Mohon tunggu...
Agus Setiawan
Agus Setiawan Mohon Tunggu... Profil

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Melihat Lembaga Keuangan Mikro saat ini

3 Desember 2019   23:40 Diperbarui: 3 Desember 2019   23:38 0 0 0 Mohon Tunggu...

Koperasi merupakan bentuk usaha yang sesuai dengan perekonomian Bangsa Indonesia yang didasarkan atas usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi sebagai salah satu badan usaha, memerlukan pengelolaan manajemen dan keuangan yang profesional, walaupun berdasar asas kekeluargaan, sehingga mewujudkan koperasi yang handal, profesional dan tetap berprofit untuk kesejahteraan anggota pada khususnya dan perekonomian nasional pada umumnya. Untuk itu perlu bagi koperasi selalu menjaga eksistensinya dengan menjaga kinerja koperasi. Salah satu cara yang dilakukan Kementerian Koperasi dalam mendukung hal ini adalah penilaian kinerja koperasi secara periodik. Munculnya Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) menjadi tonggak berkembangnya koperasi syariah di Indonesia. Lembaga keuangan mikro di bawah Departemen Koperasi dan LKM ini tidak saja berorientasi bisnis tetapi juga sosial, tidak adanya pemusatan kekayaan pada sebagian kecil pemilik modal (pendiri), tetapi terdistribusi secara adil dan merata kepada seluruh anggota. Hal ini merupakan ciri khas utama dari koperasi syariah, dimana selain mensejahterakan anggotanya, juga memiliki peran sosial di dalam masyarakat terutama mengatasi masalah riba.

Sejauh ini banyak lembaga kuangan mikro yang dinyatakan tidak sehat, namun ada juga yang dinyatakan sehat. Penilaian kesehatan tersebut dinilai dari beberapa indikator, mulai dari kelengkapan kepengurusan, tepat waktu, dan pengelolaan yang baik. Ada juga penilaian-penilaian tingkat kesehatan koperasi yang lainnya juga.

Ada berbagai faktor penyebab koperasi tidak sehat. Jika Dilihat dari faktor internal banyaknya koperasi tidak sehat ini, dikarenakan terkendala dengan pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan ketaatan anggotanya. Sehingga koperasi menjadi bermasalah dan tidak bisa berjalan. Hal itu bisa terjadi karena anggota atau pengurus disibukkan dengan pekerjaan lain. Selain itu, macetnya perputaran dana juga menjadi penyebab. Administrasi koperasi yang belum tertata dengan baik ini, sudah saatnya diakhiri melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia pengelola koperasi. Kendala koperasi di Indonesia bukan hanya dari internal tapi juga dari faktor eksternalnya. secara eksternal, kemampuan koperasi di Indonesia masih tergolong rendah dalam memanfaatkan peluang.

Berikut adalah beberapa kendala pokok yang dihadapi oleh koperasi di Indonesia :

1. Kurang berkembangnya koperasi juga berkaitan sekali dengan kondisi modal keuangan badan usaha tersebut. Kendala modal itu bisa jadi karena kurang adanya dukungan modal yang kuat dan dalam atau bahkan sebaliknya terlalu tergantungnya modal dan sumber koperasi itu sendiri. Jadi untuk keluar dari masalah tersebut harus dilakukan melalui terobosan structural, maksudnya dilakukannya restrukturasi dalam penguasaan factor produksi.

2. Banyak anggota, pengurus maupun pengelola koperasi kurang bisa mendukung jalannya koperasi. Dengan kondisi seperti ini maka koperasi berjalan dengan tidak profesional dalam artian tidak dijalankan sesuai dengan kaidah sebagimana usaha lainnya.

3. Manajemen koperasi harus diarahkan pada orientasi strategik dan gerakan koperasi harus memiliki manusia-manusia yang mampu menghimpun dan memobilisasikan berbagai sumber daya yang diperlukan untuk memanfaatkan peluang usaha. Oleh karena itu koperasi harus teliti dalam memilih pengurus maupun pengelola agar badan usaha yang didirikan akan berkembang dengan baik.

Salah satu upaya pemerintah mengatasinya adalah melakukan pendampingan dan pembinaan. Sehingga koperasi yang aktif bisa menjadi koperasi yang sehat juga. Jika tidak memungkinkan untuk diteruskan, maka akan diusulkan untuk diberhentikan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x