Mohon tunggu...
Ai Sumartini Dewi
Ai Sumartini Dewi Mohon Tunggu... Guru - Humanis, pekerja keras, dan ulet

Hidup yang singkat hendaknya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat baik bagi diri sendiri ataupun orang lain. Menulis merupakan salah satu kebermanfaatan hidup. Dengan menulis kita merekam jejak hidup dan mengasah otak supaya tetap tajam

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Damai

18 Juli 2020   14:24 Diperbarui: 18 Juli 2020   14:29 84
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Pagi itu matahari terbit seperti biasanya. Angin bertiup semilir menyenyakkan tidur yang punya. Suara burung yang riang tak bisa membangunkannya. Tiba-tiba alarm berbunyi dengan sangat kerasnya. 

Hal itu menandakan pukul 06.00. Aku menyetel alarm sengaja pada waktu itu karena aku sedang tidak menunaikan solat. Kucari sumber suara alarm untuk kumatikan. Semalam aku lupa narohnya di sebelah mana karena saking nggak tahan menahan kantuk. 

Kuingat semalam aku pulang pukul 23.00 dari rumah temanku mengerjakan tugas. Malam banget ya? Karena aku sedang mengejar target jadi mau nggak mau tugasnya harus selesai malam itu juga. Lumayan cape sih tapi kan kata orang tua hidup kita itu harus punya target makanya aku mati-matian untuk menyelesiakannya malam itu. 

Setelah aku temukan wekernya aku pijit tombol alarmnya supaya berhenti. Ternyata tak sulit bagiku. Lalu aku menarik selimutku lagi untuk melanjutkan mimpi-mimpiku yang tadi tertunda.

Terdengar suara pintu diketuk oleh orang dari luar. Aku pura-pura tak mendengar karena aku pikir itu ketukan untuk kamar sebelah. Tak berapa lama kudengar ketukan itu semakin keras dan aku menguatkan diri untuk bangun dan menyibakkan selimut kesayanganku. Aku berdiri dan berjalan menuju pintu untuk membukakannya karena aku pikir paling juga si mba yang membangunkanku untuk sarapan. Kubuka pintu dan aku kaget setengah mati berdiri. Aku tak pernak lupa tatapan matanya. Kutenangkan pikiran dan mulai kumenyapanya.

" Pagi ... ada angin apa tiba-tiba nongol di pintu? Tanyaku sekenanya.

" Pagi juga Di, kok tumben baru bangun?  Dia balik nanya.

" Nggak apa-apa sih, lagi nggak punya solat, jadi santai ." jawabku sambal jalan menuju kursi tamu di depan dan setelah aku persilakan dia pun mengikutiku. Sebetulnya aku nggak enak sih nerima tamu dalam keadaan kusut masai. Tapi salah sendiri kenapa bertamu nggak bilang-bilang.

" Mau minum apa? " Tanyaku.

" Apa aja." Jawabnya santai dan mengambil duduk di hadapanku. Aku ngeloyor ke dapur bersama untuk membuatkan dia minum. Kubuatkan teh tanpa gula. Lalu aku membawanya ke depan.

" Minum ya... aku mau mandi dulu." Ujarku sambal masuk ke kamarku. O Iya aku di rumah itu kost dengan beberapa teman kerjaku. Kami sengaja mengambil satu rumah dengan harapan bisa tersedia ruang tamu. Ruang nonton tv, dan pantry sendiri. Jadi kalau hari libur kami selalu masak barengan biar kekeluargaan antar penghuni kamar bisa terjalan. Maklum kalau hari kerja kami jarang bertemu. Kesibukan kami kadang menyita waktu untuk bercengkrama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun