Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Wiraswasta - Blogger Biasa

Kompasianer of The Year 2019 | Admin Ketapels | Instagram @agunghan_ | agungatv@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mendobrak Kelaziman

8 Agustus 2015   02:41 Diperbarui: 8 Agustus 2015   02:41 176 4 5
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

[caption id="attachment_357099" align="aligncenter" width="640" caption="dok.pribadi"][/caption]

Setiap kali pergi berbelanja kebutuhan sehari hari di supermarket yang berdiri sendiri atau yang menjadi satu dengan sebuah Mall, hal jamak yang sering terjadi adalah mendapati musholla atau tempat sholat selalu diletakkan disudut ruangan yang susah dijangkau. Bisa di lantai basement bersebelahan dengan lokasi parkir yang panas berpenerangan minim atau dekat kantin karyawan yang terletak terpisah dari Mall konsisten dengan kondisi mengenaskan. Sampai di lokasi tempat ibadah rasa prihatin semakin membulat dan mengutuh, tempat ibadah yang disediakan oleh Mall mewah itu terkesan seadanya digelarlah karpet warna merah atau hijau yang sudah menipis, sajadah kumal pada bagian atas serat benangnya menonjol akibat sering dipakai sujud oleh banyak kepala, plus menghembuskan aroma tak sedap. Ubin yang bersembunyi dibawah karpet hanya plesteran semen kasar yang menyimpan butiran pasir akibat remahan tembok yang jatuh akibat permukaan dinding belum sempurna dihaluskan semen. Ceplakan kaki basah usai berwudhu sering langsung nyelonong masuk musholla karena keset yang disediakan tak berwajah layaknya pengering kaki, sudah berbaur dengan debu dan tanah terkoyak tak ubahnya kain serbet usang yang lebih pantas berada di tempat sampah. Satu lagi masalah ikutan nimbrung untuk sekedar mengusir keringat akibat suhu yang panas di dalam musholla cukuplah dipasang satu atau dua kipas angin tempel yang bisa menggeleng geleng agar semilir udara akibat putaran baling baling bisa menjangkau sudut ruangan. Kondisi kipaspun sudah jauh dari kategori higenis tempelan debu menjelaga di sekujur permukaan akibat jarang dibersihkan.

Pederitaan belumlah legkap terlebih bagi kaum perempuan yang tidak membawa mukena sendiri, suka tak suka, terpaksa atau menyediakan diri harus memakai mukena yang ada. Biasanya kain rukuh ini disampirkan pada gantungan baju atau dilipat tak rapi ditumpuk pada rak kecil kadang malah dibiarkan merana diatas lantai berkarpet pada sudut belakang musholla. Alhasil para ibu harus mengantre ketika dua atau tiga mukena yang disediakan sudah dipakai ibu yang lebih dulu selesai mengambil air wudhu. Soal penampakan mukena jangan ditanya, yang sedianya berwarna putih bersih sudah bertransformasi mengarah warna kecoklatan dan efek banyaknya keringat yang menempel dari banyak orang akan berbaur dengan bau yang sudah tak terdefinisikan lagi.

Begitulah kenyataan yang terjadi disebagian besar tempat umum khususnya pusat perbelanjaan yang berpendingin maksimal, (mungkin) management masih melihat musholla sebagai tempat tersisih yang tak memberi efek bagi peningkatan omset. Sekaligus Musholla dianggap sebagai lokasi yang tidak profitable mengingat tak ada pihak yang bertanggung jawab menanggung biaya sewa, otomatis pihak management sendiri enggan memangkas pendapatan demi anggaran operasional mengurusi sebuah tempat sholat.

