Gayahidup

Berwirausaha dengan Modal dan Nyali

1 Oktober 2017   14:06 Diperbarui: 1 Oktober 2017   15:16 957 0 0
Berwirausaha dengan Modal dan Nyali
Media sosial dapat dimanfaatkan menjadi wadah untuk berdagang. Misalnya menjual jilbab model terbaru (@doublei.hijab)

Setelah dipusingkan dengan bangku perkuliahan dan melepaskan status mahasiswa secara sah, sarjana-sarjana muda dihadapkan dengan tantangan hidup yang sebenarnya. Berhasil melepaskan diri dari beban orang tua, setelah lulus mereka menjadi beban Negara. Ya, sarjana muda ini disulitkan mendapat pekerjaan yang sesuai dengan gelar akademik mereka. Hasilnya, mereka menjadi pengganguran terdidik.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5% (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi.

Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (S-1). Dari jumlah itu, penganggur paling tinggi merupakan lulusan perguruan tinggi bergelar S-1 sebanyak 495.143 orang.

Angka pengangguran terdidik pada 2014 itu meningkat dibandingkan penganggur lulusan perguruan tinggi pada 2013 yang hanya 8,36% (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79% (645.866 orang). Jumlah itu diprediksi akan terus naik setiap tahunnya.

Bukan karena mereka tidak berkompeten, tapi lebih pada tidak tersedianya lapangan pekerjaan dalam jumlah yang besar. Salah siapa? Tidak ada yang patut disalahkan.

Menanggapi hal tersebut, daripada harus menunggu peluang kerja datang, lebih baik menciptakan peluang kerja itu sendiri. Menciptakan peluang kerja dengan berwirausaha. Mulailah berwirausaha, boleh dengan niat mengisi waktu kosong sambil menunggu peluang pekerjaan datang atau dengan niat serius mengembangkan usaha. Tidak masalah.

Berwirausaha usaha bisa dengan apa saja. Bisa menjual suatu barang, jasa, bahkan pikiran atau ide. Memang, kendala utama dari berwirausaha adalah modal dan nyali. Ada modal tapi tidak ada nyali, berwirausaha tidak akan berjalan. Pikiran tentang kerugian yang bakalan didapat, akan menghantui bahkan sebelum usaha benar-benar dijalankan. Sedangkan ada nyali, tapi tidak ada modal akan merubah pikiran dan mengurungkan niat untuk berwirausaha.

Jika takut rugi, tidak perlu mengeluarkan modal yang besar. Mulai dari modal kecil, guna melihat pangsa pasar. Sembari melihat peluang-peluang yang ada dan mempelajari bagaimana memahami kemauan konsumen. Surplus yang didapat jangan dimasukkan ke kantong pribadi. Setelah mendapatkan polanya, mulai tambah modal dari surplus yang didapat. Di jaman milenial ini, segala urusan sungguh dipermudah. Sosial media dapat dijadikan tempat berniaga. Hal ini tentu menguntungkan bagi wirausaha untuk menjual barang dagangannya. Bisa berjualan apa saja, bisa menjual jilbab, dimana saat ini berhijab sudah mulai menjadi tren baru dalam berpakaian atau menjual sepatu, jam tangan, atau apalah yang sedang populer saat ini.

Bila tidak memiliki modal untuk berwirausaha, bisalah memulai dengan menjual jasa. Jasa yang dimaksud bisa berupa apa saja. Bisa menjual tulisan ke surat kabar, dimana tulisan akan dihargai oleh perusahaan sebagai fee. Atau menjual jasa fotografer. Mungkin juga memanfaatkan youtube sebagai wadah untuk berkreasi, iklan dan pemasukan akan dihitung dari banyaknya viewer. Menjual jasa ini tentunya harus didasari dengan kemampuan diri sendiri. Meningkatkan kemampuan dengan belajar dan terus mengasahnya.

Atau bisa pula berkolaborasi dengan rekan. Antara si punya nyali dan si punya modal. Hal ini akan jauh lebih baik karena satu dengan yang lain akan saling menutupi kekurangan. Bila ini dilakukan, komitmen diperlukan, kesepakatan diawal haruslah dibicarakan secara matang agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.

Jika berhasil membuka pekerjaan untuk diri sendiri, tidak menutup kemungkinan akan membuka pekerjaan untuk orang lain. Inilah Puncak dari kesuksesan menjadi seorang wirausaha, dapat membantu dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Bukankah manusia adalah makhluk sosial, yang selalu membantu satu dengan yang lain, wajarlah wirausaha yang sukses mendapatkan apresiasi. Hal ini pula yang mendasari Bank Danamon kembali hadir untuk memberikan apresiasi tinggi kepada wirausaha yang memiliki kinerja mengagumkan dan bermanfaat bagi orang lain.

Kembali hadirnya Danamon Entrepreneur Award ini sebagai bentuk apresiasi nyata Bank Danamon bagi individu yang menginspirasi dan inovatif. Para individu yang memiliki visi "Peduli, dan membantu jutaan orang untuk mencapai kesejahteraan."