Lukmanul Hakim
Lukmanul Hakim Jurnalis Warga (JW) cbmnews.net, Divisi OSDM Panwascam Larangan, Koord. JW Belik Kab. Pemalang

Menulis untuk Perubahan - Jangan Pernah Berhenti untuk Belajar - Selalu Semangat dan Berkarya melalui ide dan gagasan yang dituangkan dalam tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Travel-story Pilihan

Masjid Istiqlal Terlihat dari Lantai 18 Hotel Alila

17 April 2018   06:32 Diperbarui: 17 April 2018   08:15 1284 2 0
Masjid Istiqlal Terlihat dari Lantai 18 Hotel Alila
Dokpri

Sobat Kompasiana...kali ini penulis berada di Jakarta tepatnya di Hotel Alila Jl. Pacenongan Gambir Jakarta Pusat. Penulis berangkat bersama dua sahabat, mas Adi dan Eko. Kita mewakili Jawa Tengah untuk mengikuti kegiatan dari The Asia Foundation (TAF).

Start dari rumah ( jl. Merpati 6 dukuh Lamaran Desa Sitanggal Kec. Larangan Kabupaten Brebes) pukul 03.00 pagi dengan menggunakan motor Supra fit menuju stasiun Tegal.

Penulis sempat mengalami masalah yang bisa menghambat perjalanan, saat di terowongan jalan tol Wanasari, pas ban sepeda motor masuk lubang kecil. Ternyata kunci motor lepas. Sehingga menyita waktu untuk mencari. Bolak balik tidak ketenu, padahal masih 1/4 perjalanan. Akhirnya penulis harus kembali ke rumah untuk menukar motor. Meskipun tidak ada kunci, motor honda itu masih bisa dioperasikan. Sehingga akhirnya sampai ke rumah dan penulis menggantinya dengan motor honda beat.

Perjalanan kembali dari rumah sembari melihat sekeliling jalan barangkali melihat kunci yang terjatuh. Yang membuat sesal, di gantungan kunci bersamaan dengan flasdisk 32 GB. Banyak data penting yang tersimpan.

Mungkin sudah jodohnya, ketika kembali melewati terowongan rol Wanasari-Brebes, penulis menemukan kunci dan flasdisk yang sebagian rusak akibat terlindas kendaraan lain.

kondisi kunci motor dan flasdisk ketemu di jalan
kondisi kunci motor dan flasdisk ketemu di jalan
Perjalanan menuju ke Tegal, sampai pukul 04.45 WIB dan menuju penitipan motor terlebih dahulu di samping Stasiun Tegal. Nitip selama 5 hari, diambil hari Jumat, 20 April 2018. Penitipan selama 5 hari membayar Rp. 40.000

bukti pembayaran penitipan motor
bukti pembayaran penitipan motor
Meskipun di stasiun ada penitipan motor, namun berbeda tempatnya. Kalau di penitipan samping stasiun, motor bisa ditempatkan di dalam ruangan tertutup, sehingga aman dari hujan dan panas.

Lalu ke stasiun Tegal dan menuju ruang tunggu dan bergantian dengan teman untuk melaksanakan sholat Subuh. Menunggu kereta api Eksekutif SEMBRANI Tambahan yang sesuai jadwal pukul 05.25 WIB. Tiket tinggal di print, karena sebelumnya sudah dibayarkan dari pihak TAF untuk 3 orang.

boarding pass tiket KAI Eksekutif SEMBRANI Tambahan
boarding pass tiket KAI Eksekutif SEMBRANI Tambahan
Sesampai di Stasiun Gambir pukul 09.35, kita bertiga menuju tempat untuk Sarapan pagi di SOLARIA, memesan makanan dan minuman. Untuk kali ini, penulis memilih Nasi Goreng Kambing. Dengan porsi besar membuat perut menjadi kenyang.

20180416-100211-5ad52d65dd0fa8384f204f53.jpg
20180416-100211-5ad52d65dd0fa8384f204f53.jpg
Seusai makan, langsung memesan Go-Car, fasilitas dari GoJek melalui Aplikasi Android yang tersedia di smartphone milik mas Adi. Kondisi HP penulis mengalami drop, lupa tidak sempat di cas saat perjalanan di KAI.

Naik Go-Car dengan perjalanan menuju Hotel ALila Jl. Pacenongan Gambir dengan biaya 14.000, sebetulnya di harga 10 ribu. Kami langsung ke ruang recepsionist dan check in. Ternyata kita bertiga dari Jawa Tengah kamarnya terpisah ( penulis, ms Adi, Eko), untuk penulis satu kamar dengan Hafidz dari NTB.

Sangat menarik, saat berada di ruangan kamar 9 lantai 18, terlihat dari ketinggian kondisi Masjid Istiqlal. Sebelumnya, hanya melihat di TV atau gambar saja, sekarang bisa menyaksikan langsung bentuk Masjid Istiqlal.

Menurut media Wikipedia, Masjid Istiqlal  (arti harfiah: Masjid Merdeka) adalah masjid nasional negara Republik Indonesia yang terletak di bekas Taman Wilhelmina, di Timur Laut Lapangan Medan Merdeka yang di tengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas), di pusat ibukota Jakarta. Di seberang Timur masjid ini berdiri Gereja Katedral Jakarta. Imam besarnya adalah Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A. dan Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal sekarang adalah K.H. Muhammad Muzammil Basyuni.[5][6]

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno. Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1951. Arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan.

Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Bangunan utama itu dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut Selatan selasar masjid. Masjid ini mampu menampung lebih dari 200.000 jamaah.

Sangat indah bila terlihat dari jauh, penulis mencoba zoom atau perbesar mengambil gambar Masjid Istiqlal dan hasilnya seperti dibawah ini

20180417-062546-5ad5304edd0fa8384d3aa2e2.jpg
20180417-062546-5ad5304edd0fa8384d3aa2e2.jpg