Mohon tunggu...
Affa 88
Affa 88 Mohon Tunggu...

Ojo Dumeh, Ojo Gumunan, Ojo Kagetan.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Awas! Islamiasi Oleh KOMPAS(iana)

2 Juni 2010   12:31 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:48 781 0 0 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_156490" align="alignleft" width="300" caption="Kompas, belum sepenuhnya di hati rakyat"][/caption]

DALAM suatu waktu saya mencoba mempromosikan kegemaran saya menulis di Kompasiana kepada teman-teman saya. Promosi gratis ini sebagai implikasi dari hobi saya yang ingin saya salurkan kepada orang lain. Saya merasa hobi saya menulis ini banyak manfaatnya terlebih tempatnya cukup memadai yakni layanan online di rubrik perusahaan kanal berita www.kompas.com. Yang jelas sasaran promosi saya adalah teman-teman saya yang notabene sudah gemar menulis atau membaca. Minimal dari mereka mencintai buku dan tulisan. Harapan awal saya adalah saya dapat mengajak mereka menunjukkan skill mereka dalam melukiskan pemikirannya. Terlebih kebanyakan dari mereka memiliki blog di beberapa situs blog terkemuka.

Namun, ketika saya mendengar respon-respon mereka yang praktis sangat negativf,saya mulai berpikir lain. Kenegatifan atas saran saya tercermin dari penjelasan mereka yang santun. Bahwa kodart mereka memang tidak dapat untuk mencintai KOMPAS, dan tentu tidak ingin bergelut untuk KOMPAS dan Kompasiana. Ini bukan hal yang asing bagi saya karena bisa jadi mereka sudah menggemari situs online lainnya dan tidak ingin berpindah ke lain hati. Namun, alasan detailnya adalah bukan itu melainkan karena fatktor religious. Sebuah factor sensitive yang seharusnya tidak dituangkan sebagai alasan untuk tidak menulis dalam sebuah  media tulisan. Ya, karena KOMPAS adalah media yang dari dulu mencoba mereka hindari. Harian KOMPAS, dan portal berita KOMPAS.COM  menjadi buah bibir bagi mereka karena media itu ‘dinilai' begitu gencar mempublikasikan berita-berita miring dan mengundang kontroversi di agama Islam. Seperti memecah belah Islam dan bisa saya sebut sebagai sarana Kristenisasi. Kenapa Kristen? Jelas barang tentu karena pemilik dan pimpinan media tertua ini adalah orang-orang nasrani. Baginya, di balik media massa itu berkuasa orang-orang yang memiliki kedekatan dengan kalangan misionaris, bahkan di antaranya adalah misionaris itu sendiri. Mereka menjadikan media massa yang ada untuk menghantam kepentingan-kepentingan Islam. Ini kian lengkap dengan bercokolnya pihak-pihak Kristen di jajaran pengambil kebijakan di media tersebut.

Anti-pati terhadap KOMPAS kemudian dijelaskan dalam sebuah cerita teman saya ini. Adalah Tulisan tendensius tentang MUI ini dimuat di Kompas edisi Senin, 8 September 2008, halaman 44, di rubrik Bentara, melalui tulisan Sumanto Al Qurtuby dengan judul, "Mendesain Kembali Format Dialog Agama". Dalam tulisan itu Sumanto menuding MUI sebagai sumber kekerasan yang kemudian langsung dibantah oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Ridwan yang menilai Kompas memang menjadi alat Katholik atau missi zending. Jadi apa-apa yang merugikan umat Islam pasti dimuat, termasuk tulisan yang menyerang MUI. Seharusnya jika harian itu menggunakan kaidah jurnalistik yang benar, ada klarifikasi terlebih dahulu dari pihak-pihak yang akan dirugikan dari tulisan tersebut. Pemuatan tulisan yang menyerang MUI ini tentu bukan karena unsur ketidaksengajaan. Berkali-kali harian yang diterbitkan oleh kelompok Katholik ini melakukan hal serupa. Sikap tersebut tampaknya memang sudah menjadi ideologi Kompas selama ini. Contoh lain, dalam kasus eksekusi mati Tibo dan kawan-kawan, misalnya. Kompas hampir seratus persen menjadi corong mereka yang menolak eksekusi mati tersebut, sebagaimana tercermin melalui berbagai opini yang dipublikasikannya. Dalam pemberitaannya, KOMPAS hampir tidak pernah memberikan ruang bagi mereka yang pro eksekusi mati Tibo cs yang sudah jelas telah membunuh ratusan santri Ponpes Wali-songo, Poso, dengan tangannya sendiri. Keberpihakan terhadap mereka yang kontra eksekusi mati Tibo, menunjukkan bahwa sebagai media nasional Kompas tidak punya hati nurani. Harian itu bukan saja mengabaikan amanat hati nurani rakyat yang menjadi mottonya, tetapi juga telah melukai rasa keadilan umat Islam. Selain itu kasus RUU-Anti Pornografi, teroris dsb juga menjadi bahan alasan logis yang menjadikannya menolak untuk KOMPAS dan anak cabangnya.

