Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Lajang di Indonesia Hidup "Lebih" Bahagia, Mitos atau Fakta?

21 Agustus 2017   15:16 Diperbarui: 22 Agustus 2017   02:45 1947
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber foto: http://i.huffpost.com

Sekitar tiga hari lalu, sewaktu menyaksikan sebuah berita di Metrotv, saya sempat tertegun. Pasalnya, tayangan itu menguak data BPS yang memperlihatkan indeks kebahagiaan penduduk Indonesia.

Berdasarkan data itu, masyarakat mengaku bahagia tinggal dan hidup di Indonesia. Biarpun alasan yang menyebabkan kebahagian berbeda-beda, setidaknya hal itu menjadi kabar baik bahwa negera kita masih "disukai" dan "dicintai" oleh masyarakatnya.

Namun demikian, bukan cuma itu yang unik. Keunikan lainnya ialah data bahwa lajang yang disurvei oleh BPS ternyata memiliki indeks kebahagiaan yang lebih tinggi daripada mereka yang sudah menikah. Indeks yang diperoleh mencapai 68,36.

Indeks itulah yang membikin saya termenung hingga tercetus sebuah pertanyaan, "Betulkah para jomblo di Indonesia hidup lebih bahagia? Kalau memang iya, lantas apakah yang menyebabkan mereka bisa hidup happy?" Pertanyaan itu sedikit-banyak "mengusik" kepala saya.  

Namun demikian, jika menyinggung soal kebahagiaan, saya tiba-tiba terkenang sebuah artikel yang pernah saya baca beberapa tahun lalu. Isi artikel itu menyebut daftar negara-negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi.

Sewaktu menyusuri daftar negara-negara tersebut, saya sempat garuk-garuk kepala. Pasalnya, di situ tak terdapat negera-negera maju, macam Amerika Serikat, Jerman, atau Jepang, yang secara ekonomi jauh lebih kaya daripada negara lainnya.

Namun, anehnya, saya malah mendapati negara seperti Bhutan yang sempat menduduki peringkat satu sebagai negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi di dunia. Saya agak heran. Apa saya salah baca? Ternyata tidak! Sebab, artikel lain pun menyuarakan hal yang sama.

Lantas, bagaimana Bhutan, sebuah negara kecil di Himalaya, bisa dinobatkan demikian? Usut punya usut, ternyata masyarakat Bhutan memandang bahwa kekayaan materi yang dimiliki tak terpengaruh besar terhadap kebahagiaan hidup mereka.

Mayoritas penduduk Bhutan menganggap bahwa kalau sudah punya sebidang tanah untuk tempat tinggal dan pertanian, mereka sudah merasa bahagia. Makanya, mereka tak terlalu tertarik membeli mobil mewah, menyewa jet pribadi, atau mengenakan pakaian mahal. Asalkan sudah punya sepetak tanah, mereka sudah bahagia. Hanya itu.

Setidaknya itulah ukuran kebahagiaan yang "diyakini" oleh masyarakat Bhutan. Namun, apakah ukuran itu berlaku juga untuk negara lainnya? Ternyata tidak juga. Sebab, kebahagiaan itu bersifat subjektif. Kebahagiaan itu terletak di wilayah rasa, bukannya logika. Makanya, apa yang menurut orang lain bisa membuat hidup lebih bahagia, belum tentu itu bisa membikin hidup kita bahagia juga.

Jadi, kalau kita menghubungkannya dengan data BPS yang disinggung sebelumnya, akan muncul sebuah pertanyaan: "Apa 'ukuran' yang dipakai oleh BPS sewaktu menyurvei para lajang di Indonesia hingga menyimpulkan kalau mereka punya indeks yang lebih tinggi daripada yang sudah menikah?"

Saya rasa untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu memikirkan semua variabel yang mungkin dipilih, sebab terkadang orang yang disurvei bisa saja bingung menentukan "alasan" untuk bahagia.

Lho kok bisa? Menurut saya, semua itu dapat terjadi lantaran ada suatu "bias" dalam memaknai kebahagiaan. Untuk membuktikannya, tanyalah pada lima orang yang lewat di stasiun, terminal bus, atau tempat umum lainnya: "Apa yang bikin anda happy?" Jawabannya pasti bermacam-macam. Dari situ sebetulnya kita tak bisa "pukul rata" terhadap tingkat kebahagiaan suatu masyarakat.

Lagipula, kalau para lajang di Indonesia dinilai sudah hidup senang, enak, dan bahagia, mengapa situs pencari jodoh, macam tinder, setipe,dan cinlok, punya ribuan member? Apa mereka ingin "menurun"kan tingkat kebahagiaan mereka dengan mulai hidup berpasangan dan berkeluarga? Hahahahahahaha.

Makanya, sampai sekarang, saya merasa bahwa survei tentang tingkat kebahagiaan suatu masyarakat perlu dikaji lagi, sebab variabel yang dipakai sangatlah luas dan beragam. Selain itu, koresponden yang ditanya pun mesti diseleksi betul-betul agar bias terhadap makna kebahagiaan dapat diminimalkan.

Salam.

Adica Wirawan, founder of Gerairasa.com   

Referensi:

"Survei BPS: Orang Lajang Indonesia Paling Bahagia," cnnindonesia.com, diakses pada tanggal 21 Agustus 2017.

"Panduan Mencapai Kebahagiaan ala Dalai Lama," nationalgeographic.co.id, diakses pada tanggal 21 Agustus 2017.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun