Mohon tunggu...
Abdillah Toha
Abdillah Toha Mohon Tunggu...

Lahir di Solo

Selanjutnya

Tutup

Politik

Anies yang Halus dan Ahok yang Keras

12 Oktober 2016   14:02 Diperbarui: 12 Oktober 2016   14:23 627 1 2 Mohon Tunggu...

Ketika saya memoderasi suatu temu wicara dengan Anies Baswedan yang dihadiri lebih 50 orang beberapa hari yang lalu, saya membuka dengan menyampaikan beberapa hal, mewakili yang sering menjadi pertanyaan di benak publik. Salah satunya ini. Pak Anies yang  cendekiawan, pendidik, halus budi bahasanya, santun, dan selalu senyum, apakah bisa dan berani menghadapi Jakarta yang keras, yang banyak preman dan mafianya, belum lagi orang-orang kaya dan berpangkat yang punya akses kepada kekuasaan tertinggi.

Sambil bercanda saya sarankan, apa Anies perlu mengurangi senyumnya supaya terkesan lebih galak seperti Ahok dan Ali Sadikin? Anies yang diharapkan oleh banyak pihak sebagai pemimpin masa depan dengan karier politik yang cerah, apa tidak salah pilih memulainya dengan bertanding untuk menjadi gubernur DKI yang sudah dikangkangi Ahok?

Ketika memulai ujarannya, Anies dengan ringan merespon pertanyaan itu dengan bertanya balik. Apakah pak Harto yang dikenal sebagai the smiling general, yang selalu senyum pada setiap saat, bahkan ketika mengancam akan menggebuk lawan-lawannya, apakah dia orang yang tidak tegas? Sejarah membuktikan sebaliknya. Tahukah anda bahwa Jenderal Sudirman yang gagah berani itu dan sukses memimpin perjuangan bersenjata melawan Belanda adalah orang yang sangat santun dan hanya berlatang belakang seorang guru, kata Anies.

Kalau mau ditambah, dan ini bukan dari Anies, barangkali masih banyak contoh lain. Jokowi umpamanya. Halus, pengusaha mebel yang sebelum jadi walikota Solo belum banyak dikenal. Bukan kader politik dan bukan selebritas yang banyak penggemarnya tapi bisa terpilih dua kali dalam pemilihan walikota Solo dengan suara melimpah, memenangkan pilkada DKI yang menegangkan dan yang kemudian membawanya ke tingkat kekuasaan tertinggi sebagai presiden RI dengan mengalahkan tokoh yang sudah banyak makan garam politik. 

Sebaliknya, Ahok, begitu pula Rismaharini walikota Surabaya yang sukses membangun kota Surabaya, dikenal tegas, keras, bahkan dianggap galak, serta tidak mau berkompromi dalam hal-hal prinsipil yang diyakininya. Kata-katanya langsung, tidak jarang keras dan mengejutkan telinga yang mendengarnya. Ahok adalah pemimpin yang tidak sabaran. Dia tidak tahan melihat bawahannya yang lemot dan bermain-main dengan tugasnya. Cara Ahok memang terasa hasilnya. Jakarta yang ketinggalan jauh dari kota-kota besar di Asia tenggara dalam banya hal, mulai tampak lebih tertib dan mengarah ke kemajuan. Namun di sisi lain, sebagai manajer Jakarta dia terus menerus menambah musuh baru. Baik di dalam lingkungan pemerintah DKI maupun diluarnya.

Ahok bukan hanya keras tetapi dia juga memberikan insentif kepada bawahan yang benar kerjanya. Dibawah dia, gaji camat, lurah, sampai tukang sapu jalan dinaikkan berlipat ganda. Namun dia tidak segan memecat bawahan yang tidak disiplin. 

Pertanyaannya, cara pendekatan mana yang lebih efektif?  Apakah tegas itu harus keras? Ataukah ada anggapan bahwa di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, orang hanya bisa menangkap bahasa yang keras untuk mematuhi peraturan? Ataukah, seperti pendapat Anies bahwa sikap keras menyebabkan disiplin karena takut, bukan karena kesadaran dan kecintaan terhadap tugas. Bawahan Gubernur akan senang bila jam kerja usai. Bila sistem kontrol tidak efektif, pimpinan akan sering menerima laporan bodong karena bawahan takut menyampaikan keadaan realita sebenarnya.

Anies berkeyakinan bahwa pemimpin bisa tegas tanpa harus keras dalam tutur kata dan sikap. Tegas artinya konsisten, lurus, dan berkomitmen untuk melaksanakan tugas, apapun rintangan yang dihadapi. Tegas berarti berani mengatakan tidak, apapun risikonya. Keras berarti tegas minus kepekaaan dan kepedulian terhadap perasaan pihak lain. Sebaliknya, santun yang berlebihan seringkali terlalu banyak mempertimbangkan perasaan orang lain sehingga bisa berakibat mengompromikan hal-hal yang prinsipil dan lambat mencapai tujuan. Mana yang lebih diperlukan oleh seorang pemimpin seperti gubernur DKI?

Sebagaimana pilihan-pilihan dilematis lain, solusinya selalu ada ditengah. Santun pada saat dan di tempat yang tepat serta keras pada saat dan tempat yang tepat. Kepada mereka yang cerdas dan cepat menangkap maksud instruksi, maka komunikasi dapat disampaikan dengan santun. Sebaliknya, ketika lawan bicara keras kepala, sulit menangkap maksud kita, dan mengulang terus kesalahan, maka hanya tegas dan keraslah yang bisa dipahami oleh obyek yang kita tuju. 

Tegas, keras, lembut, santun, sebenarnya adalah gaya memimpin. Bukan tehnik memimpin yang bisa diajarkan di sekolah. Gaya memimpin biasanya berkaitan dengan karakter bawaan seseorang. Memimpin adalah mengajak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama. Pertama yang harus disepakati adalah tujuannya. Kemudian cara pencapaian tujuan itu juga harus meninggalkan sesedikit mungkin korban. Yang didahulukan adalah memotivasi, menginspirasi, dan memberikan teladan. Namun, jika masih gagal maka pendekatan tegas dan keras kadangkala memang diperlukan tanpa harus melanggar hukum dan norma masyarakat.

Pilkada Jakarta yang mulai memanas ini harus kita jaga bersama. Mari kita memilih yang menurut pandangan rasional kita akan menjadi pemimpin yang paling efektif, tanpa harus mengorbankan kedamaian dan kerukunan sesama saudara sebangsa.

AT - 12-10-2016 iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

VIDEO PILIHAN