Esdi A
Esdi A Pekerja

"Write Like Nobody Will Rate You!"

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Kepiting Jacobson, Fauna Endemik Geopark Gunung Sewu yang Terancam Peternakan Ayam

14 September 2018   23:26 Diperbarui: 17 September 2018   05:25 349 3 1
Kepiting Jacobson, Fauna Endemik Geopark Gunung Sewu yang Terancam Peternakan Ayam
Kepiting gua bercangkang pucat, hewan endemik dari Gunung Kidul (biotagua.org).

Fauna endemik adalah hewan yang hanya ada di wilayah tertentu dan tidak terdapat di daerah lain walaupun ekosistemnya serupa.

Karena habitat hidupnya terbatas di daerah tertentu maka kepunahan hewan endemik berarti juga kepunahan untuk selama-lamanya dari muka bumi.

Salah satu hewan endemik yang diduga bakal terancam kelestariannya adalah kepiting Jacobson, Karstarma jacobsoni, berasal dari kawasan Geopark Gunung Sewu. 

Kepiting yang hidup di gua-gua sungai bawah tanah ini bisa terancam hidupnya oleh pembangunan peternakan ayam seluas 20 hektar milik PT Widodo Makmur Unggas. Proyek yang terletak di Pacarejo, Kecamatan Semanu Gunung Kidul itu belum memiliki IMB dan AMDAL.

Menurut Direktur Eksekutif WALHI Yogyakarta, Halik Sandera, pencemaran dari limbah peternakan ayam berpotensi mengancam kehidupan kepiting Jacobson yang hidup tepat di kawasan bawah tanah lokasi peternakan itu.

Rembesan limbah peternakan --termasuk manusia yang mengelolanya-- dikhawatirkan akan terbawa air hujan dan mencemari sistem sungai dan gua bawah tanah yang menjadi habitat kepiting Jacobson.

Ada 3 sumber sungai bawah tanah di lokasi tersebut yaitu: sumber Bribin, Baron, dan satu sumber sungai yang belum bernama.

Kehidupan kepiting Jacobson di geoarea Gunung Kidul

Kawasan Geopark Gunung Sewu adalah area endapan gamping dengan luas 1.802 km persegi, kurang lebih 40.000 bukit karst (conical hills), dan jalinan gua serta sungai yang berada bawah permukaan tanah. 

Gua dan sungai bawah tanah terbentuk karena daerah karst memiliki tanah dengan tingkat porositas yang tinggi sehingga air dari permukaan mudah meresap menembus pori-porinya.

Panorama Geopark Gunung Sewu dilihat dari sisi Kabupaten Gunung Kidul (jogjadaily.com).
Panorama Geopark Gunung Sewu dilihat dari sisi Kabupaten Gunung Kidul (jogjadaily.com).
Geopark Gunung Sewu memperoleh pengakuan UNESCO pada tahun 2015 dan akan melalui proses validasi ulang tahun 2019.

Lokasi geopark kedua Indonesia setelah Geopark Gunung Batur ini  terbagi atas 3 geoarea yang berada di 3 kabupaten sekaligus 3 provinsi yang berbeda. Ketiga geoarea tersebut  berada di Pacitan di Jawa Timur, Wonogiri di Jawa Tengah, dan Gunung Kidul di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Walaupun Geopark Gunung Sewu merupakan satu kesatuan kawasan, kepiting Jacobson hanya hidup di gua bawah tanah yang berada di Kabupaten Gunung Kidul saja.

Asal mula nama Jacobson pada kepiting ini adalah untuk menghormati jasa penemu pertamanya yaitu Edward Jacobson, seorang naturalis Belanda.

Edward menemukan kepiting bermata kecil ini di Gua Jomblang dan Gua Ngingrong. Selain dari 2 gua tersebut, penelitian lanjutan menemukan jejak keberadaannya di Gua Bribin, Gua Gilap dan Gua Jurang Jero serta gua-gua lain di Kabupaten Gunung Kidul.

Sebagai hewan endemik, kepiting Jacobson memiliki beberapa keunikan yang membedakannya dengan kepiting jenis lain dari nenek moyang yang sama secara taksonomis. Perbedaan tersebut muncul sebagai hasil adaptasi terhadap lingkungan khusus.

Kondisi gua bawah tanah yang gelap serta sumber makanan terbatas memaksa hewan bercangkang ini menyesuaikan diri sehingga ciri fisik dan perilakunya selaras dengan lingkungan.

Perbedaan morfologi --bentuk tubuh luar-- yang mencolok pada kepiting Jacobson adalah tubuhnya yang berwarna pucat dan bentuk mata yang mengecil. Hal ini terjadi karena tanpa cahaya pigmen tubuh tidak terbentuk dengan baik. Penglihatan juga sulit bekerja atau bahkan tidak mampu sama sekali sehingga organ mata mengalami penyusutan.

Kondisi gua berdinding batu dengan lumpur di dasarnya membentuk sepuluh kaki kepiting Jacobson berkembang baik. Tungkai-tungkainya panjang dan kuat sehingga mampu menopang tubuhnya pada saat memanjat dinding  atau merayap di atas lumpur.

Karena sumber makanan dalam gua sangat minim, mereka juga harus berkompetisi untuk bertahan hidup.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2