 ************

Namun tunggu dulu kelaziman yang terjadi disebagian besar pusat perbelanjaan tiba tiba terbatahkan, meski masih bisa dihitung dengan jari setidaknya sebuah pusat perbelanjaan di wilayah elit di kawasan Tangerang Selatan mencoba merubah paradigma publik yang sudah terlanjur melekat. Saya yang kebetulan bermukim di pinggiran wilayah tersebut lumayan dibuat berdecak kaget melihat ketidakbiasaan yang terpampang didepan mata. Sebuah bangunan megah layaknya sebuah tempat ibadah yang permanen berdiri menonjol, karena berdiri di pelataran parkir yang notabene ada di depan sebelah kiri Supermarket besar tersebut. Menyatu dengan tempat parkir mobil tetapi dibuat cantik seketika menerbitkan rasa penasaran di hati, saat berkumandang panggilan sholat masih beberapa menit saya sengaja datang untuk melengkapkan kekaguman itu. Ubin mengkilap terhampar layaknya masjid raya yang berdiri megah ditengah lokasi strategis, sajadahpun tertata rapi dan berbahan tebal tentu tak kumal. Posisi beribadah bagi kaum ibu dipisah dengan kain berwarna hijau menjuntai kontras dengan warma sajadah, luar biasa dan takjub itu yang tersimpan di benak. Tempat berwudhlu terjajar beberapa kran yang seragam sehingga tak perlu berlama antre, ada lorong penghubung Supermarket ke masjid memudahkan calon jamaah sholat wajib tak kehujanan ataupun kepanasan ketika mengejar waktu sholat tiba. Masjid dirancang bak bangunan rumah panggung dibawah cor lantai masjid bisa digunakan parkir mobil agar tak kepanasan, dan ketika sholat jumat tempat parkir disulap fungsi untuk gelar sajadah menampung jamaah shalat yang membludak untuk menjalankan kewajiban sebagai umat muslim.

[caption id="attachment_357100" align="aligncenter" width="640" caption="dok.pribadi"]

14097925371131372356
14097925371131372356
[/caption]

[caption id="attachment_357101" align="aligncenter" width="560" caption="lorong ke masjid-dok.pribadi"]

14097925891383759792
14097925891383759792
[/caption]
[caption id="attachment_357102" align="aligncenter" width="630" caption="dalam masjid-dok.pribadi"]
1409792692395584657
1409792692395584657
[/caption]

[caption id="attachment_357103" align="aligncenter" width="640" caption="tempat wudhu-dok.pribadi"]

1409792794341756631
1409792794341756631
[/caption]

Setelah mencukupkan diri menikmati kenyamanan masjid sembari menuntaskan kelegaan itu kumandang adzan mulai terdengar, satu dua orang berdatangan menuju tempat wudhu. Saya yang sudah lebih dulu ada di masjid tak perlu antre mengambil air wudhu, semenit dua menit berjalanlah watu. Ketika melongok ke jendela kaca dari dalam masjid terlihat lalu lalang pengunjung supermarket berjalan seperti biasanya tak ada terlihat yang bergegas menyambut adzan kecuali beberapa orang yang sudah berada di dalam masjid dan masih menunaikan shalat sunnah. Sepuluh menit berlalu tiba waktunya iqomat penanda shalat duhur segera dimulai, sampai sang imam mengucap takbir sekian luas lantai masjid masih melompong hanya berisi satu baris shaft saja yang menunaikan shalat sisanya entahlah.

Saya yakin sebenarnya banyak pengunjung yang berkewajiban melaksanakan shalat tapi mungkin memiliki pertimbangan lain yang lebih diutamakan, misalnya menyelesaikan belanja dulu toh waktu duhur masih panjang hingga menjelang ashar sekita jam 15.30-an. atau mungkin makan siang dulu saja daripada shalat dengan perut lapar menganggu kekhusyu'an jadi makan saja dulu, atau bisa jadi ada berniat shalat di rumah saja setelah urusan selesai lagian sedang ngobrol seru masalah bisnis kalau dijeda shalat konsentrasinya bisa terbelah. Serta banyak alasan alasan lain yang menjadi pembenaran bagi diri sendiri.

Usai shalat duhur ditunaikan benak saya kembali ciut, mengapa tempat ibadah yang sebagaus ini, mengapa fasilitas yang sudah disediakan dan dibuat semudah mungkin ternyata tak serta merta menggerakkan hati untuk mengutamakan shalat. Okelah mungkin waktu shalat memang panjang, tetapi bukankah dengan mendahulukan shalat menjadi cerminan apa dan siapa yang menjadi prioritas dalam keseharian ini. Langkah saya bergegas meninggalkan masjid mengingat ada keperluan lain, membayang upaya management pusat perbelanjaan yang sudah mengedepankan tempat ibadah ternyata tak sepenuhnya berbalas dari mayoritas pengunjung. Tapi setiap niat baik sudah tercatat satu pahala apalagi niat baik itu sudah dikerjakan tercatat pahala lagi, maka niat pembangunan masjid kemudian mewujudkannya semoga menjadi catatan kebaikan bagi pihak management pusat perbelanjaan dan semua yang terlibat sekecil apapun (aminn)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan