Ade Suryaman
Ade Suryaman Forester

SKMA 2001 UP // Teknisi Litkayasa pada Balai Penelitian dan Pengembangan LHK Makassar

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Pupuk Kompos pada Kentang Tingkatkan Taraf Hidup Masyarakat Babangeng

10 Agustus 2018   23:20 Diperbarui: 11 Agustus 2018   10:01 912 5 2
Pupuk Kompos pada Kentang Tingkatkan Taraf Hidup Masyarakat Babangeng
Tim PLTMH BP2LHK Makassar melihat kondisi tanaman Kentang daeng Harun di dusun Babangeng Kabupaten Bantaeng (Dokumentasi Pribadi)

Masyarakat Babangeng merupakan Kampung Mandiri Energi, dimana sudah terdapat listrik PLTMH yang dibangun pada tahun 2015 oleh Tim PLTMH BP2LHK Makassar yang dipimpin oleh Ir. Hunggul Yudono SHN, M.Si. 

Dengan melihat potensi dalam bahan pembuatan pupuk kompos, seperti tersedianya rumput, dedaunan dan kotoran ternak baik sapi, kuda, ayam dan kambing dalam jumlah yang melimpah, maka Tim PLTMH berinisiatif membantu masyarakat Babangeng dalam pembuatan kompos ini. Babangeng dapat ditempuh dari kota Makassar sekitar 120 km, yang ditempuh selama 4 sampai 5 jam. 

Kampung Babangeng ini termasuk dalam wilayah Dusun Bonto Jonga, Desa Pabumbungang, Kecamatan Ere Merasa, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan. 

Tanaman Kentang yang tumbuh subur di dusun Babangeng Kabupaten Bantaeng (Dokumentasi Pribadi)
Tanaman Kentang yang tumbuh subur di dusun Babangeng Kabupaten Bantaeng (Dokumentasi Pribadi)
Dengan bantuan daeng Harun, sebagai warga sekaligus ketua dari kelompok Sipakatau di Babangeng ini diharapkan bisa menggerakkan masyarakat dalam pengaplikasian pupuk kompos pada masing-masing kebunnya. 

Pada awalnya, masyarakat hanya menggunakan pupuk kandang saja (campuran kotoran ayam dan sekam, yang dibeli dari luar dusun dengan harga Rp. 20.000,- per karung) untuk memenuhi kebutuhan pupuknya, namun hasil panennya dirasa masing kurang maksimal.

Daeng Harun menjelaskan ke Tim PLTMH BP2LHK Makassar tentang tanaman Kentang (Dokumen Pribadi)
Daeng Harun menjelaskan ke Tim PLTMH BP2LHK Makassar tentang tanaman Kentang (Dokumen Pribadi)
Masyarakat Babangeng ini diajarkan tentang cara pembuatan pupuk kompos yang mudah, murah dan tepat dalam penggunaan. Adapun alat yang perlu disiapkan dalam pembuatan pupuk kompos ini yaitu cangkul, sekop, parang dan alat penyemprot, sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah EM4, gula pasir, air, dan ember sebagai tempat perendaman, bahan utamanya adalah kotoran sapi dan kotoran kuda, rumput atau dedaunan yang telah dicacah serta lubang untuk penyimpanan hasil dari pupuk kompos ini.

Hal awal yang perlu dilakukan adalah, membuat bahan cairan yang terdiri dari EM4 sebagai dekomposer yang mempercepat kompos dalam proses fermentasi, gula pasir dan air. 

Larutkan 500 liter EM4, 0.5 kg gula pasir dan 50 liter air dalam wadah ember, lalu aduk secara merata, kemudian diamkan selama 24 jam untuk proses fermentasi. 

Pembuatan dilanjutkan dengan pengumpulan rumput dan daun yang telah dicacah sebanyak 2 bagian dicampur dengan kotoran ternak 1 bagian, kemudian diaduk secara merata oleh cangkul atau sekop. Sambil mengaduk, semprot bahan tersebut secara merata menggunakan cairan hasil rendaman EM4.

Tanaman Kentang berpadu dengan indah di dusun Babangeng Kabupaten Bantaeng (Dokumentasi Pribadi)
Tanaman Kentang berpadu dengan indah di dusun Babangeng Kabupaten Bantaeng (Dokumentasi Pribadi)
Setelah semua bahan tercampur dengan rata, maka masukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan sebelumnya, ukuran lubang disesuaikan dengan kebutuhan pembuatan kompos, ukuran lubang yang dibuat oleh daeng Harun yaitu panjang 1,5 m, lebar 1,5 m dan kedalaman 1,5 m. Setelah itu, kemudian lubang ditutup rapat menggunakan plastik atau karung goni. 

Pada hari ketujuh, campuran kompos dibolak-balikkan, hal ini untuk mempercepat proses pengomposan. Setelah kompos jadi, biasanya sekitar 21 hingga 30 hari dengan penampakan sudah menghitam dan dipegang tidak menempel ditangan, maka pupuk kompos siap digunakan pada lahan tanaman kentang yang telah disiapkan.

Waktunya pengaplikasian pupuk di lapangan, hal pertama yaitu pembersihan lahan dari rumput dan tanaman gulma lainnya, kemudian dibuatkan bedeng-bedeng dan campurkan dengan pupuk kompos yang telah dibuat sebelumnya, larikan untuk jalan dan saluran air. 

Sehari setelah pemupukan, dilakukan penanaman bibit kentang dengan jarak 7 cm pada bedeng yang berukuran panjang 7 m, lebar 40 cm dan jarak antar bedeng 50 cm. Dua bulan kemudian, dimana daun sudah tumbuh dengan subur, dilakukan penyemprotan menggunakan pupuk daun selama 3 minggu, dimana penyempotan ini dilakukan setiap seminggu sekali.

Penyemprotan menggunakan pupuk daun oleh daun Harun (Dokumentasi Pribadi)
Penyemprotan menggunakan pupuk daun oleh daun Harun (Dokumentasi Pribadi)
Satu bulan kemudian, tanaman kentang ini sudah siap untuk dipanen oleh daeng Harun. Sebagai perbandingan untuk tahun lalu, dengan kondisi tanaman Kentang yang hanya diberikan campuran pupuk kandang (campuran kotoran ayam dan sekam), daeng Harun bisa menghasilkan Rp. 1.500.000,- per larikan bedeng. Jadi totalnya 4 x Rp. 1.500.000,- = Rp. 6.000.000,- per sekali panen. 

Untuk panen pada tahun ini, harga per larikannya naik menjadi Rp. 2.500.000,-. Jadi totalnya 4 x Rp. 2.500.000,- = Rp. 10.000.000,- per sekali panen. Ini dikarenakan tingkat kesuburan tanahnya meningkat, sehingga hasil panennya juga ikut meningkat. Hasil panen dengan menggunakan pupuk kompos ini bisa meningkatkan taraf hidup warga masyarakat Kampung Babangeng, sehingga ke depannya masyarakat bisa lebih mandiri.

Tanaman Kentang yang sudah siap dipanen di kebun daeng Harun (Dokumentasi Pribadi)
Tanaman Kentang yang sudah siap dipanen di kebun daeng Harun (Dokumentasi Pribadi)
Melihat dari pengalaman itu, sekarang banyak warga Babangeng yang belajar sama daeng Harun untuk pembuatan pupuk kompos, bahkan ada warga yang dari luar kampung Babangeng yang ikut belajar juga. Karena sudah ada bukti yang bisa mereka lihat. Mereka kini mencoba untuk menerapkan di lahan kebunnya masing-masing. Seperti kata pepatah "Guru, merupakan pengalaman yang terbaik".

Salam Hangat,

(Ade Suryaman)