agung marhaenis
agung marhaenis Mahasiswa Pascasarjana

Pecinta kata, kopi, kuliner, dan kebun.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Juventus dan Tottenham Hotspur, Mentalitas di Panggung Eropa

8 Maret 2018   09:10 Diperbarui: 8 Maret 2018   10:24 1031 0 0
Juventus dan Tottenham Hotspur, Mentalitas di Panggung Eropa
Foto: jogja.tribunnews.com

Saya menulis catatan ini sekian detik setelah peluit panjang ditiup wasit dalam pertandingan perdelapan final Liga Champion antara Tottenham Hotspur kontra Juventus. Seperti catatan saya kemarin di sini, saya memprediksi Juventus bakal lolos ke perempat final Liga Champion. Faktor utamanya bukan pada permainan mereka yang super brilian, tapi lebih karena tradisi dan mentalitas Juventus dalam mengarungi liga kelas Eropa.

Dalam pertandingan dini hari ini, saya menduga bila Juventus berhasil membuat satu gol, maka permainan bakal menjadi milik mereka, meskipun mereka sudah tertinggal lebih dahulu. Dan hal tersebut terbukti ketika Gonzalo Higuain mencetak gol pada menit 64. Permainan Juventus langsung terasa lebih solid. Tiga menit berikutnya Dybala melengkapi kemenangan Juventus.

Memasuki menit ke 80, Tottenham sebenarnya mulai menemukan momentum dengan mengurung pertahanan Juventus. Sayangnya, Juventus sudah menemukan momentum dan keyakinan diri. Salah satunya terlihat bagaimana peluang matang dari Hari Kane berhasil digagalkan di mulut gawang oleh Andrea Barzagli pada menit 90.

Dalam pagelaran sepakbola kelas Eropa seperti Liga Champion dan Liga Eropa, mentalitas dan tradisi sangat penting dalam mendukung sebuah tim untuk melaju ke babak berikutnya, khususnya di babak gugur. Pada babak tos-tosan ini, mentalitas sebuah tim benar-benar diuji. Kondisinya jauh berbeda dengan bak penyisihan grup.

Pada babak penyisihan grup belum bisa digambarkan peta tim yang lolos. Artinya tim yang menjadi juara grup belum tentu menjamin mereka lolos pada babak gugur. Hal tersebut terlihat dalam ajang Liga Champion 2017-2018. Setidaknya sudah ada dua tim yang keluar sebagai juara grup tersingkir dari babak perdelapan final yaitu Tottenham Hotspur dan Paris Saint Germain.

Tottenham dan PSG tentu saja merupakan tim bagus dengan skuat yang hebat. Tapi bagaimana dengan tradisi mereka di Liga Champion? Jauh di bawah lawan-lawannya. Tottenham belum pernah menjuarai Liga Champion, sementara Juventus sudah dua kali menjadi juara yaitu pada 1985 dan 1996. Bahkan Juve sudah memainkan pertandingan dalam jumlah sangat banyak, 258 pertandingan.

Hal tersebut mirip dengan pertandingan antara PSG dan Real Madrid. Meskipun PSG berhasil menjadi juara grup dengan hasil impresif dan mencetak 24 gol di babak penyisihan, tapi hal tersebut tak ada artinya di depan Madrid. PSG sampai hari ini belum pernah menjuarai Liga Champion, bahkan hasil terbaiknya adalah menjejak babak perempat final. Sementara Real Madrid adalah Raja Eropa dengan 12 trofi Liga Champion. Bahkan seandainya Neymar kemarin bisa bermain, sepertinya tetap tidak akan menolong PSG.

Tradisi bermain di Liga Champion akan membangun mentalitas sebuah tim. Semakin banyak sebuah tim bermain di Liga Champion, akan semakin kuat mentalitasnya. Bahkan saat mereka sudah lama tidak bermain di Liga Champion, mereka tetap memiliki peluang untuk melaju di babak selanjutnya. Hal tersebut ditunjukkan oleh Liverpool. Meskipun sempat diragukan karena keroposnya lini belakang Liverpool, ternyata Si Merah melaju dengan mulus hingga perdelapan final.

Liga Champion 2017/2018 bakal menjadi salah satu tahun terbaik Liga Champion, karena tim-tim dengan tradisi besar sudah lolos atau berpeluang lolos. Berdasar prediksi saya tim yang akan lolos adalah Liverpool, Manchester City, Bayern Muenchen, Real Madrid, Juventus, Barcelona, Manchester United, dan AS Roma. Dari daftar di atas, enam tim punya tradisi kuat, kecuali City dan Roma. Tapi City sekarang dilatih oleh Guardiola yang punya tradisi kuat di Liga Champion. Jadi bila AS Roma lolos, hanya tim ini yang tak memiliki tradisi dan mentalitas kuat di Liga Champion.

Pertanyaan besarnya tinggal pada Manchester City, seberapa jauh mereka bisa melaju? Dari catatan sejarah, City termasuk tim yang terbilang "hijau" di Liga Champion. Nasibnya mirip dengan PSG, punya skuat hebat tapi tak pernah meraih prestasi nyata di Liga Champion. Guardiola jadi faktor penentu apakah dia bisa mengubah tradisi tersebut. Sampai babak 16 besar City termasuk tim dengan penampilan konsisten di Liga Champion. Namun, hal tersebut tak bisa jadi jaminan. Mampukah Guardiola mengubah kutukan City di Liga Champion? Kita tunggu penampilan mereka di babak perempat final.