Mohon tunggu...
Gaya Hidup

Bertetangga dalam Instagram

29 September 2018   13:34 Diperbarui: 29 September 2018   21:37 310 1 0 Mohon Tunggu...

Dalam teori Maslow ada lima kebutuhan yang dibutuhkan oleh manusia yaitu, kebutuhan fisiologis, kemanan, sosial, pengakuan dan aktualisasi diri. Ya, manusia butuh pengakuan kalau dia seorang yang kaya maka ia butuh diakui kekayaannya. 

Jika ia seorang pejabat penting ia butuh diakui karena jabatannya. Sebuah hal yang musykil ada orang kaya, terkenal dan mentereng membuat pengakuan dirinya tak perlu diakui kalaupun ada mungkin hanya kedok belaka.

Dahulu jika ingin diakui maka kita harus berusaha agar keberhasilan kita dapat dilihat dan diakui oleh orang banyak. Pada zaman sekarang tak perlu susah payah tinggal upload apa saja kita sudah bisa merasa diakui dengan jumlah like atau view pada status di akun sosial media (sosmed). Instagram adalah salah satu sosial media yang sering digunakan dalam hal tersebut. 

Hal yang diupload berbagai macam makanan, belanjaan, aktivitas, prestasi yang baru diraih atau tempat yang sedang disinggahi  dan berbagai hal lainnya yang dapat dipamerkan. Sebagai contoh misalnya ada orang memposting sedang makan di restoran mahal apalagi tujuannya kalau bukan untuk pamer atau menunjukkan kelas kehiduapan pribadinya. Meskipun  masih terlalu primer anggapan tersebut.

Walaupun orang-orang yang mengupload hal tersebut jika ditanya, mungkin akan mengelak "bukan pemer kok, Cuma pengen berbagi aja". Halah ngapusi. Mau berbagi kok yang ngeliat gak kebagaian hehe.

Mau apa lagi wong sudah kodratnya manusia ingin diakui dan dipuji. Selama yang diupload adalah hal yang wajar ya monggo. Tapi kalo yang diupload hal yang kurang penting sampai membuat jumlah snapgram bagai butiran debu, ya itu namaya keterlauan, mbelgedes. Apa saja dipamerkan dari melek ketemu merem lagi. Hal itulah yang membuat penulis resah.

Tidak hanya instagaram di status WA pun terjadi penulis punya teman yang status WA nya bejibun hingga titik-titik putih tak terhitung dan kalian tahu apa isi statusnya, mayoritas diisi gambar-gambar yang diambil dari google atau wa group. Akhirnya penulis membisukan notif status orang tersebut. Tapi, anehnya walaupun sudah dibisukan penulis masih mau mengecek dan melihat statusnya, jan iki lebih mbelgedes.

Instagram sebagai sosial media berbasis visual tak salah. Penggunanya yang harus lebih bijak dalam menggunakan.  Penulis mencoba memberi sebuah ilustrasi Instagaram layaknya kehidupan bersosial tapi dalam bentuk maya. Akun-akun IG layaknya sebuah rumah. Rumah satu dengan lainnya saling terhubung. Jika kita memfollow sebuah akun berarti kita resmi bertetangga. Karena kita menjadi orang paling dekat bisa mengetahui apa yang sedang dikerjakan, layaknya bertetangga di kehidupan nyata.

Penulis ilustrasikan lagi kita akan senang dan tentram kalau tetangga kita baik supel saling berbagi kala suka,saling bantu kala duka dan saling menghormati privasi satu sama lain. Sebaliknya kita akan jengah  dan kesal jika bertetangga dengan orang kerjaannya mengeluh setiap bertemu , selalu ingin pemer dan sebagainya. Nah, begitu pula dalam ber-instagaram penulis tanyakan apa rasanya memfollow akun yang setiap hari isinya hanya keluhan-keluhan dan memamerkan segalanya. Tidak enak bukan.

Alangkah baiknya dalam bermedia sosial khusus dalam ber-instagram kita mengunggah hal-hal yang bernilai positif. Sehingga menghasilkan ekosistem sosial media yang baik. Tak usah muluk-muluk kita mulai dari akun sosial kita masing-masing.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x