Mohon tunggu...
Ahmad Adriansyah Batubara
Ahmad Adriansyah Batubara Mohon Tunggu... -

Lahir di Jakarta, besar di Depok. \r\n\r\nPernah kerja sebagai insinyur dan production Supervisor di pabrik, sales laptop, dosen di UI dan UAI, konsultan di beberapa lembaga konsultan, dagang di pasar, manajer grup musik dan pernah bekerja di Bank. Konsultan bisnis dan persiapan pensiun\r\n\r\nPendidikan SD4depok, SMP2Depok, SMU38Jkt, S1MesinUI, S2PsikologiUI dan S3 Manajemen Stratejik UI.\r\n\r\nSaya berminat belajar semua bidang ilmu... mudah-mudahan bisa dapat banyak dari kompasiana. \r\nBtw awalnya ikut Kompasiana karena ikut-ikutan istri dan terinspirasi buku CROY pak Chappy Hakim.

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Post Power Syndrome, Apa dan Bagaimana?

31 Agustus 2014   00:01 Diperbarui: 18 Juni 2015   02:03 77
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Post Power Syndrome

Pasti terjadi, hadapi dengan ilmu, latihan dan dukungan sosial/komunitas

Apa itu?


Syndrome karena kehilangan power dalam waktu “sekejap”.

Semua yang “sekejap” memang berbahaya.  Tiba-tiba dapat power besar sama berbahayanya dengan tiba-tiba kehilangan power.

Saat bekerja di usia 20-an, kita memulai karir dengan power yang sedikit.  Perlahan-lahan kita membangun karir, yang otomatis, perlahan-lahan kita meningkatkan power yang kita miliki.   Dalam 30 tahun, power naik perlahan, tapi tiba-tiba power menjadi hilang. Lihat ilustrasi gambar 1 berikut. :


Normalkah…?


Sangat normal, kita semua pernah dan akan terus mengalaminya.  Kita selalu membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, contohnya:


  • Naik pesawat ulang-alik, terbang vertikal keatas, lebih menyakitkan daripada naik pesawat yang perlahan-lahan terbang tinggi.
  • Turun secara tiba-tiba di udara (jatuh, naik roller coaster) lebih menyakitkan dari pada turun naik parasut.
  • Kalau ingin mendaki gunung tinggi (4000 m), kita tidak boleh langsung naik. Kita harus iklimisasi (adaptasi lingkungan) 1 minggu di ketinggian yang perlahan naik (2000 m, 2500 m,  3000 m).
  • Kalau kita menyelam dan ingin naik ke permukaan, naiknya harus perlahan, kalau tidak paru-paru bisa meledak.


Tapi kita, manusia, diberi akal dan ilmu untuk mengatasinya.

Gejalanya Apa?


Gejala tergantung individu, tapi secara umum:


  • Selalu berusaha menunjukkan punya power

    • Bercerita terus menerus dan berulang-ulang tentang kesuksesan.
    • Membeli barang yang tidak perlu
    • Tidak bersedia dan tidak senang dinasehati

  • Sangat sensitif, mudah tersinggung dan marah

    • Tidak dibuatkan teh manis, tersinggung.

      • “jangan mentang-mentang Bapak sudah pensiun ya, buatin teh manis saja tidak mau”
      • “awas ya, biar sudah pensiun Bapak masih sanggup beli teh manis sendiri”

      HALAMAN :
      1. 1
      2. 2
      Mohon tunggu...

      Lihat Konten Healthy Selengkapnya
      Lihat Healthy Selengkapnya
      Beri Komentar
      Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

      Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun