Mohon tunggu...
AGIL S HABIB
AGIL S HABIB Mohon Tunggu... Just Me..

Berbisik Dalam Sunyi, Bersuara Dalam Senyap

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Saat Pencapaian Karier Butuh Sesuatu yang Lebih dari Sekadar Kecakapan Profesi

5 April 2021   08:21 Diperbarui: 6 April 2021   19:45 233 13 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saat Pencapaian Karier Butuh Sesuatu yang Lebih dari Sekadar Kecakapan Profesi
Ilustrasi gambar: Shutterstock via nypost.com

Menggapai posisi tinggi dalam suatu profesi tertentu umumnya dianggap sebagai sebuah prestasi hebat yang layak untuk dikagumi dan juga diapresiasi. Sebuah raihan atas kinerja yang unggul dan dedikasi yang mumpuni atas bidang pekerjaan yang dijalani oleh seseorang. 

Paling tidak anggapan semacam itulah yang mengendap di benak sebagian orang terhadap sebuah pencapaian yang didapat oleh orang-orang di dekatnya. 

Lantas tatkala ada di antara kita yang berhasil menggapai sesuatu yang tinggi "hanya" berbekal dari efek utang budi seseorang terhadap dirinya maka tidak sedikit yang menganggap bahwa hal itu merupakan suatu keberuntungan belaka, dan bukanlah suatu pencapaian yang dilandasi oleh suatu prestasi besar yang memang layak diganjar demikian.

Apakah sebuah kebaikan yang memicu lahirnya utang budi didalam diri seseorang tidak pantas disebut sebagai prestasi yang patut diapresiasi? Apakah orang-orang yang berhasil menggapai jabatan tinggi oleh sebab masa lalunya yang tulus untuk membantu orang lain tidak layak menjadi jembatan perkembangan kariernya? 

Kalau boleh dibilang sebenarnya prestasi itu tidak selalu tentang intelegensi, tidak melulu perihal produktivitas profesi. Akan tetapi juga terdapat diantaranya peran ketulusan hati untuk meringankan beban orang lain. Apapun bentuk dan wujudnya.

Dalam hal ini di manakah letak korelasi antara tindakan baik seseorang yang membuahkan utang budi disisi orang yang menerima tindakan baik tersebut sehingga membuat si empunya tindakan baik tersebut layak diganjar dengan peningkatan kariernya yang luar biasa? 

Mereka yang rela berkontribusi bagi orang lain yang sebenarnya bisa saja ia abaikan pada dasarnya memiliki kapabilitas untuk mengedepankan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. 

Dengan kata lain sifat egois itu jauh dari diri mereka. Dan sepatutnya mereka yang berhak memperoleh kepercayaan lebih pada perjalanan kariernya adalah orang-orang yang berkenan untuk mengutamakan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.

"Ada sisi lain kehidupan yang barangkali tidak kita sangka-sangka keberadaannya justru menjadi alasan utama atas layak tidaknya seseorang meraih apresiasi yang layak didalam kariernya atau tidak."

Memang terkesan klise membicarakan kesediaan seseorang untuk berkorban bagi orang lain. Apalagi di tengah-tengah zaman modern seperti sekarang ini di mana perbuatan semacam itu acapkali dipandang sebagai sesuatu yang "aneh", langka, bahkan cenderung "primitif". 

Berbuat sesuatu dengan orientasi all about you atau all about us biasanya terkesampingkan oleh hasrat untuk mengutamakan kepentingan diri di atas segala-galanya. Di mana all about me terlihat sebagai prinsip dasar yang diyakini sebagai prioritas utama setiap orang.

Tiket Awal

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN