Mohon tunggu...
Agung Pratama
Agung Pratama Mohon Tunggu... Bacoter, nyinyir addict

21 tahun, mahasiswa penggiat isu sosial, politik, gender, dan media. netizen barbar tapi kritis.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Menanggapi Marketing Battle yang Menjamur di Tanah Air

7 Desember 2019   23:10 Diperbarui: 11 Desember 2019   00:12 88 1 0 Mohon Tunggu...
Menanggapi Marketing Battle yang Menjamur di Tanah Air
Ilustrasi (sumber: twelve12.com)

Digital Marketing di era E-Commerce memiliki ruang saing yang cukup ketat, karena untuk meraup konsumen tidak hanya dari pasar konvensional saja, melainkan juga pasar daring yang sering kita sebut online shop. 

Setelah merebak platform layanan belanja online, pembayaran online juga turut serta mengelabuhi konsumen demi mewujudkan gaya hidup praktis, yang apa-apa harus menggunakan ponsel dan internet. 

Baru-baru ini OVO yang merupakan platform E-Payment yang cukup besar di Indonesia menyatakan collapse karena Lippo group tidak sanggup untuk terus-terusan membakar uang.

Saya sempat menikmati promo-promo yang ditawarkan oleh beberapa platform baik berupa potongan harga parkir, cashback 50=70% saat membeli makanan siap saji, atau membeli buku di toko buku terkemuka. 

Saya tidak pernah terpikir kalau promo-promo ini adalah kegiatan merugi-nya sebuah perusahaan, di pikiran saya saat menikmati beragam promo adalah "ini pasti langkah perusahaan yang mau ambil untung dikit biar dapet banyak konsumen" tetapi itu salah, mereka rela merugi di awal demi menaikkan pamor layanan.

Sama halnya seperti DANA, Gopay, dan Cashbac, beberapa platform ini terus-terusan berperang promo untuk meraup konsumen dan meningkatkan valuasi, memang benar ketika valuasi yang meningkat tajam.

Maka investor akan lebih tertarik untuk berinvestasi, namun jika terus menerus dilakukan, kebangkrutan pun tidak bisa terelakkan. ini juga berlaku untuk setiap jasa/dagang online, Ojol yang terus terusan perang promo akan berakhir sama apabila tidak ada kontrol dalam bisnisnya.

Sempat terpikir mengapa persaingan ini begitu buas padahal masing-masing provider bisa saja menawarkan kelebihan lain dari produk yang ditawarkan, entah itu kualitas, entah itu pelayanan, atau bisa juga keamanannya. kalau seperti ini.

Persaingan industri hanya menjadi ajang pertaruhan skala besar, yang sanggup merugi dalam jangka waktu yang cukup panjang, maka ialah yang akan menang. 

Ini bukanlah persaingan yang sehat, karena seterusnya pebisnis terus bersaing mati-matian membesarkan perusahaan, padahal bisa saja masing-masing startup ini bekerja sama dan berbagi strategi marketing.

Jasa keuangan digital berhasil membuat celah kemudahan bagi banyak orang, tetapi membuat permasalahan jauh yang lebih kompleks pula, jauh dari apa yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.

VIDEO PILIHAN