Agil S Habib
Agil S Habib Insinyur

Berkarya dan hidup bersamanya

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Dirgahayu BTN! Menuju Era Digitalisasi Perumahan

20 Februari 2019   13:07 Diperbarui: 20 Februari 2019   13:15 109 4 1
Dirgahayu BTN! Menuju Era Digitalisasi Perumahan
Sumber gambar : www.beritamoneter.com

Didalam tingkatan piramida Maslow, kebutuhan akan hunian atau tempat tinggal merupakan jenis kebutuhan yang posisinya setingkat lebih tinggi daripada kebutuhan paling dasar manusia seperti makan, minum, serta pakaian. Keberadaan tempat untuk ditinggali merupakan sesuatu yang sangat diharapkan karena ia bisa memberikan rasa aman, nyaman, dan juga stabilitas hidup bagi seseorang.

Terlebih di era modern seperti sekarang ini, dimana bertempat tinggal di goa bukan lagi sebuah pilihan sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat di zaman purba dahulu. Hunian yang layak atau tempat tinggal yang memadai adalah kebutuhan yang bisa dibilang sangat mendesak untuk dipenuhi.

Meski mungkin itu sekadar berada di rumah kontrakan atau sewa, setidaknya hal itu akan jauh lebih memberikan rasa tenang daripada harus tinggal dibawah kolong jembatan atau tidur berserakan di depan emperan toko-toko maupun tempat-tempat umum lainnya.

Bertempat tinggal di kos-kosan atau rumah kontrakan mungkin sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan atas rasa aman, dan rasa nyaman. Namun akan selalu ada rasa yang berbeda antara berada di rumah milik orang lain dengan rumah milik sendiri.

Ada keterbatasan untuk berkreasi, ada rasa segan dalam berbuat sesuatu, dan ada kekhawatiran sewaktu-waktu diusir dari tempat tinggal itu karena satu dan lain hal. Sehingga opsi untuk memiliki rumah sendiri akan selalu menjadi pilihan terbaik daripada tinggal ditempat milik orang lain, meski mungkin tempat orang lain itu terlihat lebih mewah atau memberikan fasilitas lebih memadai sekalipun.

Saat ini kita tengah berada diambang era ledakan penduduk usia produktif atau bonus demografi. Dengan harapan bahwa usia produktif mampu berkontribusi aktif dalam kemajuan ekonomi tanah air, tentu saja hal itu akan berdampak positif terhadap banyak hal.

Jumlah konsumsi yang meningkat, taraf hidup masyarakat membaik, dan kondisi ekonomi yang positif adalah efek yang diharapkan dari kehadiran bonus demografi ini. Siapakah mereka yang menjadi bagian dari penduduk usia produktif ini? 

Dari data yang dilansir oleh Pew Research center melalui The New York Times sebagaimana dikutip oleh beritagar.id, generasi milenial adalah mereka yang terlahir antara tahun 1981 sampai 1996. Jika ukurannya adalah ditahun 2019, maka generasi milenial adalah mereka yang memiliki rentang usia antara 23 -- 38 tahun.

Sebagaimana diberitakan oleh finansial-bisnis.com baru-baru ini, jumlah penduduk usia produktif di Indonesia sudah mencapai angka 31,32% dari total populasi, dan dalam 10 tahun mendatang bonus demografi usia produksi masyarakat Indonesia akan mencapai angka 48,3%. Tentu ini merupakan sebuah kesempatan besar bagi bangsa kita untuk lebih maju dan lebih berkembang, khususnya dalam hal peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup.

Meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat perlu memperhatikan banyak aspek. Secara sederhana, kehidupan seseorang akan semakin sejahtera seiring terpenuhinya aspek-aspek kebutuhan dasarnya dan terus meningkat sebagaimana digambarkan oleh piramida kebutuhan Abraham Maslow.

Apabila tahap kebutuhan fisiologis seperti makanan, minuman, serta pakaian sudah tidak lagi menjadi masalah maka kebutuhan untuk memiliki hunian biasanya menjadi prioritas selanjutnya. Mengacu pada Nawa Cita yang dicanangkan oleh pemerintah, program sejuta rumah merupakan langkah yang ditempuh oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.

Seiring dengan terus meningkatnya populasi usia produktif di masa mendatang, maka bisa dikatakan bahwa program sejuta rumah ini akan banyak menyasar mereka-mereka yang berada pada rentang usia produktif. Dengan kata lain, generasi milenial akan menjadi sasaran utama dari pemberdayaan program sejuta rumah dari pemerintah ini.

Sebagai tangan kanan pemerintah, Bank Tabungan Negara (BTN) sudah terbukti bisa diandalkan untuk menjadi lokomotif program sejuta rumah ini. Melihat track record sebelumnya, BTN sudah sangat berhasil mendukung keluarga Indonesia untuk memiliki huniannya sendiri. Sejak tahun 2015 ketika program ini diinisiasi oleh pemerintah hingga pada tahun 2017 yang lalu saja BTN telah berkontribusi terhadap pembangunan sekitar 1,44 juta unit rumah (sumber : btn.co.id).

Dengan masih banyaknya masyarakat yang belum memiliki rumah, dan dengan masih dilanjutkannya program sejuta rumah ini, BTN akan terus menjadi andalan selama beberapa waktu kedepan demi mewujudkan harapan segenap warga negara untuk memiliki huniannya sendiri. Sebagaimana dikutip dari majalah SWA, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah menargetkan program sejuta rumah di tahun 2019 ini sebesar 1,25 juta unit.

Tentu ini adalah kabar baik bagi kita, khususnya yang masih tinggal di rumah kontrakan, kos, ikut orang tua atau mertua, atau yang belum memiliki hunian sendiri. Mungkin yang perlu menjadi perhatian bersama pada waktu-waktu mendatang adalah terkait aspek kemudahan dalam pengurusan kepemilikan rumah ini. Sehingga diharapkan setiap elemen masyarakat mendapatkan proporsi dan kesempatan yang sama untuk memiliki rumah idamannya masing-masing.

Memiliki hunian sendiri adalah dambaan setiap orang. Hanya saja tidak semua orang mampu memilikinya dengan mudah, baik itu membeli secara tunai atau melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Membeli cash sebuah rumah menuntut jumlah finansial yang tidak sedikit, sehingga tidak banyak yang mampu melakukannya. KPR adalah opsi yang paling sering diambil oleh sebagian besar orang dalam upayanya memiliki rumah hunian sendiri yang baik dan layak.

Meskipun begitu, banyak yang mengisahkan bahwa mengurus KPR itu tidaklah mudah. Bisa dibilang ribet bin sulit dan butuh waktu panjang. Mencari perumahan yang cocok, menentukan harga yang pas, menyediakan uang muka, melengkapi berkas, mengurus surat-surat kelengkapan pengajuan, menunggu interview, dan lain-lain. Semua itu tidak akan langsung selesai dalam satu atau dua hari saja. Bahkan bisa mencapai hitungan bulan untuk merampungkan segala hal terkait pengadaan sebuah rumah. 

Padahal yang kita tahu saat ini, era teknologi sudah berkembang dengan demikian pesatnya. Bahwa seseorang yang ingin berbelanja atau membeli sesuatu saja cukup hanya dengan bermodalkan ketikan jari dilayar smartphone miliknya dan tidak lama kemudian transaksi sudah selesai dilakukan. Hal-hal yang sebelumnya ribet dan butuh proses panjang nan melelahkan bisa dikikis secara signifikan sehingga memudahkan seseorang untuk menjalankannya.

Kita berharap bahwa segala jenis proses transaksi bisa diselesaikan melalui digitalisasi. Kita sudah bisa memesan taksi dengan teknologi digital, kita bisa memesan makanan melalui aplikasi digital, kita bisa berbelanja melalui portal digital. Kita hidup di era digital yang begitu memanjakan kemudahan dalam melakukan banyak hal. 

Di masa mendatang, barangkali menjadi harapan kita bersama bahwa proses memiliki suatu hunian inipun bisa semudah dan sesederhana melakukan transaksi digital lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2