A.I
A.I Mahasiswa

Senang membaca, sepakbola, juga bertualang. Saat ini sedang menjalani tahapan industrialisasi pendidikan sebagai: Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Jurnalistik) Semester IV

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Valentine untuk Munir

17 Februari 2017   21:34 Diperbarui: 17 Februari 2017   22:06 157 1 1
Valentine untuk Munir
Sumber gambar: AFP

Valentine itu haram! Demikian cuitan seorang kawan di salah-satu medsos. Bisa dimaklumi sebab, kawan tadi seseorang yang terkena syndrome Tuna Asmara—tak memiliki pasangan—yang menolak menjadi korban keganasan kapitalisme global dalam mengeksploitasi para muda-mudi yang dimabuk asmara, untuk menghambur-hamburkan uang di hari kasih sayang.

Jika derita kaum tuna asmara semakin dialeniasi dengan adanya Hari Valentine, maka hanya ada satu kata: Lawan!

Entah logika dari mana yang digunakan untuk mengenang sebuah kematian dengan saling bertukar kado, cokelat dan sebagainya. Apakah mereka sudah membaca sejarah tentang St. Valentine?

Konon kabarnya, Hari Valentine dimulai pada zaman Romawi Kuno, yang terkait kepercayaan Paganisme. Perayaan Paganisme sendiri bertujuan sebagai bentuk doa agar diberi kesuburan dan dilaksanakan pada tanggal 15 Februari. Lalu, Gereja Katolik menetapkan 14 Februari sebagai Saint Valentine Day.  Jika ditilik dari sejarahnya, peristiwa yang berjarak selang sehari tersebut memang saling berkaitan.

Saint (Santo) Valentine yang namanya dijadikan sebagai lambang kasih sayang—tiap 14 Februari—adalah seorang Santo kenamaan di era Romawi Kuno. Pada zaman itu, Romawi Kuno dipimpin oleh seorang Kaisar bernama Claudius II. Sang Kaisar mengeluarkan sebuah maklumat: para prajurit diharamkan menikah. Alasanya karena prajurit tuna asmara—jomblo—lebih profesional saat berperang, tinimbang mereka yang telah menikah. Pernikahan = penghambat produktifitas. Buat pembaca yang jomblo, silahkan bertepuk dada.

Kembali ke Saint Valentine. Si Santo enggan mengindahkan aturan dari Sang Kaisar. Kenyataannya Santo secara diam-diam memfasilitasi—menikahkan—seorang prajurit. Singkat kata, Santo kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Sang Kaisar.

Santo rela mati demi cinta. Betapa tidak, dia melanggar aturan demi mewadahi keinginan para prajurit untuk mengikat janji suci bersama gadis pujaan hati. Jika ditarik secara luas, apa yang dilakukan oleh Saint Valentine adalah sebuah perlawanan terhadap tirani. Dalam perjalanannya, tragedi ini diperingati secara masif oleh pemuda-pemudi di Eropa dengan saling berkirim Valentines—kartu cinta—sebagai bentuk perayaan.

Entah hanya dongeng, atau sebuah kisah nyata. Tapi, kisah ini tercium juga oleh jaringan kaum kapitalis secara global. Toko-toko di berbagai belahan dunia, sibuk mendandani etalase-nya dengan pernak-pernik Hari Valentine seperti: bunga, boneka, cokelat serta segala macam produk yang bisa menggambarkan kasih sayang. Di Amerika bahkan Valentine Day menjadi perayaan kedua terbesar setelah Natal dan Tahun Baru.

***

Di Indonesia, perayaan Valentine juga tak kalah meriah. Maklum, selepas era Orde Baru—arus informasi, serta benih kapitalisme tumbuh subur di Negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Bahkan, beredar kabar jika ada yang menjual cokelat dengan bonus kondom. Mungkin mereka beranggapan bahwa kondom adalah sebuah bentuk kasih sayang. Luar biasa!

Lalu bagaimana cara agar perayaan Hari Valentine di Indonesia bisa bermakna positif?

Tak bisa dipungkiri jika Hari Valentine, memicu pro-kontra di Indonesia. Apalagi semenjak banyaknya beredar ulama-ulama kontemporer--yang berasal dari Pesantren Google—berseliweran di media sosial. Tanpa membuka tafsir, mereka mampu memfatwa: sesat, kafir, halal dan haram. Di negara ini memang vonis semudah memainkan keyboarddi smartphone.

Kerelaan Saint Valentine untuk mati demi mewujudkan cita dan cinta para prajurit Romawi Kuno, harusnya bisa dipandang dengan sudut yang lebih luas. “Segala hal yang terjadi, pasti memiliki nilai positif” ujar Emha Ainun Nadjib dalam sebuah ceramahnya. Begitu pun dengan Saint Valentine. Secara substansial, apa yang dilakukannya adalah sebuah muslihat perlawanan pada pemerintah yang oportunis.

Harus diakui bahwa perayaan hari Valentine bukanlah budaya leluhur Indonesia. Namun, nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Saint Valentine, sudah sejak dulu ada di Indonesia. Tidak satu-dua Saint Valentine yang lahir di Bumi Pertiwi. Ambil contoh: Munir—yang rela mati demi tegaknya kemanusiaan—juga patut dirayakan.

Apa yang terjadi pada Saint Valentine dan Munir adalah sebuah kepadanan. Mereka sama-sama dibunuh—saat coba melawan tirani—demi mewujudkan nilai kemanusiaan yang kaffah. Lalu mengapa di Indonesia gaung 14 Februari lebih terasa, dibanding 7 September—yang merupakan hari kematian Pahlawan Kemanusiaan negeri ini sendiri? Sudah lupa?

Saint Valentine; Munir Said. Selamat Hari Valentine; Selamat Hari Kemanusiaan.