Hal berbau rasisme ini sebenarnya pernah dibahas di forum diskusi bulanan Kompasiana Modis ke II bersama Jakob Oetama (pimpinan kompas). Adalah  Linda Djalil, wartawan senior yang menanyakan hal ini langsung kepada sumbernya. Dalam diskusi itu Jakob Oetama dengan uraiannya menerangkan bahwa pada masa pendirian harian KOMPAS bahwa salah satu pendirinya adalah pemimpin partai Katholik namun, salah satu pendirinya pula adalah tokoh negosiator Indonesia bernama Mohammad Roem. Meskipun dalam perjalannannya Mohammad Roem tidak begitu aktif di KOMPAS bukan berarti seharusnya KOMPAS menjadi ajang kristenisasi.

Terus terang saya tidak begitu setuju atas penjelasan menolaknya teman-teman saya untuk bergabung ke kompasiana.  Harian KOMPAS, www.kompas.com, maupun kompasiana seharusanya tidak dilihat hanya dari satu sisi saja lebih-lebih dari sisi yang sangat sensitif dengan menimbang bahwa karya tulis dan berita adalah suatu seni. Suatu arena komunikasi dalam rangka memasyarakatkan informasi. Baiklah jika mereka menolak publikasi dari KOMPAS, akan tetapi bukankah jika ajakan saya untuk bergabung dengan kompasiana itu publikasi dari kita. Karena kita tahu bahwa kanal kompasiana diciptakan untuk tujuan dari, oleh dan untuk kita. Karya kita, tulisan kita dan pemikiran kita. Namun, bukan berarti saya tidak setuju pernyataan KH Cholil Ridwan yang lebih menilai pada aktivitas KOMPAS, bukan Kompasiana. Kritik dari MUI adalah wujud dari bagaimana seharusnya media massa hidup bermasyarakat. Kritik membangun agar KOMPAS lebih adil, seimbang dan netral dalam kasus-kasus sensitif yang butuh perhatian publik.

Kembali ke kompasiana, jikapun melihat kearah historis sturktural organisasi, kompasiana dalam ide pendiriannya berangkat dari dari fakta bahwa tidak semua jurnalis akrab dengan blog. Jangankan punya, membaca blog orang barangkali belum pernah. Jadi, merupakan langkah maju dan terobosan tak terduga manakala sejumlah jurnalis Kompas menyatakan diri ingin menjadi bagian dari Kompasiana dan bahkan sudah langsung mencurahkan pandangan dan gagasannya. (tentang kami kompasiana). Kemudian tim adminnya pun bukan orang-orang anti Islam seperti Taufik H Mihardja (Managing Director) dan Iskandar Zulkarnaen (Editor).

Dalam perkembangannya kompasiana jelas mengutamakan tulisan yang bagus bukan yang berbau rasis dan kristenisasi. Headline maupun tulisan-tulisan tervaforit minggu ini, terpopuler, terpilih dan terbanyak jelas bukan berbau mengkristenkan orang Islam. Salah satu ajang non-kristenisasi adalah terfavoritnya artikel "Sungai di Bawah Laut, Bukti Kebenaran Al-Qur'an?". Sebuah tulisan peneguhan Islam yang meski copypaste namun tetap menjadi buruan pengunjung.

Nah, apakah kompasiana juga dianggap sebagai system tersembunyi kristenisasi oleh kalangan tertentu maupun oleh kita. Bagi saya, jikapun benar adanya ada upaya orang-orang KOMPAS untuk dalam publikasi berita kristenisasi, seharusnya kompasiana justru sebagai pembenteng hal itu terjadi. Tulisan di kompasiana jelas adalah karya kita sendiri. Kita bebas menyuarakan dakwah Islam di sini dipadu dengan seni tulis yang indah tentunya. Semakin banyak muslimin yang bergabung ke sini semakin kencang laju "islamisasi" di kanal blog anak cabang portal berita kompas.com ini.

[caption id="attachment_156493" align="alignleft" width="293" caption="Mari Ber-Islamisasi !"][/caption]

Terlepas kontroversinya, saya selalu mengharapkan KOMPAS pada khususnya untuk selalu mengedepankan publikasi tulisan, artikel, berita yang tidak mengindikasikan untuk dinilai sebagai anti-Islam jika tidak ingin realita bahwa ternyata banyak kalangan penulis yang ragu untuk berkiprah di kompasiana semakin meluas. Lantas, harapan saya bahwa pengunjung baik yang sudah memiliki akun maupun unique visitors Muslim agar tanpa ragu untuk menulis di sini bahkan model Islamisasi pun. Tulisan Dakwah, Ubudiyyah, Syariah, Taushiyah, maupun hal-hal lain dari Agama terbesar di Indonesia ini dapat dipublis untuk memperkaya khasanah kompasianers dan tentu sebagai ajang Islamisasi Kompasiana sebagai bukti bahwa KOMPAS(iana) bukanlah ajang kristenisasi, melainkan Islamisasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x