Mohon tunggu...
Alamsyah RZ
Alamsyah RZ Mohon Tunggu... Mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Indonesia

Pemerhati lintas zaman dan gaya hidup. Gemar mengamati diskursus budaya populer (Pop Culture), komunikasi politik, musik, dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Musik Artikel Utama

Yang Mirip antara Musik Nirvana dan Didi Kempot

4 November 2019   15:23 Diperbarui: 8 November 2019   21:12 0 2 1 Mohon Tunggu...
Yang Mirip antara Musik Nirvana dan Didi Kempot
Gambar: Kurt Cobain (vokalis band Nirvana) terlihat membanting gitarnya. (dok: Istimewa)

Kehadiran Didi Kempot terhadap pasang mata millennials pada dewasa ini, bukanlah suatu hal yang baru sebagai alternatif konsumsi musik populer bagi anak muda atas kebosanan industri musik populer di tanah air. Ternyata hal tersebut telah dialami sebelumnya oleh salah satu band ternama di Amerika Serikat pada awal 1990-an, yaitu Nirvana.

Nirvana dan anak muda. Kedua hal yang tak terpisahkan. Bersama genre musiknya yang dikenal dengan sebutan grunge, Nirvana dapat menyihir dan mendobrak industri musik mainstream di Amerika Serikat, bahkan hingga jangkuan global.

Grunge yang dibawakan oleh Nirvana sendiri merupakan jenis musik perpaduan antara musik punk (post-punk) dan metal dengan alunan musik yang melibatkan distorsi-distorsi dalam musiknya.

Distorsi musik yang dimaksud adalah gangguan-gangguan atau kebisingan dari perangkat alat musiknya, terutama pada bagian gitarnya. Menurut musisi dan penikmat musik grunge, distorsi yang dibawakan bukanlah suatu kesalahan dalam hal bermain musik pada umumnya, namun merupakan suatu kreativitas.

Yoyon Sukaryono, sang penulis buku "Grunge Indonesia Still Alive: Catatan Seorang Pecundang", mengemukakan bahwa grunge menawarkan semangat dalam kesederhanaan. Sederhana sebagai produk budaya yang memberikan ruang perlawanan dengan caranya sendiri. Sesederhana pula yang memberikan kekayaan ekspresi (keunikan) atas energi untuk sebuah revolusi musik bagi salah satu penikmatnya, adalah anak muda.

Sama halnya seperti fenomena Didi Kempot di Indonesia, Nirvana hadir sebagai wujud optimisme bagi musik populer anak muda di Amerika Serikat awal 1990-an.

Opsi atas optismisme ini, berangkat dari kebosanan industri musik di Amerika Serikat dalam rentang 1980-an yang terkesan monoton dan kapitalistik. Mayoritas industri musik pada saat itu mengemaskan sebuah genre musik, mulai dari musik pop berdansa, hingga musik glamrock kawakan dengan penampilan nyentrik dan melankolis.

Selain bosan terhadap keadaan industri musik, kehadiran Nirvana bagi anak muda di Amerika Serikat mewakilkan semangat anti kemapanan (Do It Yourself), feminisme, kaum depresi, korban tindakan kekerasan rumah tangga, dan hak-hak kesetaraan atau independensi gender. Semua hal itu menjadi problematika di tengah masyarakat global. Akan tetapi, Nirvana menjadi salah satu representasi atas suara-suara tersebut, dengan penampilan dan karya musiknya.

Tak ayal, Nirvana mampu menjadi produk musik populer bagi kalangan anak muda Amerika Serikat awal 1990-an, atau dikenal dengan sebutan "Generasi X". Generasi ini merupakan generasi alternatif, ketika subkultur anak muda yang masuk ke budaya massa. Generasi yang haus akan revolusi dan gerakan alternatif baru, pasca Perang Dingin. Alhasil, Nirvana merupakan band tersukses secara komersial di Amerika Serikat, terutama bagi penggemar utamanya dari anak muda tersendiri.

