanan tanpa goreng.

Ketiga, para emak perlu mengubah sikap dan perilaku tentang minyak goreng. Coba direnungkan, seandainya para emak di seluruh Indonesia berhenti menggunakan minyak goreng selama seminggu. Mungkin hal ini akan menyebabkan stok minyak goreng di pasar akan melimpah. Jika stok melimpah, maka harga akan turun. Tidak percaya, ayo dicoba saja.

Para emak perlu berpikir untuk menghentikan antri mengejar minyak goreng. Boikot saja selama seminggu, maka minyak goreng akan melimpah. Apalagi kalau bisa sebulan puasa menggunakan minyak goreng. Produsen dan distributor akan kelimpungan.

Para emak mengejar minyak goreng, minyak nya dilarikan dan ditimbun, harga melambung. Para emak memboikot, harga pasti terhempas dan stok melimpah.

Di negeri ini krisis minyak goreng bukan sekali ini. Dulu masa Orde Lama tahun lima puluhan terjadi krisis minyak goreng. Masyarakat menghentikan penggunaan minyak goreng. Dan banyak orang tua yang mengalami krisis tersebut sampai masa tuanya tidak mau makan yang digoreng. Mereka sehat dan panjang umurnya.

Para emak jangan mau menjadi korban minyak goreng. Para emak memiliki kekuatan dan kesempatan untuk memberi pelajaran kepada produsen dan distributor minyak goreng. Bersatulah para emak, serukan boikot penggunaan minyak goreng sementara waktu.

Jika taktik boikot sementara berhasil, maka para pemain yang menggoreng minyak goreng akan berpikir ulang sebelum memainkan permainannya. Kekuatan para emak sebagai pengguna harus digunakan.  Mungkin ide ini terasa sulit melaksanakannya, namun pengalaman orang tua kita dulu perlu ditiru untuk menaklukkan penggoreng minyak goreng ini. Selamat bersatu para emak. Salam sehat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun