Mohon tunggu...
Agung Widiatmoko
Agung Widiatmoko Mohon Tunggu... Pekerja Biasa

Menulislah selama bisa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Puasa Rakyat

25 Mei 2019   16:53 Diperbarui: 25 Mei 2019   17:08 0 2 0 Mohon Tunggu...

Marhaban ya Ramadhan kalimat - kalimat yang selalu menghiasi ketika akan memasuki bulan Ramadhan, bulan dimana orang orang berubah secara drastis baik dari segi budaya kultur dan juga kebiasaan. Bulan dimana banyak ustadz ustadzah dadakan muncul kepermukaan, dan ayat ayat suci kalimah Tuhan didendangkan dimana mana, dipinggir jalan, sudut - sudut gang bahkan sampai di kolong jembatan, bulan dimana wajah wajah suci menjadi laris dan jumlahnya bermilyar milyar di seantero semesta raya yang bernama Bumi.

Di bulan ini manusia begitu sangat kental spiritnya dalam agama, mereka yang biasa tidur di sore hari pada betah melek untuk berlomba lomba itikaf di masjid, membaca ayat suci, dan bangun pagi untuk sahur dan berpuasa menahan lapar dan dahaga dari menjelang subuh hingga maghrib tiba. Para ustadz memulai ceramahnya bahwa dibulan yang penuh berkah ini ibadah yang kita lakukan akan dilipat gandakan sedemikian rupa celetuknya, saya berharap semoga apa yang di sampaikan nya bukan hanya bualan dan juga cuma bisikan angin syurga.

Dalam nalarku yang sempit ini aku bertanya apa ada bulan yang tidak penuh berkah? Apa untuk ibadah harus menunggu Ramadhan tiba? Sebegitu hebatkah Ramadhan itu dibandingkan dengan bulan lainya? Aku berpendapat bahwa ramadhan hanya sesi latihan seperti warming up ketika kita akan bermain sepak bola atau badminton, sedang bulan bulan setelahnya adalah sesi permainan dimana kita harus menunjukan permainan yang sebenarnya setelah berlatih satu bulan lamanya selama Ramadhan.

Lalu sebenarnya apa itu puasa? Yang berpuasa adalah mereka yang rela menahan segala macam keinginan, ambisi, ego dan nafsu serta hal lainya demi terciptanya suatu goal tertentu yaitu ridho dari Tuhanya. Kaum jomblo, misalnya. Mereka rela menjomblo bertahun tahun. Cobalah tanya kepada mereka apakah mereka mau menjomblo tentu akan dijawab serentak dengan keras, "Tidak", tetapi apakah mereka bisa menolaknya? Apakah mereka lantas memaki orang orang yang sudah menikah, atau yang berpacaran? Tentu saja tidak. Sebab, kejombloan bagi mereka adalah sebuah konsekwensi atas sebuah pilihan menurut saya ini adalah bentuk puasa yang juga sangat real selama mereka tidak membatalkan puasanya dengan pergi ketempat2 lokalisasi dan lain sebagainya dan sabar menunggu waktu berbuka yaitu ketika pernikahan tiba.

Jika ditarik kedalam ranah kehidupan ber Negara sebenernya rakyat sedang berpuasa, betapa rakyat masih saja menahan amarahnya dengan tidak berontak dan makar pada pemerintahan di Negaranya sekalipun setiap detik dan harinya selalu di dholimi oleh Negara yang dikelola oleh Pemerintah yang menjabat di Negaranya. Bahkan Puasa rakyat adalah bentuk Puasa yang sangat sangat tinggi secara hakikat dan pemaknaanya, dimana mereka tetap legowo dan tertawa riang ketika justru rumahnya di gusur, dan lain sebagainya, mereka hanya mengumpat sesaat kemudian begejekan lagi di warung warung kopi sambil sesekali berfikir bagaimana nasib anak cucu dan generasinya mendatang.

Kerusuhan tanggal 22 may kemarin juga hanya merupakan sebuah keamarahan kecil meskipun sedikit memgurangi nilai "Puasa" rakyat dalam bernegara, tetapi belum mengindikasikan bahwa rakyat akan secepatnya membatalkan puasa dengan berbuka apalagi berhari raya. Ibarat orang sedang berpuasa ia sudah mengendalikan amarahnya namun karena keterlaluan akhirnya ia terpaksa marah tetapi setelah kemarahanya redah ia begejekan lagi, kalo dalam sudut pandang agama bisa di kaitkan dengan istighfar, setelah orang itu marah kemudian sadar maka ia beristighfar sehingga tenanglah hatinya.

Puasa rakyat kepada negaranya nampaknya mempunyai maqom yang setara sufi atau wali, dimana rakyat terus menerus di rugikan tak pernah meminta jatah bulanan dari megara tetapi justru malah beramal salih dan menjalankan kewajibanya sebagai warga Negara dengan membayar pajak setiap bulanya guna menggaji ASN. Mulai dari pangkat Jenderal sampai Prada, mulai dari Presiden sampai pegawi ASN kelas biasa. Kalo dari segi kedudukan sebenarnya rakyat ini tuan Rumah, pemilik Rumah, tetapi hanha berharap rumahnya, tanahnya di kelola oleh para karyawan yang telah di berikan wewenangnya untuk mengelola dan menjabat sebagai pengelola Negara atau pemerintah.

Sayangnya Justru setelah sudah di gaji, di kasih makan, di pilih, malah sok seperti pemilik rumah seperti tuan nya dan menganggap Rakyat sebagai pemiliknya adalah hambatan, ancaman dan lain sebagainya. Ketika rakyat meminta para karyawanya atau pejabat turun karena dinilai kerjanya gak beres justru di hadang oleh aparat keamanan yang notabene senjata dan peluru beserta pakaianya juga dibelikan rakyat.

Tapi rakyat tetap tersenyum karena masih belum akan membatalkan puasanya atau berniat berbuka dan berhari raya, hanya saja hal ini jangan diteruskan sebab kalo rakyat sudah menggemakan berbuka puasa dan ingin berhari raya maka langit akan mengamininya dan bahkan para malaikat akan ikut bertasbih dan bertakbir kepada mereka, belum rakyat masih belum akan berbuka maka tunggulah dan percepatlah jika memang menginginkanya.


Agung widiatmoko
25 may 2019 - Malang