Lewat judul album 'Nevermind' (1991), Nirvana mencapai puncak karier tertingginya. Pencapaiannya dimulai dari penjualan CD album hingga 11 juta kopi dalam waktu yang singkat. Selain itu, lagu pamungkas Nirvana yang berjudul 'Smells Like Teen Spirit', mampu menggeser lagu Michael Jackson yang berjudul 'Dangerous' di peringkat tangga lagu teratas US Billboard 200 (Jan, 11, 1992) dan bertahan selama 350 minggu seterusnya!

Musik yang dikemas oleh Nirvana bukan hanya mempopulerkan grunge semata, tetapi juga menandakan kelayakan budaya dan komersial musik populer secara umumnya. Salah satu jurnalis musik terkenal di Amerika Serikat, Michael Azerrad, mengemukakan bahwa album Nevermind melambangkan sebuah perubahan besar dalam musik populer di Amerika Serikat, khususnya genre musik rock, dimana glamrock yang mendominasi pada periode sebelumnya (1980-an), tidak disukai secara otentik maupun kualitas karya musiknya.

Baik Didi Kempot maupun Nirvana yang pernah digemari oleh anak muda, ternyata dapat memunculkan kekhawatiran atas pasarnya secara loyal. Sebab, kedua musisi tersebut memiliki kemiripan, ketika hadir sebagai bagian dari tren dan gaya hidup atas standar sosial yang baru.

Bagi Nirvana, kekhawatiran itu diperparah dengan fansnya yang didominasi oleh anak muda, berperilaku buruk atas pemakaian narkoba dan obat-obatan terlarang, sehingga memunculkan masalah-masalah yang terjadi pada masyarakat di Amerika Serikat. Tentu kebiasaan ini sama sekali tidak patut dicontoh dan disukai dari vokalisnya sendiri, yaitu Kurt Cobain.

Klimaksnya, Kurt Cobain semakin depresi, hingga ditemukan tak bernyawa pada 8 April 1994. Kurt Cobain meninggal di usia 27 tahun. Kematian dari sang vokalis, telah menyimpan duka yang mendalam bagi personel Nirvana lainnya, terutama fansnya dari anak muda. Banyak anak muda yang merasa sangat kehilangan dari sosok Kurt Cobain, hingga akhirnya Nirvana bubar.

Kendati demikian, Nirvana dan anak muda, mampu membius masyarakat Amerika Serikat ke arah gerakan alternatif dalam menikmati musik yang lebih solid dan daya semangat yang tinggi, terlebih dikarenakan pada rentang sebelum awal 1990-an, musik yang ditawarkan hanya berkutat kepada masalah-masalah percintaan dan kehancuran (patah hati).

Gerakan alternatif tersebut, berdampak mempengaruhi kemasan musik populer (alternative music) di masa berikutnya. Berlaku bagi genre musik apapun, terutama bagi skena musik rock tersendiri. Hingga saat ini, Nirvana bukan hanya menjadi sosok-sosok bagi anak muda dari kalangan 'Generasi X', tetapi juga sebagai salah satu pionir terhadap perubahan dan revolusi musik di dunia.

Sumber-Sumber:
Azerrad, Michael. (1994). Come as You Are: The Story of Nirvana. New York: Hachette Publishing.
Sukaryono, Yoyon. (2018). Grunge still Alive: Catatan Seorang Pecundang. Yogyakarta: Penerbit Octopus.
Kahn, Seth. (2000). "Kurt Cobain, Martyrdom, and the Problem of Agency". Journal of Popular Culture Association in the South, Studies in Popular Culture, Vol. 22, No. 3, pp. 83-96.
Mazullo, Mark. (2000). "The Man Whom the World Sold: Kurt Cobain, Rock's Progressive Aesthetic, and the Challenges of Authenticity". Journal of Oxford University Press, The Musical Quarterly, Vol. 84, No. 4, pp. 713-749.
billboard.com, diakses pada 23 Oktober 2019 pukul 18.00.
mediaindonesia.com, diakses pada 16 Oktober 2019 pukul 13.30.
qubicle.id, diakses pada 23 Oktober pukul 16.30.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x