Mohon tunggu...
Agil S Habib
Agil S Habib Mohon Tunggu... Founder Sang Penggagas; Penulis Buku Powerful Life; Seorang Pecinta Literasi; Bisa dihubungi di agilseptiyanhabib@gmail.com

Berkarya dan hidup bersamanya

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Kombinasi Idealisme dan Pragmatisme, Kunci Sukses dalam Berkarier

15 Agustus 2019   07:26 Diperbarui: 15 Agustus 2019   11:00 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kombinasi Idealisme dan Pragmatisme, Kunci Sukses dalam Berkarier
Idealisme vs pragmatisme atau kombinasi keduanya? | Ilustrasi gambar : www.beritabanjarmasin.com

Kata orang, bekerjalah sesuai passion maka kita akan merasakan bekerja tidak seperti bekerja. Bekerja akan terasa nikmat untuk dijalani. Bekerja senikmat kita bermain. Sudah cukup banyak contoh orang-orang yang mencapai tahap keberhasilan berkarir tatkala menekuni passion dan mengikuti idealismenya. 

Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan beberapa nama lain barangkali merupakan sosok-sosok yang cukup merepresentasikan "pelaku" idealisme dan "pengikut" passion. Namun benarkah mengikuti idealisme dan menjalani passion dapat menjamin kita menuju puncak karir?

Ketika belakangan ini hangat diperbincangkan perihal "keruntuhan" salah satu stasiun televisi swasta millenial, NET TV, banyak analisis dilayangkan perihal penyebab dari kejatuhan stasiun televisi paling kreatif ini. Wishnutama selaku pendiri NET TV yang dikenal bertangan dingin dikancah dunia pertelevisian memang menawarkan konsep acara televisi yang cukup inovatif untuk tontonan publik. 

Sangat jauh berbeda dibandingkan sebagian besar stasiun televisi swasta lain yang masih mengandalkan sinetron atau sejenisnya sebagai program andalan. Pada awal keberadaannya, NET TV menggebrak seiring kreativitasnya yang unik beserta gagasan sang CEO yang benar-benar mengusung idealismenya dalam menjalankan program televisi. 

Secara pribadi, apa yang dilakukan oleh sang CEO sangatlah bagus karena membuat program-program televisi lebih berwarna. Televisi bisa menjadi ajang penyaluran kreativitas yang unik, tidak semata menampilkan drama atau sinetron yang itu-itu saja. 

Sayangnya, idealisme sang CEO ternyata tidak mendapatkan imbal balik yang sepadan dari pasar. Rating-rating acaranya rendah sehingga berimbas pada pemasukan iklan. Hal inilah yang ditengari membuat NET TV berjalan menuju jurang kebangkrutan.

Wishnutama bukanlah sosok baru dalam dunia pertelivisian Indonesia. Ia pernah cukup berhasil mengelola TRANS TV sebelum akhirnya memutuskan keluar dan mendirikan NET TV demi sebuah idealisme. TRANS TV masih tetap bisa bertahan sampai sekarang meskipun ditinggalkan oleh Wishnutama. 

Meski tidak bisa dipungkiri bahwa acara-acara TRANS TV atau TRANS 7 sebagian diantaranya sudah "tidak jauh berbeda" dengan beberapa televisi lain yang begitu pragmatis mengejar rating. Acara-acara gosip, kemudian reality show yang terkesan lebay menjadi bagian dari program TRANS. 

Meski program acara seperti ini terkesan hanya mengikuti pasar namun ternyata hal ini penting untuk mengangkat rating dan menarik iklan masuk. Bagaimanapun juga, iklan adalah nafas utama dunia pertelevisian tanah air. Dan sikap pragmatis dengan program acara yang juga pragmatis tetap dibutuhkan untuk mengimbangi idealisme agar tidak kebablasan.

Steve Job dan Mark Zuckerberg mungkin berhasil dengan konsep idealismenya, karena mereka berada diantara komunitas masyarakat yang menjunjung tinggi idealisme. Sedangkan Wishnutama berada di dalam lingkungan yang tidak sepenuhnya idealis, tapi masih memiliki kecenderungan pragmatis. 

Sehingga mengombinasikan antara idealisme dan pragmatisme menjadi sebuah cara yang lebih tepat untuk meniti karir jangka panjang. Mendewakan idealisme harus diimbangi dengan keberadaan pragmatisme sebagai penyeimbang antara mengekspresikan selera pribadi sekaligus mengakomodir selera pasar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x