Mohon tunggu...
Dayangsumbi
Dayangsumbi Mohon Tunggu... Freelancer - Penikmat Musik, Filosofi

Blogger Writer and Amateur Analys, S.Komedi

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Cinta-Diri

17 April 2021   03:00 Diperbarui: 13 Maret 2022   15:49 803
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi : Freepic/Pexels

Tidak ada keberatan dalam mencintai segala bentuk objek, mencintai merupakan bahasa kebajikan. Ada anggapan bahwa mencintai di luar diri kita adalah kebajikan, sedangkan mencintai diri adalah dosa. Apakah benar sepenuhnya anggapan itu ? Pandangan itu sering kita jumpai dalam khotbah-khotbah bahwa kita harus mengorbankan diri kita untuk orang lain.

Erich Fromm yang lahir 23 Maret 1900 seorang Psikologi Sosial dan merupakan Filsuf Humanistik dalam buku The Art of Loving yang ditulis, ada kutipan dari Calvin, yang menyatakan bahwa mencintai diri sendiri adalah "hama". Freud juga membahas cinta-diri dalam istilah-istilah psikiatri, tetapi pertimbangan nilainya sama dengan Calvin. Baginya mencintai diri sendiri sama dengan "selfish" lebih jelas lagi adalah sebuah penyakit yaitu narsisisme, berbeloknya libido kepada diri sendiri.

Narsisisme adalah fase paling awal dalam perkembangan manusia, dan orang yang dalam massa dewasanya kembali pada fase narsisistik ini berarti tidak mampu mencintai; pada kasus ekstrim dia tidak waras.

Freud menganggap bahwa cinta merupakan manifestasi dari libido, dah bahwa libido diarahkan pada orang lain yaitu cinta atau pada diri sendiri, selflove. Cinta dan cinta-diri ini harus seimbang karena saling berlawanan, semakin kuat yang satu maka semakin berkurang yang lain. Dan jika cinta-diri buruk maka tidak mementingkan diri adalah baik.

Munculah pertanyaan, ada kontradiksi antara mencintai pada objek lain dan cinta-diri, apakah ada observasi dalam psikologis yang mendukung teori ini ? Apakah mencintai diri sendiri sama gejalanya dengan selfish, ataukah berlawanan ? Apakah perhatian pada diri sendiri sebagai individu, dengan seluruh potensi intelektual, emosional, dan sensualya merupakan egoism manusia modern ? bukankah itu merupakan pelengkap peran sosio-ekonominya ? Apakah egoismenya serupa sengan cinta-diri atau karena kurangnya cinta-diri ?

Menurut Fromm, ada kesalahan logika dalam pendapat bahwa cinta pada orang lain dan cinta pada diri sendiri adalah saling meniadakan. Bukankah jika kita mencintai sesama manusia itu merupakan kebajikan, maka pastilah baik pula mencintai diri sendiri. Dalam agama, kita juga dapat pengetahuan tentang hal ini, seperti "Cintailah saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" dalam arti lain bahwa mencintai saudara kita bukan berarti kita tidak mencintai diri kita, justru kita harus mencintai saudara kita seperti kita mencintai diri kita sendiri.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa cinta kita terhadap saudara kita sama seperti kita mencintai diri kita sendiri ? berarti di situ kita telah mengenal diri kita sehingga mengenal bahwa kita mencintai diri kita sedemikian rupa sehingga kita dapat mencintai saudara kita sama seperti kita mencintai diri kita sendiri.

Menghormati integritas dan kekhasan diri, mencintai dan memahami diri sendiri merupakan hal yang tak terpisahkan ketika kita mencintai orang lain dan memahami individu lain; cinta untuk diriku sendiri terkait erat dengan cinta pada makhluk lain.

Dalam premis-premis psikologi dasar menurut Fromm, "Tak hanya orang lain, tetapi kita sendiri adalah "obyek" perasaan dan sikap kita; sikap kita terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri, bukan bertolak belakang, melainkan terkait".

Ini menandakan bahwa kita tak perlu keras pada diri sendiri dan lembek pada hal diluar diri kita atau sebaliknya lembek pada diri sendiri dan keras terhadap ekternal kita. Secara singkat ini mengambarkan bahwa kita harus sama dan seimbang antara pada diri sendiri dan pada objek diluar diri, sesuai kondisi dan situasi yang terjadi; menjadi pragmatis dan se-fleksibel mungkin pada hal-hal yang terjadi atau bahasa kekiniannya adalah "Let It Flow"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun