Mohon tunggu...
Hanif Ahmad
Hanif Ahmad Mohon Tunggu... Chef & Penulis Buku Cerita Mang Nata

Menulis Untuk Panjangkan Kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Menyiasati Amarah untuk Solusi Kebaikan

14 September 2019   05:08 Diperbarui: 14 September 2019   05:22 0 1 0 Mohon Tunggu...
Menyiasati Amarah untuk Solusi Kebaikan
Cooking Demo bersama chef hanif

Anah lajnah :
Kalau menurut abah apakah marah itu boleh atau tidak, abaaah ?

Abah nata :
Marah itu sebuah sarana bagaimana tujuan  instan bisa tercapai ?

Anah lajnah :
Kenapa disebut tujuan instan abah ?

Abah nata :
Iyaaah, tujuan instan atau sesaat, orang mau berubah karena ada marah bos misalnya. Bukan atas dasar kesadarannya sendiri, kalau tidak ada bos ya, nyantai seperti di pantai. Berleha-leha, lalai,  kemudian terjadi kesalahan.

Anah lajnah :
Jadi marah itu boleh atau tidak abah ?

Abah nata :
Setiap orang boleh marah. Tapi sebaik-baiknya marah adalah yang disesuaikan dengan waktu, kesempatan yang tepat atau dikendalikan sebagai energi untuk bekerja lebih bagus lagi.

Anah lajnah :
Bekerja lebih bagus,  maksudnya apa abah ?

Abah nata :
Berupayalah  menghindari marah. Agar keberhasilan dalam apa saja. Dalam memimpin pekerjaan misalnya, kemajuan semua orang itu,  bukan karena marah. 

Tetapi memang kita bangun sebuah budaya untuk menciptakan kesadaran setiap orang, untuk bisa bekerja dengan apa yang jadi tanggungjawabnya. Harus dipastikan bahwa semua informasi,  komunikasi,  prosedur,  kehatihatian, kontrol dan lain sebagainya. 

Sudah kita jalankan secara benar, masif dan terstruktur. Jika pekerjaan seperti ini,  kita budayakan dan bisa menciptakan lingkungan dimana saja kita berada. Pasti marah-marah sudah tidak diperlukan lagi. 

Setiap masalah harus jadi solusi kebaikan. Bukan menjadi sebab seseorang terpuruk dalam emosi marah atau dimarahi. Yang semua orang sangat tidak menyukai dan membuat tidak nyaman suasana.

Anah lajnah :
Iyah abah......!

Abah nata :
Satu hal lagi anah, kalau mau dibilang kerugian dari marah-marah.  Adalah hancurnya pola keteladanan anah,  karena jika marah ini jadi pola sukses instan.  

Maka akan ditiru banyak orang.  Jadi alangkah eloknya jika mata rantai marah-marah ini, diganti dengan pola kerja yang lebih hebat lagi. Sehingga kalau pun ada kesalahan misalnya, menjadi sebab lahirnya banyak solusi kebaikan.

(kata abah nata)