Mohon tunggu...
Lukas Benevides
Lukas Benevides Mohon Tunggu... Dosen - Pengiat Filsafat

Saya, Lukas Benevides, lahir di Mantane pada 1990. Saya menamatkan Sarjana Filsafat dan Teologi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Juni 2016. Pada Agustus 2017-Juni 2018 saya kembali mengambil Program Bakaloreat Teologi di Kampus yang sama. Sejak Januari 2019 saya mengajar di Pra-Novisiat Claret Kupang, NTT. Selain itu, saya aktif menulis di harian lokal seperti Pos Kupang, Victory News, dan Flores Pos

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Mitos Pasca-agama

12 Juli 2020   12:44 Diperbarui: 12 Juli 2020   13:20 121
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Konsep pasca-agama sendiri problematis bila bukan "essentially-contested". Ruang lingkup konsepsi pasca-agama logisnya menyentuh semua agama. Padahal, de facto dan historically, sekularisasi hanya menghantam kekristenan Eropa abad 18-19 yang memaksa diri menjadi pemain tunggal hidup masyarakat. Karena itu, penggunaan istilah sekularisasi di dalam kertas-kertas penelitian ilmiah sering disatu-paketkan dengan predikat Barat yang teritorial dan ideologis.

Agama-agama lain seperti Islam dengan basis Timur Tengah, Hinduisme India, Budhisme Tailand dan beberapa negara Asia lain, Konfusianisme Cina, Shintaoisme Jepang, dan agama-agama lokal di Afrika dan berbagai tempat hingga hari ini masih kokoh mempengaruhi hidup warganya. Maka, istilah pasca-agama tidak tepat, kecuali pasca-kekristenan. Itupun terminologi cadangan ini perlu diteliti lagi. Maka, soalnya adalah apakah tepat hingga hari ini label pasca-kekristenan masih memiliki referen riil? Soal ini akan dievaluasi dengan barometer ketiga rambu-rambu di atas.

"Level of membership"

Fenomena "post-religion" terutama terjadi di Eropa dan di dalam domain agama Trinitarian. Tidak semua agama mengalami efek dari sekularisasi. Karena itu, pantas disebut "pasca-kekristenan". Para sosiolog mengakui bahwa agama-agama tradisional mainstream (Agama-agama Kristiani: Katolik, Protestan, Anglikan, Ortodoks) di negara-negara industrialis Eropa memang mengalami penurunan jumlah anggota.

Meskipun demikian, proliferasi subur kaum Muslim di Eropa menghardik kejumawaan sekularitas warga asli Eropa. Banjir imigran Muslim ke Eropa karena serial peperangan di beberapa negara Timur Tengah semakin menambah kecemasan orang Eropa. Populasi imigran Islam di Eropa semakin menanjak setiap tahun dan masif. Karena itu, orang Eropa mulai berpikir untuk kembali menggenjot kesatuan melalui infrastruktur agama. Agama selain memiliki sisi spiritual, juga merupakan tool ideologis yang sangat manjur untuk merekatkan perbedaan, memupuk cita rasa persatuan, dan melancarkan serangan dengan senjata berlapis jurus. Dengan demikian, kategori level of membership tidak menunjukkan bahwa warga Eropa beranjak ke post-Christianity hari ini.

Di Amerika, 3 dari 5 responden selalu mengatakan agama sangat penting di dalam hidup mereka. Masih di Amerika Serikat beberapa "new religious movement" bertumbuh subur. Gerakan Pentacostalisme sangat berpengaruh dan memiliki banyak pengikut dan simpatisan di negeri industri terbesar di dunia ini. New religious movements memiliki tiga varian: "world-affirming, world-rejecting, and world accommodating movements". Ketiga bentuk new religious movement ini telah menyebar ke negara-negara Amerika Latin, Asia, Afrika, dan Eropa.

Ekspansi new religious movement ke Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Latin semakin menimbulkan kecemasan bagi para pemeluk konservatif agama-agama mainstream. Ketakutan sentimental itu lalu mendorong pemeluk konservatif untuk memupuk cita rasa dan ikatan terhadap organisasi keagamaannya. Getaran positif new religious movement tidak hanya menguatkan kembali tali ikatan organisatoris warga Kristen Eropa, tetapi juga mendongkrak semangat devosionalnya.

Efek new religious movement dan beberapa agama lokal di Afrika dan Asia yang masih memiliki pemeluk yang setia secara organisatoris dan devosional semakin memberi suntikan "warning" bagi kekristenan untuk dengan semua kerja imajinatif-kreaktif mengupayakan umatnya tepat berada di dalam rangkulannya. Demikian pula reaksi timbal-baliknya. Tentu saja terdapat satu dua orang yang berhasil terhipnotis bius new religious movement.

Efek positif di atas turut mempengaruhi kaum kristiani Indonesia. Negara-negara denga mayoritas umat Muslim tidak pernah mengalami "the decline of religion". Kita harus ingat, teologi kaum Muslim lahir dari aktivitas politik. Bagi kaum Muslim, agama tidak pernah dipisahkan dari res publica. Sekularisasi tidak pernah menembusi dinding tembok tebal agama dan kesalehan kaum Muslim Indonesia hingga hari ini. Kekristenan Indonesia sebenarnya turut mendapat tetesan rahmat kekuatan dan kesetiaan keanggotaan dari tameng tebal kaum Muslim terhadap sekularisasi. Karena itu, alih-alih meninggalkan agamanya, kurva kuantitas kaum Kristen di Indonesia tidak pernah mengalami penurunan drastis. Malah sering mengalami kenaikan.

"Social influence, wealth and prestige"

Eropa memang pernah mengalami masa kelam "the decline of religion" dalam jumlah. Meskipun demikian, banjir imigram Muslim Timur Tengah ke Eropa semakin menyadarkan pentingnya fungsi sosiologis agama sebagai kohesi sosial dan kemenangan politik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun