Ahlis Qoidah Noor
Ahlis Qoidah Noor Writer, Educator, Researcher

trying new thing, loving challenge, finding lively life. My Email : aqhoin@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Mengapa Kompasianer Memberi Rating dan Berkomentar? ( Bag 1 )

11 Juni 2018   10:58 Diperbarui: 11 Juni 2018   11:02 769 8 6
Mengapa Kompasianer Memberi Rating dan Berkomentar? ( Bag 1 )
taken from Flickr

Ketika ingin menulis artikel ini saya membayangkan apa yang dilakukan teman- teman setelah membaca, reaksi wajahnya, perasaannya dan juga geliat hati selepas selesai alinea terakhir. Saya juga membayangkan teman- teman yang hanya membaca point pentingnya saja, sekilas di dua paragraf awal atau bahkan hanya di beberapa hal yang dianggap urgent untuk di baca.

Menilai bagaimana seorang Kompasianer harus bersikap memang tidak mudah. Pengamatan beberapa kali menunjukkan sebuah kebiasaan yang patut untuk kita cermati.

Kompasianer yang hanya membaca tanpa melakukan apa-apa, silent reader

Membaca bagi Kompasianer yang satu ini hanya bagian dari kegiatan sehari- hari yang tak terlalu menjadi beban. Dia  tidak punya target untuk membaca apa dan artikel siapa yang akan dibacanya. Dia tertarik pada apa saja tetapi tak punya komitmen dan sedikit sentuhan kemanusiaan untuk berbagi cerita kepada yang lain.

Hal Ini bisa terjadi kepada siapa saja. Silent Reader hanya ingin menambah pengetahuan, mempertajam daya analisa tanpa ingin diketahui identitasnya. Bisa juga dia ingin membaca tetapi tak ingin turut serta dalam diskusi yang menyita waktu bagi dia. Easy going aja.

Kompasianer yang hanya memberi rating, menyimak doang

Rating mungkin hal yang sangat berharga bagi penulis, apalagi penulis pemula yang belum punya banyak teman. Pemberian rating akan memunculkan suatu komunitas kepenulisan. Biasanya mereka yang mendapat rating seperti " dicolek" untuk juga membagi ' kasih sayang ' ke sesama penulis. Kasih sayang itu bisa diikuti dengan daya analisa pada saat ybs melakukan kunjungan balasan dan memberi rating tanpa komentar apapun.

Analisa dalam kebisuan karena tak ada komentar. Hal ini sudah cukup baik karena ada juga Kompasianer yang hanya membaca tanpa memberi rating karena mereka pelit akan menaikkan 'pamor' Kompasianer lain atau mereka mungkin melihat tulisan kita ' kurang menggigit'. Tetapi tetaplah berpengan teguh tentang keihlasan ketika kita memberi rating karena bisa jadi keihlasan itu akan membuahkan hal manis bagi kita di kemudian hari , baik kita dikunjungi atau pun tidak. Itu yang saya lakukan.

Saya akan memberi rating pada beberapa artikel yang saya baca dengan keihlasan yang coba saya lakukan , walaupun untuk diri sendiri dan dari hal yang kecil. Tetapi alangkah baiknya juga ' colekan ' kawan kita ikuti juga dengan ' jawaban salam " denga cara kita berkunjung padanya dan kita bisa memilih artikel yang menarik hati , walaupun mungkin artikel itu tidak up to date, bukan pada topik tetapi pada launchingnya.

Kompasianer yang memberi rating dan juga berkomentar

Tipe yang ini biasanya banyak terjadi pada mereka yang telah lama berkenalan, lama saling memberi komentar dan juga telah mengenal kualitas tulisan masing- masing. Tetapi tidak menutup kemungkinan artikel yang baru dan berkualitas pun menjadi rebutan komentar mereka. Ada juga pernah beberapa saya amati, sebuah artikel yang menurut saya kurang begitu ' indah' dalam kualitas bahasa  maupun konten tetapi menjadi ' hangat ' oleh banyaknya kunjungan.

Untuk hal satu ini kita tidak tahu , mungkin itu adalah rejeki dia. Rating dan komentar yang diberikan tentunya akan mempengaruhi posisi sebuah artikel. Penilaian yang objektif dibutuhkan untuk sebuah artikel yang baik , tetapi ada beberapa bagian subjektifitas sangat dominan. Wallahu a'lam bisshowab.

Kompasianer yang memberi komentar dan juga membalas artikel

Ketertarikan yang lebih pada suatu artikel biasanya tak cuma dibalas dengan rating dan komentar, tetapi juga bisa dengan balasan artikel. Untuk hal seperti ini biasanya mereka mempunyai ketertarikan yang sama dan juga capability yang seimbang.

Kompasianer yang membari rating, berkomentar dan juga menjadi follower

Ibarat kata Rating itu ' lirikan', Komentar itu' salam' dan Follower itu' senyuman ". Itulah perumpamaan sederhana. Memutuskan menjadi follower itu butuh pertimbangan tidak cuma satu dua detik tetapi mungin satu, dua  hari bisa minggu atau bulan. Atau bisa jadi menunggu satu artikel yang menyentuh hati yang terdalam untuk menjadi " following' sesesorang.

Sentuhan itu barupa sudut pandang, inovasi, kesegaran ide, sudut pandang yang balance, kekaguman, nuansa baru dalam jurnalistik atau mungkin curiousity ( rasa ingin tahu ) yang tinggi terhadap artikel yang ditulis oleh Kompasianer. Following adalah proses yang majemuk dan penuh teka-teki.

Terlepas dari posisi apapun anda, ketertarikan kepada sebuah artikel biasanya karena kepadatan bahasa, keluasan analisa, menawarkan sudut pandang berbeda, menggelitik curiousity ( keingintahuan ), judul yang bombastis, penulis yang sudah ternama, penulis yang sudah pernah dikunjungi sebelumnya dan lainnya. Itulah yang dapat saya simpulkan. ...(  Bersambung )