Mohon tunggu...
Alam Semesta
Alam Semesta Mohon Tunggu... Instructional Designer

Pengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di Zhejiang Yuexiu University of Foreign Languages, China. Gemar membaca, menulis, dan makan-makan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Mengenang Sahabatku: Sura dan Baya

25 Mei 2019   18:51 Diperbarui: 25 Mei 2019   18:55 0 1 0 Mohon Tunggu...
Mengenang Sahabatku: Sura dan Baya
Sumber: Rawpixel.com

** Cerita ini ditulis ulang berdasarkan Legenda Surabaya

Ribuan tahun yang lalu, lautan raya terbentang luas. Pantai-pantai di Jawa Timur yang sekarang terpisah-pisah masih menjadi satu. Di lautan raya itu hiduplah keluarga dari berbagai jenis binatang laut. Keluarga Ikan Hiu Sura dan Buaya Baya juga tinggal di lautan itu. Leluhur keluarga Sura dan Baya menjalin hubungan sangat baik. Hubungan baik itu juga berlangsung dalam waktu yang sangat panjang. Keharmonisan keluarga terjaga baik sampai Sura dan Baya menjadi dewasa.

Sura, Baya, aku selalu bermain bersama-sama. Kami bermain petak umpet di sekitar karang-karang laut. Membuat gelembung besar dengan air laut. Kami juga sering berlompatan ke udara dan meluncur kembali ke air dengan cepat. Waktu itu, Sura dan Baya memiliki keahlian berenang dan menari di laut sama seperti aku.

Aku sangat sedih jika mengingat perselisihan kecil yang merusak persahabatan kedua sahabatku. Perselisihan itu bermula dari datangnya keluarga ikan air payau yang tidak sengaja dijatuhkan oleh sebuah kapal nelayan. Ikan-ikan air payau tersebut bertambah dengan sangat cepat. Sura dan Baya sangat senang mengejar dan memangsa ikan-ikan itu.

Satu hari, Sura dan Baya berlomba untuk mengejar dan memangsa ikan-ikan air payau. Ada satu dari ikan-ikan itu yang ukurannya sangat besar. Warna ikan itu juga sangat bagus, seperti kristal berwarna-warni. Mereka mengejar ikan tersebut sampai berjam-jam. Ikan tersebut sangat lincah. Pada akhirnya, keduanya berhasil bersamaan menggigit ikan tersebut. Sura mendapatkan bagian kepala dan Baya mendapatkan ekornya. Sama-sama tidak mau mengalah, keduanya kemudian bergelut sangat sengit. Ikan tersebut tercabik-cabik oleh gelutan keduanya.

"Kamu benar-benar menjengkelkan, Baya! Lihat, makan siangku jadi berantakan," kata Sura dengan jengkel dan nada tinggi.

"Apa gak salah, Sura. Itu seharusnya menjadi makan siangku. Aku yang mendapatkan ekornya lebih dulu," balas Baya sambil membesarkan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar.

Keduanya kemudian bergelut lagi. Tapi sekarang tanpa ikan air payau di antara mereka. Gelutan itu awalnya kukira hanya permainan biasa. Ternyata emosi keduanya justru memuncak. Sampai hampir 24 jam bergelut, aku mendengar Sura berkata, "Aku sudah lelah, Baya."

"Emang kamu kira aku tidak cape. Lalu bagaimana sekarang? Urusan kita belum selesai," ujar Baya.

"Aku sudah tidak mau berteman denganmu lagi. Mulai sekarang kamu ke daratan dan cari ikan di rawa-rawa saja. Di situ pasti akan ada banyak jenis ikan yang lebih enak," sahut Sura.

Baya ingat bahwa di beberapa danau di daratan memang ada banyak sekali ikan-ikan yang jenisnya hampir sama dengan ikan yang mereka perebutkan. Ia segera menjawab, "Baik! Kamu jangan coba-coba melampaui wilayahku. Ingat baik-baik ya. Ini adalah kesepakatan kita." Sejak perselisihan tersebut kami tidak pernah lagi bermain bersama-sama. Aku hanya bermain bersama Sura saja atau Baya saja. Tidak pernah bertiga lagi. Mereka juga sepertinya tidak mau tahu kabar satu dengan yang lainnya.

Source: Pixabay, Pexels.com
Source: Pixabay, Pexels.com
Selang waktu yang cukup lama, aku mendapat kabar mereka berselisih lagi. Gelutan kali ini bahkan lebih besar. Menurut ikan-ikan kecil yang melihat pergelutan mereka, Sura mengejar ikan dari laut sampai ke muara sungai. Menurut Baya, muara sungai masih merupakan wilayahnya. Inilah yang membuat Baya menganggap Sura melanggar kesepakatan.

Perselisihan kali ini sungguh-sungguh membuat keduanya babak belur. Tanpa keduanya menyadari dan saling bersiap menyerang, air di muara tiba-tiba sepertinya tersedot masuk ke lautan. Muara menjadi kering dan hanya berlumpur. Baya menyingir dan membuka mulutnya lebar-lebar. Ia sudah yakin akan menang kali ini.

Pada saat bersamaan ketika ia akan menyerang Sura, air itu kembali dengan begitu cepat, deras, kuat dan membawa serta balok-balok kayu dan berbagai benda yang sulit untuk diketahui lagi bentuknya. Air, baloi, dan benda-benda itu bersamaan menghempas keduanya dengan kuat. Air di sekitar muara bergerak dengan sangat cepat, berputar, dan menghanyutkan semua yang ada di sekitar.

Sura dan Baya hanyut terbawa arus ke arah yang berlawanan. Mereka tidak pernah ditemukan lagi. Sekarang cerita mengenai perselisihan mereka hanya menjadi legenda bagi manusia. Bagiku yang kehilangan kedua sahabatku, cerita ini merupakan kenanganku akan mereka.