Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Blogger Biasa

Kompasianer of The Year 2019 | Nomine Best in Spesific Interest Kompasianival' 19 | Admin Ketapels | IG @agunghan_ | agungatv@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Nostalgia Ramadan di Masa Kecil, dari Subuh hingga Taraweh

19 April 2021   17:15 Diperbarui: 19 April 2021   18:15 354 6 1 Mohon Tunggu...

Di usia yang sudah tidak muda lagi, rasanya banyak sudah kisah Ramadan saya lalui. Terutama Ramadan masa kecil, yang setiap detil kejadian tak mungkin saya lupakan. Mengingat Ramadan di kampung, tak ubahnya melakukan kilas balik masa silam.

Kemudian di benak bermunculan sketsa sketa lucu,  tetapi sekaligus menerbitkan haru. Mengingatkan pada nama nama lama tak bersua, sebagian nama sudah meninggalkan alam fana. Ramadan di kampung, membekaskan kasih sayang ayah ibu sekaligus pembelajaran berpuasa.

Saya yakin kisah kanak-kanak serupa ada di mana-mana, kemungkinan besar dialami banyak anak-anak pada umumnya. Misalnya di siang bolong ada yang (sengaja) membatalkan puasa, tapi pura-pura puasa dan ikut heboh saat berbuka-- saya pernah, hehehe. Setelah bangun dari tidur siang, tanpa sadar menenguk segelas minuman-- ini rejeki namanya.

Belum lagi ada isu di kalangan anak-anak, bahwa nangis menjadi penyebab batalnya puasa. Isu ini benar-benar membuat saya mati kutu, sehingga kakak saya puas godain bungsunya. Dan saya dibuat berusaha keras, menahan air mata agar tidak keluar

"Hayo, jangan mewek. Batal puasamu" ledek kakak

Saat mengalami kejadian ini, rasanya kesel banget. Dan saat mengingatnya sekarang, yang ada saya tersenyum-senyum sendiri.

Nostalgia Ramadan Masa Kecil dari Subuh hingga Taraweh

Saya yakin Kompasianer sepakat, bahwa masa kecil adalah masa yang paling indah. Pasalnya dunia ini isinya hanya  bermain, belum ada tanggung jawab dan belum merasakan beratnya beban hidup. Ada ayah dan ibu diandalkan, selalu turun tangan ketika buah hati terkena masalah.

Makanya puasa saat anak-anak, tak jarang meninggalkan banyak kisah unik. Saya punya segudang cerita, dan beberapa saya cuplikan sembari bernostalgia.

Jalan- jalan Subuh

Subuh di hari Ramadan berbeda dengan subuh di hari biasa, kami anak-anak sangat bersemangat. Sebelum waktu imsak tiba, kami geng anak-anak SD berkumpul. Berjalan menyusuri jalanan desa, menikmati udara pagi sembari bercanda khas anak-anak.

Di tengah jalan biasanya bertemu kelompok lain, saling melontarkan candaan atau ejekan ringan. Melewati depan pasar, sekolah, puskesmas, kantor kecamatan, kantor KUA, dan setelah terdengan adzan baru kami menuju masjid.

Selesai sholat subuh dan kuliah subuh, kegiatan jalan-jalan dilanjutkan biasanya tidak seramai sebelum subuh. Mengingat langit mulai terang, sebagian kami diwanti wanti segera pulang. Saya sesekali diminta membantu ibu ke pasar, membuka warung dan menata dagangan. Teman lain ada yang membantu ayahnya ke ladang, ada yang membantu pekerjaan di rumah dan lain sebagainya.

Bikin Kemah- kemahan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN