Mohon tunggu...
Ajinatha
Ajinatha Mohon Tunggu... Freelancer - Professional

Nothing

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Waspadai Cikal Bakal Petral Jilid II?

10 Oktober 2019   08:10 Diperbarui: 10 Oktober 2019   08:54 1086
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Setelah penutupan Petral, pembukaan kembali trading arm Pertamina di Singapura sangat tidak tepat, bahkan blunder yang berpotensi mengundang mafia migas," ujar Fahmi, Rabu (09/10/2019).

Ada apa dengan Pertamina, kok berusaha mencari celah untuk mendirikan kembali perusahaan broker yang sudah pernah ditutup Pemerintah. Apakah ada konspirasi mafia migas didalam tubuh Pertamina.?

Memang sejak Petral dibubarkan Pemerintahan Jokowi, para mafia migas yang selama puluhan tahun menangguk untung secara cuma-cuma, seperti cacing kepanasan.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan kantor pemasaran yang dibuka di Singapura jauh berbeda dengan Petral.

Trading arm Pertamina yang ada di Singapura kini bernama Pertamina International Marketing & Distribution Pte Ltd (PIMD). Kantor pemasaran ini sendiri baru dibuka September lalu. "PIMD merupakan trading arm Pertamina dalam ekspor produk Pertamina dan jual produk pihak ke-3 ke pasar internasional," ujar Fajriyah saat dihubungi, Selasa (8/10/2019.

Apa yang dikatakan Fajriyah bisa saja benar, karena untuk mengelola produk ekspor Pertamina dibutuhkan perusahaan pemasaran, tapi kekuatiran Fahmi juga tidak salah, karena belajar dari pengalaman yang pernah terjadi.

Bagi mafia migas tidak ada yang tidak bisa menjadi celah untuk dijadikan peluang menangguk untung tanpa kerja keras. Menjadi perantara pemasaran ekspor pun bisa dimanfaatkan untuk mencari keuntungan.

Fahmy mengingatkan kembali susah payahnya pemerintah memberantas praktik mafia migas di Petral. "Petral akhirnya dibubarkan pada 2015 sesuai perintah Presiden Joko Widodo. Tanpa perintah Joko Widodo, Petral mustahil dibubarkan," kata dia.

Mari kita lihat seberapa besar Pemerintah bisa menghemat anggaran import migas, setelah sekian puluh tahun membuang uang sia-sia, hanya untuk mengenyangkan mafia migas.

Dengan pembubaran Petral, Pemerintah dapat meng-efisiensi sebesar US$ 208 juta (sekitar Rp 2,7 triliun). Tahun ini, sampai dengan Juni 2016, kami dapat lagi US$ 91 juta (Rp 1,1 triliun). Kalau ini diambil setahun, secara kasar saja, US$ 180 juta (Rp 2,34 triliun).

Kalau ditambahkan tahun yang lalu, bisa hampir US$ 390 juta effort (usaha) kami dalam 2 tahun (sekitar Rp 5 triliun), dampak dari proses pembubaran Petral. Seperti yang dikatakan Dirut Pertamina, Dwi Soetjipto saat wawancara khusus detikFinance.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun