Mohon tunggu...
Afriantoni Al Falembani
Afriantoni Al Falembani Mohon Tunggu... Administrasi - Dosen dan Aktivis

Menulis dengan hati dalam bidang pendidikan, politik, sosial, fiksi, filsafat dan humaniora. Salam Sukses Selalu.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Petani Gula Menggugat dari Timur Jawa

8 Mei 2018   21:51 Diperbarui: 8 Mei 2020   14:58 909
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dalam pertemuan silaturahim tersebut Musdhalifah Machmud sebagai Deputi Menko Ekonomi bidang Pangan dan Pertemanan. Semua gabungan para petani gula dan sejenisnya berusaha untuk menegaskan bahwa:

Pertama. Dalam waktu dekat akan diadakan pertemuan antar kementerian. Terkait, untuk membahas agar segera ada ketetapan Keputusan harga acuan pembelian gula petani sesuai hasil Survei BPP Tebu dan Gula tahun 2018 seperti yang tertuang dalam surat Dirjenbun Kementan RI No : 42/KB.110/E/03/2018 tertanggal 29 maret 2018.

Kedua. Petani tebu yang mendapatkan Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) masuk dalam katagori kredit produktif, sehingga apabila sudah dilunasi bisa dipinjamkan dan dikembalikan untuk usaha produktif pertanian tebu diurus seterusnya.

Ketiga. Dalam menghadapi pasar global petani tebu dan industri gula yang bermitra dengan oetani didalam negeri harus bisa memiliki daya saing dengan mampu meningkatkan produktivitas.

Keempat.endala yang dihadapi para petani maupun pihak pabrik gula yang bermitra dengan petani terkait produktivitas agar dituangkan dalam sebuah usulan tertulis untuk dijadikan bahan pertimbangan pemerintah dalam menetapkan keputusan regulasi tentang pergulaan nasional.

Demikianlah situasi pergulaan terutama kondisi objektif petani gula yang diteriakkan oleh petani dari sudut Timur Jawa yang terus berikhtiar untuk kesejahteraan mereka, sulit memang. Mereka dalam luasnya wilayah bagian cukup penting bagi bangsa ini.  

Tetapi, mereka tetap semangat dan bergairah untuk membuat bangsa ini terhindar dari krisis gula. Mereka menjadikan kesulitan sebagai tantangan dari semua ikhtiar mereka. Mereka terus berusaha berjuang demi keadilan dan kesejahteraan.

Tidak ada kata yang patut untuk diungkapkan dalam kemelut petani gula ini. Tetapi, keyakinan dalam diri mereka menjadi sebuah impian mewujudkan harapan masa depan. Walau tinggal harapan bagai lilin yang menerangi gelap yang luas. (*)

Teruslah Berikhtiar

Ikhlaskan Perjuangan

Raih Keadilan dan Kesejahteraan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun