Mohon tunggu...
Akmal Husaini
Akmal Husaini Mohon Tunggu... Wiraswasta - suka menjaga kebersihan

kebersihan sebagian dari iman. Karena itulah jadilah pribadi yang bersih

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Jaga Toleransi, Lupakan Fanatisme dan Sentimen Agama

25 September 2021   10:04 Diperbarui: 25 September 2021   10:13 100 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Jaga Toleransi, Lupakan Fanatisme dan Sentimen Agama
Indonesia Satu - kompas.com

Indonesia dilahirkan sebagai negara yang penuh dengan keberagaman. Kemajemukan Indonesia merata dari ujung Aceh hingga Papua. Semuanya itu tentu bukan mau kita. Semuanya itu merupakan anugerah yang diberikan Tuhan, dan menjadi tugas kita semua untuk menjaga dan merawatnya. Keberagaman di Indonesia pun juga sudah diakui dunia. Tak heran jika Indonesia juga dikenal dengan keramahan dan toleransinya, karena lahir dan besar dari keberagaman.

Namun seiring berjalannya waktu, keberagaman ini seringkali dipersoalkan oleh sekelompok orang, yang fanitisme terhadap agama tertentu. Karena merasa paling benar, kelompok yang berbeda dianggap salah, sesat, bahkan kafir. Karena merasa bagian dari mayoritasi, kelompok minoritas seringkali mendapatkan diskriminasi hanya karena berbeda keyakinan. Hal semacam ini dipengaruhi oleh fanitasisme berlebihan, sampai akhirnya tidak bisa membedakan mana yang menjadi bagian manusia, mana yang menjadi urusan Tuhan. Karena yang berhak menyatakan seseorang itu sesat atau tidak, pada dasarnya adalah urusan Tuhan, bukan urusan manusia.

Sebagai manusia yang hidup di tengah keberagaman, tentu kita harus terus menjaga nilai-nilai toleransi. Agama tidak pernah mengajarkan pertentangan, menebar kebencian, atau melakukan diskriminasi. Perbedaan dalam pemahaman agama, mesti dimaknai sebagai kekuataan untuk membangun kebersamaan. Karena jika kita gagal dalam mengelola perbedaan yang sudah ada sejak dulu, bisa memicu munculnya sentimen keagamaan. Dan jika sentimen keagamaan itu muncul, makan bisa melahirkan kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Karena agama itu suci, independent, dan tidak memihak, harus kita jaga dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik, atau yang lain. Sentimen keagamaan yang terus menguat di media sosial saat ini, karena didominasi oleh dasar suka tidak suka atas perbedaan yang ada. Sementara perbedaan itu tidak sepenuhnya merupakan pilihan kita. Contoh, apakah kita bisa memilih dilahirkan sebagai seorang Jawa, Kalimantan atau yang lainnya. Begitu juga apakah kitab isa memilih terlahir sebagai seorang muslim atau non muslim.

Karena itu, tak perlu lagi mempersoalkan kenapa ada perbedaan. Tak perlu juga mempersoalkan kenapa harus ada ini itu. Jangan rusah kesucian agama, untuk urusan yang tidak perlu. Mari menjadi manusia yang toleran, bukan manusia yang cenderung fanatic terhadap agama tertentu. Boleh kita belajar agama, asalkan benar dan obyektif. Boleh kita mengutip ayat-ayat agama, tapi kita juga harus paham konteksnya. Jangan asal kutip, lalu dimaknai secara sempit dan tidak dilhat konteksnya, akhirnya memunculkan sentiment agama yang bisa memicu terjadinya konflik di tengah masyarakat.

Fanatisme dan sentiment agama bisa memunculkan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Sementara agama itu sendiri sangat tidak menyukai kekerasan. Agama apapun itu mengedepankan cinta kasih, perdamaian, dan nilai-nilai kemanusiaan. Rasulullah SAW pernah menganjurkan untuk bersikap secukupnya, jangan berlebihan. Berlebihan dalam mencintai, masuk dalam bagian fanatisme yang bisa mengarahkan pada keburukan. Fanatisme berlebihan hanya akan melahirkan kebencian terhadap yang berbeda. Agama merupakan jalan bersama dalam kebaikan, bukan saling menebar kebencian. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan