Mohon tunggu...
Achmad Siddik Thoha
Achmad Siddik Thoha Mohon Tunggu... Dosen - Pengajar dan Pegiat Sosial Kemanusiaan

Pengajar di USU Medan, Rimbawan, Penelusur dan Peneliti Kebakaran Hutan dan Lahan, Pengelola Komunitas Pohon Inspirasi, Perawat Komunitas Kongkrit, Aktivis Relawan Indonesia untuk Kemanusiaan dan Penulis Buku KETIKA POHON BERSUJUD. Follow @achmadsiddik

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Perlunya Mengawal Fatwa MUI tentang Haramnya Berburu Harimau

28 Februari 2017   11:38 Diperbarui: 28 Februari 2017   16:09 484 6 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perlunya Mengawal Fatwa MUI tentang Haramnya Berburu Harimau
Sumber gambar: mongabay.co.id

Bila mendengar kata harimau, sebagian masyarakat menunjuk pada satwa buas yang menakutkan. Banyak pandangan masyarakat yang masih memosisikan bahwa satwa mamalia berkulit belang ini merusak, mengganggu dan merugikan. Pemberitaan media juga sering menyebutkan bahwa ada “tindakan jahat” harimau ketika terjadi konflik dengan manusia.

Persepsi negatif terhadap harimau tersebut menyebabkan upaya konservasi harimau menghadapi jalan terjal. Harimau yang tersisa yaitu Harimau Sumatera di Indonesia di ambang kepunahan menyusul dua jenis lain yang sudah punah yaitu Harimau Jawa dan Harimau Bali. Harimau Sumatera hidup di sisa ekosistem yang sebagian besar mendapat tekanan besar dari aktivitas manusia seolah dianggap sebagai musuh yang harus dilawan dan dibinasakan oleh sebagian orang.

Fakta Harimau Sumatera dan Habitatnya
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu-satunya sub-spesies harimau yang tersisa di Indonesia, setelah punahnya Harimau Jawa (P. t. sondaica) dan Harimau Bali (P. t. balica) di tahun 1980-an dan 1940-an. Data paling umum digunakan sebagai perkiraan jumlah Harimau Sumatera saat ini adalah sekitar 400-500 individu, meskipun data ini muncul dalam dokumen Sumatran Tiger Action Plan tahun 1994.

Selama lebih dari dua dekade, laju kehilangan luas hutan sebagai habitat utama Harimau di Sumatera mencapai 2% per tahun dari total luas kawasan hutan negara. Tutupan hutan, baik primer maupun sekunder telah menyempit dari 25,3 juta hektar di tahun 1985 menjadi 12,8 juta hektar di tahun 2009. Khusus untuk hutan primer, diketahui sejumlah 2,9 juta hektar telah terbuka pada selang tahun 2000 dan 2012. Kehilangan terbesar berada pada hutan lahan basah primer, sebesar 1.5 juta, dan hutan primer dataran rendah sebesar 1,2 juta hektar.

Deforestasi terutama terjadi pada wilayah yang lebih mudah aksesibilitasnya cocok sebagai lahan budidaya (hutan primer dataran rendah) atau terdapat sejumlah klaim oleh masyarakat lokal (terutama pada hutan lahan basah). Wilayah-wilayah ini juga merupakan areal yang kaya keanekeragaman hayati dan habitat terbaik bagi Harimau Sumatera.

Ancaman terhadap program konservasi Harimau Sumatera semakin tinggi oleh meningkatnya kerusakan habitat akibat deforestasi dan degradasi hutan dari kegiatan pembukaan lahan pertanian dan perkebunan, kebakaran hutan dan pembalakan hutan. Habitat Harimau Sumatera juga menghadapi bayang-bayang kerusakan yang makin luas dengan meningkatknya tren peningkatan pembangunan infrastuktur yang menambah fragmentasi habitat. Tekanan yang tidak kalah serius adalah perdagangan Harimau Sumatera yang diperdagangkan sekitar 50 ekor per tahun pada rentang waktu 1998–2002.

Pendekatan Sosia-Kultural dalam Konservasi Harimau Sumatera
Saat ini upaya konservasi Harimau Sumatera telah banyak dilakukan. Upaya konservasi masih menekankan pada perlindungan spesies, penurunan ancaman habitat, penegakan hukum dan penguatan kelembagaan para pihak. Banyak lembaga donor yang antusias mendanai proyek konservasi Harimau Sumatera di Indonesia, tapi ancaman terhadap spesies dan habitatnya masih terus berlangsung.

Harimau Sumatera (dok sains.kompas,com)
Harimau Sumatera (dok sains.kompas,com)
Upaya konservasi Harimau Sumatera yang belum digarap secara sistematis dan berkelanjutan adalah pendekatan sosio-kultural. Pendekatan sosio-kultural ini intinya adalah mengubah persepsi Harimau Sumatera dari hewan yang “negatif” menjadi satwa kebanggaan dan satwa yang disayangi. Bisa dikatakan bahwa kita perlu membangun image baru secara masif bagi harimau agar masyarakat beralih menjadikan harimau sebagai satwa kebanggaan.

Masyarakat tradisional sebenarnya sudah menempatkan harimau sebagai satwa yang “terhormat” bahkan keramat. Di beberapa wilayah Sumatera, harimau diberi sebutan “Datuk” dan sangat tabu memperbincangkan harimau sembarangan. Keberadaan “Datuk” di kampung dipertahankan berikut juga habitatnya. Masyarakat tradisional percaya bahwa keberadaan harimau akan menjaga keseimbangan alam sekaligus menjaga hutan di sekitar mereka.

Beberapa pakar dan praktisi konservasi Harimau Sumatera yang berkumpul dalam “Inception Workshop Sumatran Tiger: Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation on Priority Sumatera Lanscapes”yang diadakan di Bogor, 27-28 Februari 2017 sepakat untuk mempromosikan pendekatan sosio-kultural untuk konservasi Harimau Sumatera. Pendekatan ini melibatkan masyarakat melalui promosi even tentang sosialisasi konservasi harimau, memasukkan materi harimau dalam kurikulum muatan lokal, memasukkan tema konservasi harimau dalam khutbah keagamaan, sosialisasi Fatwa Haram MUI tentang haramnya melakukan aktivitas perburuan Harimau Sumatera, memperluas jaringan komunitas peduli konservasi harimau dan upaya lain yang melibatkan partisipasi masyarakat seluas mungkin.

Perlu diketahui, bahwa sudah ada Fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu tentang haramnya perburuan Harimau Sumatera di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Fatwa MUI ini atas masukan dari Lingkar Institute, sebuah LSM di Bengkulu yang sangat mengkhawatirkan akan punahnya Harimau Sumatera di TNKS.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x