Mohon tunggu...
Ajinatha
Ajinatha Mohon Tunggu... Professional

Pekerja seni

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Eyang Habibie yang Humanis, Religius, dan Tidak "Cinaphobia"

13 September 2019   18:35 Diperbarui: 13 September 2019   18:37 0 9 4 Mohon Tunggu...

Kalau mau mencari Teladan sosok Ummat Muhammad Shallallhu'alaihi wa Sallam, lihatlah Akhlak eyang Habibie. Mendiang Eyang Habibie adalah sosok yang sangat Humanis dan relegius, sehingga implementasi Habluminnanas- nya sangat luar biasa, tidak membedakan Warna kulit, agama dan ras.

Eyang Habibie tidak membuat jarak dengan siapapun yang ditemuinya, sangat terkesan Humble bagi orang-orang yang mengenalnya. Selalu berusaha untuk akrab dengan siapa saja, tanpa memandang derajat dan status sosial dalam masyarakat, semua dianggap sejajar dan sama.

Yang hebatnya lagi, di saat orang-orang Phobia dengan Cina, eyang Habibie tidak memperdulikan hal-hal semacam itu, bahkan sejak di SMA sudah berteman akrab dengan sahabatnya yang keturunan Cina, tanpa sekat agama dan kesukuan.

Mereka bahkan sama-sama menuntut ilmu di Jerman. Teman Habibie itu bernama Lim Keng Kie. Seorang keturunan Tionghoa yang tumbuh besar di Bandung, Jawa Barat. Bedanya kalau Lim mendapat Bea Siswa, sementara Habibie biaya sendiri.

Bagi Eyang Habibie, Lim bukan saja sebagai teman, tapi juga sudah seperti saudara. Lim sangat memperhatikan Habibie, begitu juga sebaliknya. Tidak jarang Lim menasehati Habibie, karena Habibie sering berkata kasar kepada teman-temannya yang dianggap bodoh.

Lim bukanlah dari Keluarga yang kaya, namun karena dia mendapatkan beasiswa dan bisa berhemat, tidak jarang Lim membantu Habibie disaat kiriman uangnya terlambat.

Sebagai seorang mahasiswa yang terbilang dari Keluarga yang religius, namun hidup dengan prihatin, Habibie tidak pernah tinggal sholat dan Puasa sunnah Senin-Kamis. Pernah suatu ketika Lim mengajak Habibie makan diluar, namun dengan halus Habibie menolaknya.

Habibie memberikan alasan sedang Puasa Senin-Kamis, namun dengan becanda dibalas sama Lim, "Puasa Senin-Kamis kok di Hari Rabu Rud..inikan hari Rabu." Kebetulan hari itu hari rabu, bukan hari senin atau Kamis, jadi penolakan Habibie kurang tepat alasannya.

Itu sepotong kisah yang dituliskan Gina S Noer, penulis buku Rudy: "Kisah Sang Masa Muda Sang Visioner," yang didalamnya menggambarkan Lim Keng Kie sebagai sosok yang sering menasihati Habibie.

Masih dalam buku itu juga diceritakan bahwa, Habibie tahu ada jurusan teknik penerbangan dari Lim Keng Kie. Keduanya kemudian kuliah di RWTH-Aachen. Hubungan keduanya memang semata atas dasar ikatan kemanusiaan, bukan karena hal-hal lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3