Lukmanul Hakim
Lukmanul Hakim Jurnalis Warga (JW) cbmnews.net, Divisi OSDM Panwascam Larangan, Koord. JW Belik Kab. Pemalang

Menulis untuk Perubahan - Jangan Pernah Berhenti untuk Belajar - Selalu Semangat dan Berkarya melalui ide dan gagasan yang dituangkan dalam tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Ke Gontor, Apa yang Kau Cari?

10 Agustus 2018   17:40 Diperbarui: 10 Agustus 2018   17:43 778 3 0
Ke Gontor, Apa yang Kau Cari?
Dokumentasi Pribadi

Menjadi santri merupakan kebahagiaan tersendiri, itu yang penulis rasakan tatkala memposisikan diri seolah-olah adalah santri. Dunia Pesantren merupakan dunia yang penuh dengan berbagai pengalaman yang kompleks. 

Ada kekecewaan mendalam, saat muda dulu tidak mengenyam pendidikan di Pesantren. Pesantren yang dahulu seolah dipandang sebelah mata, hanya lingkup keagamaan saja, namun saat ini Pesantren sudah modern menatap kondisi masyarakat yang modern dan terbarukan.

Kedisiplinan dan keahlian yang dimiliki oleh santri sudah teruji, karena sudah terbiasa dengan gemblengan dan pembinaan setiap hari. Pembelajaran yang didapatkan santri dulu dengan santri modern ada sedikit perubahan, meski tetap menjaga agar santri tidak mudah mengakses dengan dunia sekitar. 

Sehingga, santri merasa "dipingit", tak mudah berkomunikasi karena awal-awal sebagai santri dan belajar untuk beberapa tahun dilarang memegang alat komunikasi.

Penulis sedang berbicara, situasi di Pondok Pesantren Moder Darussalam Gontor, dalam berkomunikasi, pihak Gontor menyediakan semacam Warung Telepon (Wartel) dengan menyediakan komunikasi berbagai layananan KOmunikasi dari XL, Indosat, Telkomsel, AXIS, 3 dan lainnya. Tentu tujuannya agar santri lebih fokus dalam belajar dan lebih disiplin di dalam aktifitas sehari-hari.

Sejarah Gontor

Seperti dilansir oleh media gontor.ac.id, perjalanan panjang Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18. Pondok Tegalsari sebagai cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Bashari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di pondok ini. Saat pondok tersebut dipimpin oleh Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. 

Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang padanya. Maka setelah santri Sultan Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia dinikahkan dengan putri Kyai dan diberi kepercayaan untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor.

Gontor adalah sebuah tempat yang terletak lebih kurang 3 km sebelah timur Tegalsari dan 11 km ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu, Gontor masih merupakan kawasan hutan yang belum banyak didatangi orang. Bahkan hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun bahkan pemabuk.

Dengan bekal awal 40 santri, Pondok Gontor yang didirikan oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini terus berkembang dengan pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putera beliau yang bernama Kyai Anom Besari. Ketika Kyai Anom Besari wafat, Pondok diteruskan oleh generasi ketiga dari pendiri Gontor Lama dengan pimpinan Kyai Santoso Anom Besari.

Setelah perjalanan panjang tersebut, tibalah masa bagi generasi keempat. Tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menuntut ilmu ke berbagai lembaga pendidikan dan pesantren, dan kemudian kembali ke Gontor untuk meningkatkan mutu pendidikan di Pondok Gontor. Mereka adalah;

  • KH. Ahmad Sahal (1901-1977)
  • KH. Zainuddin Fanani (1908-1967)
  • KH. Imam Zarkasyi (1910-1985)

Mereka memperbaharui sistem pendidikan di Gontor dan mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi. Pada saat itu, jenjang pendidikan dasar dimulai dengan nama Tarbiyatul Athfal

Kemudian, pada 19 Desember 1936 yang bertepatan dengan 5 Syawwal 1355, didirikanlah Kulliyatu-l-Muallimin al-Islamiyah, yang program pendidikannya diselenggarakan selama enam tahun, setingkat dengan jenjang pendidikan menengah.

Dalam perjalanannya, sebuah perguruan tinggi bernama Perguruan Tinggi Darussalam (PTD) didirikan pada 17 November 1963 yang bertepatan dengan 1 Rajab 1383. Nama PTD ini kemudian berganti menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD), yang selanjutnya berganti menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID). 

Saat ini ISID memiliki tiga Fakultas: Fakultas Tarbiyah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Arab, FakultasUshuluddin dengan jurusan Perbandingan Agama, dan Akidah dan Filsafat, dan Fakultas Syariah dengan jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum, dan jurusan Manajemen Lembaga Keuangan Islam. Sejak tahun 1996 ISID telah memiliki kampus sendiri di Demangan, Siman, Ponorogo.

Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo saat ini dipimpin oleh:

KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi
KH. Hasan Abdullah Sahal
KH. Syamsul Hadi Abdan

UNIDA, Kampus Gontor

Penulis sedikit berbagi info, bahwa UNIDA sebelumnya bernama ISID . Seiring berkembangnya jumlah mahasiswa dan peningkatan kualitas serta perlengkapan pembelajaran, berubah menjadi Universitas Darussalam. Mahasiswa nya mayoritas dari lulusan Santri Gontor yang usah menempuh Kuliyatul Muallimin Al Islamiyah (KMI). 

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Penulis menghadiri acara Wisuda UNIDA Gontor, sangat mengharukan karena ada pemandangan menarik, seorang Bapak dari cilacap menaiki sepeda menuju Gontor menghadiri anaknya yang diwisuda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2