Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Film Coco "Kandidat Kuat" Peraih Piala Oscar 2018?

12 Desember 2017   09:54 Diperbarui: 12 Desember 2017   10:20 2607
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pada minggu lalu, saya "ngidam" ingin menonton film Coco. Apalagi, setelah membaca artikel seorang kompasianer yang mengulas film tersebut pada minggu lalu, perasaan "ngidam" itu terasa semakin kuat sehingga "memaksa" kaki ini berangkat ke sebuah bioskop di kawasan Bekasi pada Sabtu petang kemarin.

Film Coco diawali dengan sebuah narasi yang disampaikan oleh Miguel, seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun, yang menjadi tokoh utama dalam film tersebut. Lewat narasi yang dirajut dengan animasi yang apik, Miguel menceritakan bahwa keluarganya memiliki tradisi yang unik. Mereka semua "membenci" musik. Setelah ditelusuri, kebencian itu ternyata muncul sejak nenek buyutnya, yaitu Mama Imelda Rivera, melarang semua turunannya untuk berkarier sebagai musisi.

Hal itu tentu bisa dimaklumi. Sebab, suaminya, yang akan terungkap jelas identitasnya pada akhir cerita, lebih memilih musik daripada keluarganya. Makanya, suaminya kemudian tega meninggalkan Imelda demi mengejar impian menjadi musisi "papan atas".

Imelda yang sempat kecewa berat lalu "bangkit" memperbaiki hidupnya. Sendirian dia merawat dan mendidik Coco, putri semata wayangnya, dengan menjadi pembuat sepatu. Sejak saat itu, dimulailah "dinasti" keluarga pembuat sepatu yang diwariskan turun-temurun.

Namun demikian, tradisi itu mendapat "ancaman" dari Miguel, yang secara terang-terangan menyatakan kecintaannya pada musik. Di kamar rahasianya, Miguel menyimpan semua foto Ernesto de la Cruz, musisi idolanya. Namun, begitu mengutarakan niatnya untuk menjadi musisi kondang, seperti Ernesto, Miguel justru mendapat tentangan hebat dari keluarganya. Pada "titik" itulah, Miguel harus menentukan pilihan: musik atau keluarga.

Miguel akhirnya memilih musik dan minggat dari rumahnya. Dia pergi ke alun-alun kota. Di sana sedang diadakan sebuah kompetisi nyanyi dalam rangka perayaan Hari Kematian yang biasa diperingati setahun sekali di Meksiko, dan Miguel ingin betul mengikutinya. Namun, sayangnya, dia tak punya gitar sehingga ditolak tampil oleh panitia.

Bersama Dante, sekor anjing kampung yang berkulit abu-abu, Miguel kemudian pergi ke makam Ernesto de la Cruz untuk "meminjam" gitar milik musisi pujaan hatinya itu. Sewaktu dia mencoba memainkan lagu dengan gitar itu, keanehan pun terjadi. Fisik Miguel berubah wujud, dan dia bisa melihat arwah di sekitar pekuburan. Sejak saat itulah, petualangannya di Negeri Orang Mati dimulai.

miguel
miguel
Film-film Disney Punya Tradisi Kuat Meraih Oscar

Sebagai satu film "besutan" Disney (juga Pixar tentunya), sudah sepantasnya Coco disandingkan dengan film-film Disney lainnya, macam Brave, Frozen, Inside Out, dan Zootopia. Makanya, kita boleh menyebut bahwa film Coco adalah "kandidat kuat" peraih Oscar pada tahun depan.

Hal itu bisa saja terjadi. Sebab, selama lima tahun terakhir, film-film Disney yang disebutkan di atas sukses menyabet Piala Oscar di kategori Film Animasi Terbaik. Sekadar informasi, Brave mendapat Oscar pada tahun 2013, Frozen pada tahun 2014, Inside Out pada 2016, dan Zootopia pada 2017. Hanya satu kali Disney absen "memanen" Oscar, yaitu pada tahun 2015, yang "jatuh" ke tangan Big Hero 6.

film inside out karya disney yang meraih oscar pada tahun 2016 (sumber: https://www.mindful.org/wp-content/uploads/2015/07/InsideOut556500e6a2be0-2040.0.jpg)
film inside out karya disney yang meraih oscar pada tahun 2016 (sumber: https://www.mindful.org/wp-content/uploads/2015/07/InsideOut556500e6a2be0-2040.0.jpg)
Kemudian, hal lain yang juga mendukung terwujudnya hal itu ialah tema yang diusung. Biarpun mempunyai latar cerita yang beragam, saya melihat sebuah "benang merah", yang menghubungkan beberapa film itu, yaitu refleksi terhadap keluarga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun