Mohon tunggu...
Aldentua S Ringo
Aldentua S Ringo Mohon Tunggu... Pengacara - Pembelajar Kehidupan

Penggiat baca tulis dan sosial. Penulis buku Pencerahan Tanpa Kegerahan

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Ada Apa di Balik Pertemuan Anies-Luhut, Setelah Airlangga Bertemu Surya Paloh?

13 Maret 2021   06:00 Diperbarui: 13 Maret 2021   06:05 651
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Anies bertemu Luhut Binsar panjaitan membawa beberapa masalah, menu of problem, salah satunya masalah banjir. Kenapa ke Luhut Binsar Panjaitan? Apakah ini berkaitan dengan pertemuan antara Airlangga Ketum Golkar dengan Surya Paloh Ketum Nasdem di Kepulauan Seribu?

Mungkin pertanyaan ini terlalu jauh atau mungkin kurang nyambung. Tetapi jika kita lihat dari sudut  penanganan banjir, pertemuan dengan Luhut kurang pas. Kenapa? Kesan yang ditampilkkan Anies sejak menjabat gubernur  DKI Jakarta tidak menunjukkan aura dan semangat kerja sama dengan pemerintah pusat. Bahkan dalam satu peninjauan bersama dengan Menteri PUPR Basuki, dia berani secara terbuka di depan awak media berbeda pendapat. Seakan dia tidak mau tunduk dengan Menteri PUPR dan program pemerintah pusat. Padahal kewenangan dan pendanaan berbagai proyek sungai ada di tangan pemerintah pusat.

Pertanyaannya, apakah Anies sudah tidak kuat lagi dengan prinsip melawan pemerintah pusat soal banjir? Bukan saja soal banjir, masalah penanganan dan pemberantasan Covid-19 juga Anies menujukkan perlawanan yang terbuka dan tertutup terhadap pemerintah pusat. Terkadang Jakarta seakan dianggapnya sebagai negeri sendiri yang tak perlu mendengar pemerintah pusat.

Kalau murni menyangkut masalah banjir dan berbagai problem Jakarta, maka yang pas adalah menghadap Menteri PUPR. Apakah pintu Menteri PUPR sudah ditutup atau tidak terbuka lagi ke Anies? Atau ingin meminjam pengaruh dari Luhut Panjaitan untuk bisa mengetuk pintu Menteri PUPR? Luhut juga membuka pintu dengan syarat mau terintegrasi dengan pemerintah pusat. Padahal itulah penyakit Anies selama ini yang seakan tidak mau terintegrasi dengan kebijakan pemerintah pusat dalam penanganan banjir dan Covid-19.

Ketika koordinasi penanganan banjir dan masalah Jakarta yang lain kurang tepat ke Luhut Panjaitan, lalu apa maksudnya? Apakah ada kaitannya dengan posisi Anies yang akan maju pada Pilpres 2024? Airlangga dan Surya Paloh baru bertemu di Kepulauan Seribu. Membicarakan antara lain tentang Konvensi Presiden 2024. Apakah Anies yang sudah sempat dilirik Nasdem ingin mengambil hati Partai Golkar melalui Luhut Panjaitan? Adakah skenarionya seperti itu? Mungkin Anies banyak melihat berbagai dukungan Golkar kepada pasangan calon kepala daerah diperoleh melalui jalur Luhut Panjaitan.

Jika masalah itu yang mau dibicarakan, berarti masalah banjir hanyalah pintu masuk saja. Sebagaimana diketahui, memang Luhut Panjaitan bisa membantu segala urusan di pemerintah pusat karena kedekatannya dengan Presiden Jokowi. Makanya seringkali disebut sebagai menteri segala urusan.

Apakah Anies akan menggantungkan nasibnya kepada Luhut Panjaitan untuk melakukan pendekatan ke Partai Golkar yang sudah mulai menjajaki koalisi dengan Nasdem? Jika kedekatannya dengan Nasdem dibantu Luhut Panjaitan dengan Golkar, maka dia sudah mendapat dukungan dari dua partai ini. Dengan demikian peluangnya akan lumayan dalam perhelatan Pilpres 2024.

Apakah Anies sudah mulai berpikir sekarang, karena tahun depan dia akan menyelesaikan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta dan dia akan menganggur selama dua tahun menjelang Pilkada atau Pilpres 2024? Masa pengangguran ini akan menyulitkan dirinya sebagai kandidat yang akan kehilangan peluang dan momentum membentuk opini dan meningkatkan elektabilitas sebagai calon.

Amat menarik untuk dikaji pertemuan-pertemuan politik yang mulai menggeliat dan semakin gencar ke depan.  Mengingat waktu akan semakin mepet harus segera dilakukan. Akan terlambat  jika hal tersebut baru dilakukan tahun depan. Penetapan calon presiden yang diperkirakan akan dilakukan  bulan Agustus 2023 hanya tinggal dua tahun. Tidak lama lagi.

Apakah percakapan Anies dengan Luhut berhubungan dengan percakapan Airlangga dengan Surya Paloh? Jika tidak berkaitan langsung, bisa saja sebagai penjajakan. Namun kalau pertemuan Anies dengan Luhut adalah kelanjutan pertemuan Airlangga dengan Surya Paloh, maka patut diduga hal ini berkaitan dengan  Konvensi Calon Presiden Partai Nasdem.  Hal ini tentu berkaitan dengan  usulan Partai Golkar agar Airlangga dicalonkan menjadi Capres. Nah keterkaitan semua ini  menjadi sesuatu yang harus dibaca sebagai ancang-ancang sebagai kandidat Capres menuju Pilpres 2024.

Nah, tentu saja ini akan menjadi perhatian dari Partai PDIP dan Partai Gerindra. Jika koalisi Golkar dan Nasdem menjadi satu gerbong sendiri, maka posisi berhadapan antara koalisi PDIP Gerindra dengan koalisi Golkar Nasdem akan menjadi sesuatu yang menarik. Bagaimana posisi PKS, PAN, PKB, PPP dan Demokrat? Kemanakah akan berlabuh? Atau ada kelompok penyeimbang alias abu-abu yang tidak mau memilih diantara keduanya? Seperti posisi Partai Demokrat sekarang ini yang tak jelas? Semua ini baru perkiraan saja. Semuanya bisa berubah sesuai perkembangan dinamika politik dan relasi antar partai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun