Abul Muamar
Abul Muamar editor dan penulis lepas

Editor dan penulis serabutan. Suka menyimak gerak-gerik hewan.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Belajar Filsafat Setengah-setengah, Apa Salahnya?

12 Januari 2019   23:23 Diperbarui: 13 Januari 2019   01:03 155 2 0

Ketika dilahirkan ke dunia, di samping tak pernah puas, kita manusia sepertinya juga diberi sifat untuk mudah sepele terhadap orang lain. Tak terkecuali dalam soal-soal perolehan ilmu pengetahuan; kita acap merasa lebih unggul, dan meremehkan pengetahuan yang orang lain miliki.

Saya menyadari hal ini ketika seorang teman, melalui pesan WhatsApp, berkeluh kesah tentang sahabatnya yang belakangan mulai meninggalkan ibadah, mempertanyakan keberadaan Tuhan, dan mulai tak memercayai agama. Semua itu, menurut kesimpulan teman saya, merupakan akibat dari belajar filsafat setengah-setengah.

Maksud hati ingin bertanya kepadanya, "Setengah-setengah bagaimana?", tapi lekas saya urungkan karena tudingan demikian sudah sangat sering saya dengar dari orang-orang. Karena itu, saya bisa mafhum apa yang dia maksud dengan 'setengah-setengah' tanpa perlu menanyakannya.

Ketimbang bertanya soal sejauh mana sahabat teman saya itu belajar filsafat, atau buku-buku apa saja yang sudah dia baca, saya lebih penasaran dengan keadaan yang bersangkutan. Maksud saya, bagaimana pemikirannya saat ini, untuk memastikan kondisi yang sesungguhnya. Kawan saya memberitahu bahwa sahabatnya itu sering menulis status di media sosial untuk mengekspresikan keraguannya atas ajaran agama. Setelah saya periksa, terakhir kali yang bersangkutan menuliskan status yang berbunyi seperti ini:

"Saya tidak percaya bahwa seseorang harus berdoa dengan cara tertentu lima kali dalam sehari. Saya tidak percaya bahwa seseorang harus berdoa tiap hari Minggu. Saya tidak percaya seseorang hanya diharuskan makan daging tertentu. Saya hanya percaya bahwa bila saya berlaku baik, maka saya akan diperlakukan dengan baik."

Ternyata, tidak ada sesuatu yang salah dengan sahabat teman saya itu. Atau setidaknya, menurut saya, tidak ada masalah yang perlu dibesar-besarkan dari gejolak batin yang tengah melandanya. Yang namanya orang belajar filsafat, terutama di fase-fase awal, pastilah mengalami hal demikian. Yang salah justru orang yang bereaksi terlalu berlebihan melihat orang dekatnya mengalami pergumulan spiritual seperti itu, lantas dengan simpelnya menyimpulkan "akibat belajar filsafat setengah-setengah". Untung saja tidak bilang "akibat kebanyakan makan tempe setipis ATM".

Come on, Kawan, sampean tidak perlu cemas berlebihan seperti itu. Tidak perlu juga sampai kepikiran kalau-kalau sahabat sampean bakal menjadi ateis. Perlu sampean tahu, secara naluriah, sesungguhnya tidak ada satupun makhluk hidup di alam semesta ini, apalagi manusia, yang tidak mengakui keberadaan Tuhan, sekalipun mulutnya mengucapkan "Aku ateis!".

Maka dari itu perlu sampean bedakan, mana keraguan akan keberaaan Tuhan dan mana keraguan akan agama. Itulah mengapa sebelum ada agama-agama mayor yang hari ini dianut miliaran umat, manusia pada zaman dahulu juga sudah memiliki cara-cara peribadatan sendiri sebagai bentuk keyakinannya atas keberadaan Sang-Penggerak-Yang-Tak-Digerakkan. Animisme-dinamisme adalah salah satu yang paling kita kenal.

Secara umum, maksud dari frasa 'belajar setengah-setengah' yang sering dilontarkan orang-orang, bisa dipahami antara lain sebagai 'belajar secara dangkal', 'belajar hanya permukaannya saja', atau 'baru membaca beberapa buku saja'.

Tapi persoalannya, apakah 'belajar setengah-setengah' itu sungguh-sungguh hal yang salah? Salahkah kita jika hanya mempelajari sesuatu sekelumit saja? Salahkah kita bila belajar filsafat hanya baca karya Plato dan Aritoteles, atau Descartes dan Derrida saja? Salahkah kita jika belajar sepakbola hanya tahu cara membobol gawang saja? Salahkah daku jika mempelajarimu hanya dari kerlingan matamu saja? Eh~.

Maksud saya begini, memangnya apa jaminan kalau kita belajar sesuatu secara full (yang dilawankan dengan 'setengah-setengah' tadi), kita akan menjadi orang yang paling pintar dan tahu lagi bijaksana? Belajar filsafat, misalnya, apakah bisa dipastikan bahwa kita bakal menjadi filsuf sungguhan bila sudah khatam kaffah mempelajari seluruh pemikiran filsafat mulai dari Thales sampai yang kontemporer macam Jean Baudrillard dkk? Apakah ada garansi bahwa seseorang tidak akan terjebak pada kebenaran relatif dan tetap akan taat beragama bila belajar filsafatnya tidak setengah-setengah?

Ini bukan cuma soal belajar filsafat. Belajar jurnalistik, contoh lainnya. Apa iya, orang yang belajar seluk beluk peliputan, cara menulis berita hingga menulis features, lalu belajar teknik fotografi secara habis-habisan, dijamin bakal lebih jago dan sukses menjadi wartawan ketimbang orang yang cuma belajar jurnalistik hanya kulitnya saja? Sama juga halnya dengan belajar agama. Apa bisa dipastikan bahwa orang yang ilmu agamanya setinggi langit ke tujuh bakal menjadi hamba Allah yang lebih baik dibanding orang yang tahunya cuma cara berwudhu dan salat dan bersedekah? 

Tesis ini berlaku, terutama jika definisi belajar hanya sebatas pada tataran membaca teks dan mengamalkannya. Tentu saja ini tidak berlaku jika definisi belajar diperluas ke ranah praktik dan perolehan pengalaman.

Saya tentu tidak menafikan bahwa orang yang belajarnya sudah dalam dan jauh, tentu rata-rata (kalau bukan semuanya) lebih pintar dan tahu dibanding yang hanya belajar sekelumit, dan karena itu pemikiran-pemikirannya lebih pantas dijadikan rujukan. Orang yang belajarnya sudah sampai S3, misalnya, tentu lebih berhak, eh lebih pantas, donk, untuk jadi dosen dibanding mereka yang cuma S1, apalagi mereka yang cuma belajar dari membaca segelintir buku saja.

Akan tetapi, sinisme terhadap orang-orang yang 'belajar setengah-setengah' ini terkadang kelewat kejam. Mereka yang sinis itu nggak pernah berpikir apa, misalnya, barangkali orang yang mereka sinisi itu tak punya banyak waktu luang untuk belajar, atau mereka tak mampu untuk membeli buku lebih banyak. Alhasil, sebagai akibatnya, alih-alih mendorong mereka untuk terus belajar, sikap kita yang demikian justru dapat membunuh semangat mereka.

Oke. Taruhlah bahwa banyak dari mereka yang belajar setengah-setengah itu murni karena malas, lalu dengan ilmunya yang cetek itu lantas kemaruk dan berkoar-koar ini-itu. Misalnya seperti sahabat kawan saya tadi, yang baru belajar filsafat sedikit saja sudah penuh semangat mempertanyakan keberadaan Tuhan dan meragukan kewajiban beribadah. Tapi, seberapa banyak orang yang seperti itu? Sementara orang-orang seperti itu cuma sedikit jumlahnya, kita yang merasa belajarnya sudah full justru lebih cepat gegabah dan mudah sekali menuduh, "halah, cuma belajar setengah-setengah!".

Orang-orang sinis itu lupa satu hal, bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar dapat kita ketahui kebenarannya secara mutlak, kecuali bahwa apa yang kita anggap benar, hanyalah benar dalam koridor kehidupan kita sebagai manusia semata, oleh konsensus kita secara universal. Kalau dalam bahasanya Immanuel Kant, hanya benar dalam ruang fenomena. 2+2=4 yang bagi kita benar, belum tentu benar dan sangat mungkin keliru di ruang nomena, di hadapan Yang Maha Benar, yang tak terjangkau oleh kita.

Dari situ mestinya kita sadar, bahwa tak ada sesuatu apapun yang bisa kita pelajari secara paripurna dalam hidup ini, dan oleh karena itu, kita tidak latah meremehkan orang-orang yang belajarnya 'setengah-setengah' tadi.

Socrates saja, filsuf yang konon orangnya ganteng dan bijaksana itu, mengakui bahwa, "tidak ada yang aku ketahui, kecuali bahwa aku tahu aku tidak tahu apa-apa."