Mohon tunggu...
AGUS WAHYUDI
AGUS WAHYUDI Mohon Tunggu... setiap orang pasti punya kisah mengagumkan

Jurnalis, pecinta traveling dan buku. Bekerja di Enciety Business Consult.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Urgensi Urban Agriculture dan Isu Keamanan Pangan

14 Agustus 2020   22:56 Diperbarui: 16 Agustus 2020   17:48 206 29 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Urgensi Urban Agriculture dan Isu Keamanan Pangan
Image caption

Susana Supiyah Yabes punya instalasi hidroponik 800 lubang. Melalui metode rotasi tanam, dia bisa memanen samhong (sawi keriting) dan selada romane, dua kali dalam sebulan. Produk-produknya dijual di Citraland Fresh Market, pasar tradisional modern di kawasan elit Surabaya Barat. Di pasar tersebut, sayuran hasil tanam Susana bisa dijual lebih mahal, sekitar 30 persen.

Dari jualan sayuran tersebut, Susana mendapat Rp 2 jutaan per bulan. Sementara untuk biaya operasionalnya sekitar Rp 100 ribuan. Susana sudah mendapat tawaran menjajakan produknya di beberapa ritel modern. Namun untuk saat ini dia belum bisa memenuhi.  

Susana sebelumnya mendapat bibit dua jenis sayuran tersebut dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya. Dari bibit tersebut kemudian dibudidayakan. Lamat-lamat makin membesar. Lahan yang tak kelewat besar di rumahnya kini dipenuhi tanaman hidroponik.

Aktivitas berkebun Susana ini awalnya hanya untuk mengisi waktu luang. Sekadar hobi sekaligus menghilangkan kepenatan. Namun, sejak pandemi Covid-19, Susana dan suaminya menyeriusi kagiatan membudidayakan tanaman hortikultura tersebut. Sekarang malah memproduksi olahan makanan dan minuman. Yang memggembirakan, aktivitas berkebun ini menular ke tetangga di Kampung Simorejo. Sedikitnya, 20 orang di kampungnya kini melakukan hal serupa.

Susana adalah satu dari ratusan orang yang tergabung dalam komunitas Pecinta Hidroponik Surabaya. Komunitas ini berdiri sejak 20 September 2018. Bisa dibilang sangat produktif. Memiliki produk setiap panen minimal 3 kilogram tiap segala jenis sayuran. Anggotanya merupakan pegiat greenhouse dari seluruh wilayah Surabaya. Komunitas ini concern memberdayakan warga untuk menerapkan hidroponik, edukasi mengenai praktik menanam, serta membuka peluang melaksanakan urban farming.  

Di Surabaya, eksistensi pecinta hidroponik salah satunya diwadahi lewat acara Minggu Pertanian. Kegiatan ini digelar secara periodik. Sebulan sekali. Tempatnya di Balai Kota Surabaya. Lewat event ini, petani bisa langsung memasarkan produknya ke masyarakat. Tidak lagi melalui tengkulak. Sehingga tidak ada perbedaan harga yang terlalu jauh di pasaran.

***

foto:humas.surabaya.go.id
foto:humas.surabaya.go.id

Sektor pertanian di Surabaya menyumbang keuntungan bisnis tak sampai satu persen. Tepatnya, sekitar Rp 929 miliar. Hal ini sangat terkait pula dengan jumlah lahan pertanian yang makin menyempit. Pun jumlah petani tulen (bekerja di sawah) juga makin sedikit.
 
Saat ini, Keterangan Kasi Tanaman Pangan dan Holtikultura DKPP Kota Surabaya Antin Kusmira, lahan pertanian yang masih tersisa sekiatr 1.000 hektar. Kepemilikannya ada dari pengembang, ada juga dari bekas tanah kas desa (BTKD).

Namun demikian, "ghirah" untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas di sektor pertanian di Surabaya tak pernah kehilangan napas. Hingga Juli 2020, sudah ada 41 titik lahan pertanian. Total lahan sekitar 30 hektar. Di lahan tersebut ditanami hortikultura seperti sayuran, buah, dan tanaman toga. Itu belum terhitung dengan lahan pertanian yang digarap warga seperti di Kelurahan Made dan Lakarsantri.    

Yang agak luput dari perhatian publik, Surabaya berhasil memproduksi padi hasil urban farming. Yakni, padi varietas Mamberamo yang ditempatkan di balkon lantai dua Balai Kota Surabaya. Padi yang ditanam sejak 2016, tersebut, ditanam di beberapa boks fiber persegi berukuran 2,5 x 2,5 meter. Meski tidak kelewat besar, tapi spirit memanen padi ini bisa dijadikan ajang "kampanye " mendorong warga lebih mencintai aktivitas pertanian kota.

Upaya menghidupkan pertanian di Surabaya sejatinya bukan hanya berhadapan dengan keterbatasan lahan. Namun sektor tersebut sampai sekarang diianggap belum menjanjikan. Terlebih di kalangan anak muda.

Menurut Fajar Haribowo, peneliti senior Enciety Business Consult, faktor nilai ekonomi menjadi pemicu mengapa anak-anak milenial emoh melirik sektor urban agriculture. Padahal jika ditekuni secara serius, sektor ini sangat menjanjikan.

Fajar menyebut, selama ini, masyarakat terutama kalangan milenial, melihat urban agriculture hanya sebatas lifestyle, bukan sebagai potensi bisnis. Padahal sektor ini cukup ampuh mengatasi food security atau keamanan pangan.

Kata dia, tak ada satu pun yang bisa memprediksi apa yang terjadi pada hari esok. Dampak pandemi Covid-19 misalnya yang tidak bisa diprediksi. Hingga membuat ekonomi kocar-kacir. Karenanya, kalau sampai mencuat problem kesulitan akses, keamanan pangan ini menjadi sangat penting.  

Menurut Fajar, political will dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk membesarkan urban agriculture. Kurangnya sosialisasi dan komunikasi visual menjadi salah satu penyebabnya. Sekarang, berapa benyak orang tahu jika produk hortikultura hasil urban farming itu lebih menyehatkan? Seberapa besar orang paham jika produk urban farming sepenuhnya menerapkan sistem penanaman organik yang tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintesis?

Jujur, urgensi urban agriculture menjadi meningkat ketika krisis ekonomi menyebabkan keamanan pangan menjadi pertanyaan besar. Dengan semakin meningkatnya tekanan pada sumber-sumber produksi pangan, berkembangnya jumlah masyarakat miskin kota, urban agriculture bakal menjadi satu alternatif yang sangat penting.

Upaya kreatif di masing-masing daerah sangat dibutuhkan untuk menggelorakan aktivitas urban agriculture. Bukan hanya soal pemberian bahan baku, penyediaan akses,  tapi juga keteladanan dari para pemangku kekuasaan. (agus wahyudi)

VIDEO PILIHAN