Mohon tunggu...
Agustino Pratama
Agustino Pratama Mohon Tunggu...

"Siapa tak kenal binatang jalang, lihat diri sendiri penasaranmu hilang. Jangan menangis, diatas masih ada bintang." Seburuk apapun kita, kita selalu mempunyai kesempatan untuk memulai perubahan. Jangan pernah ragu untuk melangkah. Berpegang teguh pada satu prinsip, "Bukan menjadi orang lain untuk menjadi yang terbaik, jadilah diri sendiri yang pasti bisa menjadi seseorang yang lebih baik." - Agustino Pratama -

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Tradisi: Disalahkan atau Dikaji?

13 Mei 2017   23:46 Diperbarui: 14 Mei 2017   09:36 789 3 0 Mohon Tunggu...
Tradisi: Disalahkan atau Dikaji?
Sumber Foto : TropenMuseum, dari situs wacana.co

Dunia internet, dunia maya, dunia dimana semua pendapat dapat diterima tanpa tabayyun, semua pendapat dapat ditolak tanpa diskusi. Saat kita bingung tentang suatu hal, kita cari kejelasannya di internet. Mbah google sudah merajai dunia perdukunan yang arahannya bisa dibenarkan. Mbah google juga sekaligus mampu mengarahkan penanya-nya pada sesuatu yang pantas disalahkan. Luar biasa sekali mbah google ini.

Saking populernya, saat ada yang berpendapat di dunia nyata ataupun di dunia nyata, tidak jarang seseorang dianggap bertanya pada mbah google, atau belajar dengan mbah google. Luar biasa sekali, selain telah merajai dunia perdukunan, mbah google pun hampir naik tingkat menjadi mahaguru. Luar biaya. (Ingat biaya beli kuota mahal)

Kembali pada topik yang sesuai dengan judul.

Sepertinya, saat ini telah marak diskusi tentang tradisi di internet, baik yang disampaikan melalui tekstual, maupun disampaikan secara visual (video). Banyak yang menyampaikan pendapatnya tentang tradisi pada sebuah tulisan. Lalu, bagi pencari tahu tentang tradisi yang menemukan tulisan ataupun videonya,memahaminya mentah-mentah. Yang menemukan pendapat yang menyalahkan, ketika berdiskusi menjadikannya sebagai argumen. Yang menemukan pendapat yang membenarkan, ketika berdiskusi menjadikannya sebagai pembenaran instan. Tak jarang, yang menggunakan pendapat yang membenarkan, orang yang terlebih dulu menemukan pendapat yang menyalahkan menganggap pendapat yang membenarkan hanyalah suatu pembenaran. Sekali lagi, luar biasa sekali mbah google ini.

Ah, mari lupakan sejenak tentang mbah google. Kita bahas yang sesuai judul.

Bertanya tentang tradisi, apa langkah atau tindakan terbaik yang perlu kita lakukan? Menyalahkannya ketika tradisi tersebut tidak sesuai dengan pemahaman kita? Atau, apakah kita perlu meng-kaji suatu tradisi, yang jika ditemukan kesalahannya kita coba perbaiki pemahaman ataupun pelaksanaannya, dan jika ada unsur kebaikan di dalamnya tradisi itu kita teruskan?

Sering kali, kita digiring untuk menyalahkan suatu tradisi. Dengan pemahaman syariat yang terkesan tegas, menyampaikan dalil-dalil, bahkan ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa suatu tradisi tidak ada dalilnya di Al-Quran ataupun Hadist. Lalu, pihak yang menyampaikan lebih menyarankan untuk meninggalkan tradisi.

Miris sekali, jika tradisi yang sudah diciptakan oleh nenek moyang, kemudian diwariskan pada kita untuk menjaganya, harus hilang karena perdebatan yang berdasarkan ego dan pemahaman yang belum matang. Dalam melestarikan / menjaga tradisi di masyarakat, kita perlu mencontoh para walisongo, yang berdakwah islam menggunakan tradisi. Dimana nuansa dan makna Islam dimasukkan untuk memperbaiki kesalahan tradisi yang diciptakan nenek moyang. Walisongo memberi contoh pada kita untuk menggunakan Islam untuk meluruskan dan memperbaiki tradisi. Bukan mengatasnamakan islam untuk menyalahkan dan melarang tradisi. Sayangnya, cara dakwah walisongo tersebut telah memudar di masyarakat. Dimana tradisi itu sendiri lebih sering disalahkan, dilarang, ataupun dianjurkan untuk ditinggalkan.

Beberapa pihak saat ini, beranggapan bahwa dakwah islam harus dilakukan sesuai syariat. Dakwah islam hanya boleh dilakukan dengan cara yang dicontohkan oleh rasulullah.

Jika kita ingin mengkaji suatu tradisi, mari kita coba ambil contoh dakwah rasulullah di madinah.

Ketika Rasulullah sampai di madinah, Rasulullah bermalam di rumah dua orang anak yatim. Dan setelah itu, sejarah mengatakan bahwa rasulullah mendirikan masjid yang pertama dalam sejarah islam disana. Pembuatan Masjid Quba, dibangun dengan material seadanya yang ditemui di sekitar madinah. Di sampaikan dalam sejarah, bahwa masjid yang dibangun oleh Rasulullah difungsikan tidak hanya sebagai tempat beribadah, tapi juga menjadi tempat bermusyawarah dan dijadikan pusat pemerintahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x