Agus Kusdinar
Agus Kusdinar Wiraswasta

Blogger (Menulis untuk hoby dan mencegah kepikunan)

Selanjutnya

Tutup

Politik

Perlukah Film G30S PKI Tayang Kembali?

13 Agustus 2017   14:52 Diperbarui: 15 Agustus 2017   14:34 667 1 4
Perlukah Film G30S PKI Tayang Kembali?
Image : CNN Indonesia

Tragedi Lubang Buaya yang menewaskan 7 Jendral dan di masukan ke lubang kecil yang lebarnya 75 cm dan memiliki kedalaman 12 meter, 4 Jendral tewas di tempat dan 3 lagi tewas di kediamannya ketika aksi penculikan itu di lakukan, serta satu orang Jendral selamat dan Jendral itu di sebutkan merupakan target utama.

Berikut  3 Jendral yang di bunuh di kediamannya :

1. Letnan Jendral Ahmad Yani

2. Mayor Jendral M.T Haryono

3. Brigadir Jendral Panjaitan

Mereka di bunuh saat penculikan karena mereka melakukan perlawanan, sehingga mereka tewas di tempat.

Berikut 4 Jendral yang tewas di Lubang Buaya :

1.Kapten Pierre Andreas Tendean (Ajudan Abdul Haris Nasution)

2.Mayor Jendral R. Suprapto

3.Brigadir Jendral Soetoyo

4.Letnan Jendral S. Parman

Mereka di bunuh di lokasi lubang buaya dengan penyiksaan yang sebelumnya di suruh menandatangani yang namanya dewan Jendral.

Berikut 1 Jendral yang selamat :

1.Jendral Abdul Haris Nasution

Menurut sumber beliau adalah target utama dan beliau berhasil lolos dari penculikan dan sebagai penggantinya ajudannya Pierre Andreas Tendean dan akhirnya tewas di lokasi lubang buaya setelah mengalami penyikasaan dan peristiwa itu merenggut korban tertembaknya putri dari Abdul Haris Nasution yaitu Ade Irma Suryani yang sekarang namanya di jadikan Taman Lalu Lintas di kota Bandung.

Peristiwa tragedi yang terjadi pada tanggal 30 september tahun 1965, dan beliau merupakan pahlawan Revolusi atas gugurnya mereka di beli gelar Anumerta, menyisakan luka yang dalam dan menyimpan seribu teka-teki yang kini masih dalam perbincangan siapa dalang pergerakan G30S PKI, sehingga terjadinya perdebatan antara sejarahwan tentang kejadian di massa itu, karena sejarah-sejarah yang di tuliskan juga film yang pernah di tayangkan ketika zaman orde baru merupakan suatu keharusan untuk di tayangkan di televisi di setiap tahunnya untuk mengenang peristiwa G30S PKI, dan sebagian ada yang berpendapat bahwa film itu demi untuk menguatkan kekuasaan Orde Baru di massa itu dengan cara sedikit di dramatisir tentang kejadian itu, meskipun sebenarnya itu terjadi tetapi tidak sesuai dengan yang di tayangkan yang terlihat terlalu keji dari kejadian sesungguhnya.

Cerita dusta untuk menguatkan rezim orde baru banyak yang membongkar oleh sejarahwan dengan berbagai sangkalan guna untuk meluruskan sebenarnya yang terjadi pada 30 september tahun 1965 dengan berbagai fakta yang masuk akal dan valid sehingga terjadinya penutupan film G30S PKI, yang menyebutkan bahwa film tersebut merupakan film demi untuk menguatkan rezim orde baru dan untuk melemahkan orde lama, dengan memperlihatkan betapa kejinya gerakan pada tanggal 30 september 1965 terhadap para jendral, dan memperlihatkan para Gerwani yang ikut dalam aksi penyiksaan tersebut.

Pada zaman sekarang banyak isu di takutkan tumbuhnya kembali PKI (Partai Komunis Indonesia), yang belakangan ini sering diperbicangakan di media sosial juga lingkungan sosial, dan menjadi perdebatan yang menarik sehingga banyak yang mensosialisasikan bahayanya faham komunisme tersebut jika tumbuh kembali di negeri ini.

Guna menghindari terjadinya faham komunisme tumbuh kembali di negeri ini, apakah film tersebut perlu di tayang ulangkembali?......., atau membuat film versi baru tentang bahayanya faham komunisme jika tumbuh kembali di negeri ini?,..........., mungkin ada sesuatu yang mengganjal bagaimana sesungguhnya pada waktu itu terjadi sehingga banyak pendapat yang berbeda-beda, dan ini perlu ada pelurusan para ahli sejarah dengan berbagai fakta sebelum para saksi hidup meninggalkan kita dan berbagai tulisan-tulisan yang di anggap valid sesuai dengan kejadian yang sesungguhnya pada tragedi G30S PKI.